Konten dari Pengguna

Perkembangan Seijin Shiki : Analisis Perbedaan di Era Masa Lalu dan Masa Kini

Ratna Indra Sari

Ratna Indra Sari

Mahasiswa Studi Kejepangan Universitas Airlangga

·waktu baca 6 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Ratna Indra Sari tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi orang Jepang memakai kimono. Foto : Pixabay
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi orang Jepang memakai kimono. Foto : Pixabay

Budaya Jepang merupakan salah satu hal yang menarik untuk dibahas, sebab keunikan yang terdapat dalam budaya itu sendiri. Budaya-budaya yang berasal dari masa lalu itu masih dilestarikan hingga kini. Salah satunya ialah upacara kedewasaan yang disebut dengan Seijin Shiki yang telah ada sejak zaman Nara. Namun waktu terus berjalan melalui perkembangan zaman menyebabkan budaya yang ada di masa lalu bisa saja mengalami perubahan mengikuti alur zaman masa kini. Lalu bagaimanakah Seijin shiki di masa lalu dan masa modern ini, apakah keduanya memiliki perbedaan?

Dilansir dari artikel ‘Seijin no Hi – Japan’s Coming of Age Day oleh Alexander Brow dari Tokyoesque, Seijin Shiki adalah upacara kedewasaan yang dilaksanakan tanggal 15 Januari setiap tahunnya. Upacara ini diperingati untuk mereka yang telah mencapai usia 20 tahun. Meskipun secara tradisional upacara ini diperuntukkan bagi orang yang berumur 20 tahun, kini upacara tersebut diturunkan menjadi 18 tahun.

Tradisi seijin shiki merupakan ritual lama berasal dari dinasti Tang yang kemudian di perkenalkan ke Jepang pada zaman Nara (710 M-794 M). Pada masa itu belum digunakan istilah seijin shiki melainkan Genpuku (元服) atau Mogi (裳着). Pada zaman Nara hingga Heian, Genpuku atau Mogi hanya dilakukan oleh keluarga kekaisaran dan bangsawan. Upacara ini dilaksanakan ketika anak sudah mencapai usia 12 -16 tahun.

Genpuku

Kata Genpuku sendiri berasal dari kanji gen (元) yang berarti ‘leher’ atau ‘kepala’ dan puku (服) yang berarti ‘memakai. Kata ini merujuk pada sebuah mahkota tradisional Jepang yang bernama Eboshi (烏帽子) sebagai penanda kedewasaan masa itu. Genpuku adalah istilah upacara kedewasaan yang dilakukan oleh anak laki-laki. Upacara genpuku dimulai dari anak laki-laki yang mengenakan pakaian dewasa dan menata gaya rambut dengan gaya rambut dewasa sebagai penunjuk telah berada di usia dewasa, selain itu mereka akan menggunakan sebuah topi yang dinamakan eboshi.

Pada masa samurai, genpuku yang dilakukan oleh keluarga samurai dilakukan dengan melepaskan nama kecil mereka dan diberi nama samurai. Terdapat perbedaam antara bangsawan dan samurai biasa saat melakukan genpuku. Bangsawan mengenakan mahkota, sedangkan samurai biasa mengenakan eboshi. Namun sejak periode Muromachi (1333 M-1573 M) samurai mulai menggunakkan mahkota rambut. Pada zaman Edo rambut lurus menjadi populer dikalangan petani dan warga kota. Setelah itu gaya Chonmage pun dimulai. Chonmage ialah jenis potongan rambut tradisional Jepang yang sisi belakang panjang kemudian di ikat, dibagian tengah kepala dibiarkan botak.

Mogi

Istilah mogi digunakan untuk upacara kedewasaan anak perempuan, kata mogi berasal dari kanji mo (裳) yang memiliki arti ‘pakaian tradisional Jepang yang dikenakan wanita’ dan gi (着) yang berarti ‘memakai’. Kata mogi ini merujuk pada sebuah rok yang digunakan pada saat melakukan upacara kedewasaan. Sama seperti Genpuku, Mogi juga melakukan hal yang serupa. Para anak perempuan yang sudah mencapai usia 12-16 tahun mengenakan pakaian formal tradisional, Mogi, kemudian mengangkat rambut mereka hingga menunjukkan bahwa mereka telah menjadi wanita dewasa. Dengan dilakukannya mogi, berarti mereka merupakan gadis yang sudah siap untuk menikah. Mogi dilaksanakan tidak pada hari ulang tahun melainkan pada hari yang telah ditentukan oleh keluarga yang mana biasanya keluarga akan memilih hari yang memiliki tanda keberuntungan.

Setelah periode Edo, tidak ada lagi Mogi karena Genpuku telah mengambil alih. Para gadis melakukan upacara kedewasaan pada usia 18-20 tahun atau ketika mereka menikah. Pada masa ini mereka tidak lagi menggunakan Mogi melainkan kimono yang sederhana. Selain itu mereka tidak mengangkat rambut, tapi mengubahnya menjadi gaya rambut tradisional Jepang, kemudian mulai menggunakan riasan pada wajah dan mewarnai gigi menjadi hitam sebagai penunjuk belum menikah.

Seijin Shiki

Ilustrasi para gadis saat Seijin Shiki. Foto : istockphoto.

Selama itu upacara kedewasaan terus dijaga, meskipun mulai mengalami perubahan dan perkembangan sesuai zaman. Istilah Genpuku sebelumnya menjadi Seijin shiki yang berakar dari seinensai (青年債) yang merupakan perayakan upacara inisiasi untuk para pemuda di Perfektur Saitama pada 22 September 1946. Hal ini dilakukan untuk memberi semangat bagi generasi muda yang mengalami patah semangat kala itu. Kemudian pada 15 Januari 1948 ditetapkan sebagai hari libur dan dikenal dengan nama ‘Seijin no Hi’

Seperti yang telah penulis jelaskan diatas bahwa Seijin Shiki ini dilakukan pada tanggal 15 Januari setiap tahunnya, selain januari seijin shiki bisa dirayakan pada tanggal 1 April. Untuk perayaannya sendiri, tidak seperti di masa lalu yang hanya dilakukan oleh kaum bangsawan, pada masa kini upacara kedewasaan dilakukan secara serentak di seluruh Jepang oleh siapa saja yang menginjak usia 18-20 tahun.

Pakaian yang digunakan, pada saat seijin shiki di masa ini ialah anak laki-laki menggunakan pakaian tradisional Jepang yang bernama hakama (袴) sebuah pakaian tujuh lipatan yang diikat dari pinggang dan jatuh ke pergelangan kaki. Jenis hakama yang sering dipakai untuk seijin shiki ialah umanori (馬乗り) atau andon bakama (行灯袴). Sama seperti anak laki-laki, anak perempuan pun mengenakan pakaian tradisional Jepang, bedanya mereka menggunakan pakaian tradisional yang disebut dengan furisode. Furisode ialah jenis kimono berlengan panjang, kimono ini ialah kimono paling formal yang digunakan untuk wanita yang belum menikah. Perbedaan yang mencolok dari upacara kedewasaan zaman dahulu dan sekarang yang terletak pada pakaian ialah, pada masa kini bisa menggunakan pakaian selain pakaian tradisional Jepang. Umumnya memakai pakaian barat seperti setelan jas untuk laki-laki dan gaun formal untuk perempuan.

Selain pakaian, pada perayaan pun sedikit mengalami perubahan, yang mana pada zaman dahulu hanya mengganti pakaian dan mengubah tataan rambut saja. Di masa kini terdapat serangkaian acara yang harus dilakukan.

1. Mengunjungi kuil

Ilustastrasi orang-orang mengunjungi kuil. Foto : Pixabay

Mengunjungi kuil bagi orang Jepang sudah bukan hal yang asing lagi, karena setiap meminta kesehatan, keberuntungan, dan merayakan ritual mereka selalu datang ke kuil untuk berdoa. Tak terkecuali bagi para siswa, berhubung Seijin no Hi mendekati hari ujian, biasanya mereka berdoa meminta agar dipermudah dalam mengerjakan ujian.

2. Menghadiri upacara

Ilustrasi orang sedang berkumpul di aula. Foto : Pexels

Pejabat kota biasanya menyelenggarakan sebuah upacara yang dilakukan di kota masing-masing. Selain itu, biasanya beberapa pemerintah juga mengundang orang yang di hari itu sedang merayakan ulang tahun ke-20. Para peserta diharapkan untuk datang pada pukul 11:30 waktu Jepang di aula yang disediahkan oleh pejabat kota. Selain warga Jepang sendiri, upacara ini juga dapat dihadiri oleh orang asing. Upacara akan dimulai dengan pidato dan nasihat dari orang tua, setelah itu para peserta akan mendapat hadiah dan uang.

3. Makan malam bersama keluarga atau teman-teman

Ilustrasi makan bersama dengan teman. Foto : Pexels

Pada hari ini dijadikan sebagai momen yang berharga sehingga perlu diabadikan bersama dengan orang terdekat, apalagi biasanya pada saat ini bertemu dengan teman lama, sehingga bisa juga dijadikan sebagai reuni.

Seijin shiki, di era masa lalu dan masa kini memiliki banyak perbedaan dimulai dari penyebutan upacara kedewasaan itu sendiri yang mana pada zaman dahulu disebut dengan genpuku atau mogi dan pada masa kini ialah seijin shiki. Selanjutnya pakaian, pada zaman dulu menggunakan pakaian tradisional Jepang, untuk sekarang sudah diperbolehkan menggunakan pakaian modern berupa setelan jas dan gaun formal. Perbedaan yang terakhir ialah serangkaian acara yang ada, upacara kedewasaan di masa kini memiliki lebih banyak acara dibanding di masa lalu.

Sumber referensi :

Batino, K. M. (2019, Januari 30). SEIJIN NO HI : The Young Adult Men in Hakama and Coat and Tie.

Snoddy, S. W. (2013). Japan : Seijin & Identify. Digital WPI.

Alexander Brown, (2023, Januari 31). Seijin no hi – Japan’s Coming of Age Day. Tokyoesque. Diakses pada 31 Maret 2024.

https://tokyoesque.com/seijin-no-hi-japans-coming-of-age-day/

Seijin Shiki : Upacara Kedewasaan bagi Orang Jepang. Jwindindonesia.

Diakses pada 31 Maret 2024

https://jwindindonesia.com/index.php/2024/01/10/seijin-shiki/