Konten dari Pengguna

Ancaman Sampah Plastik di Lautan

isis Prianita

isis Prianita

Saya seorang jobseeker dan kebetulan mempunyai hobi menulis. Bagi saya menulis adalah mengutarakan isi kepala saya yang tidak bisa saya utarakan secara lisan. Tulisan juga sebagai salah satu metode saya dalam mempelajari banyak hal.

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari isis Prianita tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sejumlah anggota  Polair Polda NTB mengangkat sampah dari laut saat aksi bersih pantai di Tanjung Karang, Mataram, NTB, Kamis (21/2). Foto: ANTARA FOTO/Ahmad Subaidi
zoom-in-whitePerbesar
Sejumlah anggota Polair Polda NTB mengangkat sampah dari laut saat aksi bersih pantai di Tanjung Karang, Mataram, NTB, Kamis (21/2). Foto: ANTARA FOTO/Ahmad Subaidi

Sampah plastik telah menjadi ancaman serius bagi lingkungan di seluruh dunia, terutama di laut dan sungai. Menurut statistik, dunia menghasilkan 300 juta ton sampah setiap tahun, dan 8,8 juta ton di antaranya berakhir di perairan. Indonesia sendiri menghadapi tantangan besar, dengan timbunan sampah plastik mencapai 24.500 ton per hari atau 8,96 juta ton per tahun. Inisiatif untuk mengatasi masalah ini telah diambil oleh Asosiasi Pemerintah Daerah Kepulauan dan Pesisir Seluruh Indonesia (Aspeksindo).

Tidak hanya terfokus menyuarakan potensi wisata bahari kawasan tanpa rokok. Asosiasi Pemerintah Daerah Kepulauan dan Pesisir Seluruh Indonesia (Aspeksindo) dan Duta Maritim Indonesia ikut memperhatikan masalah sampah plastik yang ada di laut dengan menginisiasi berbagai program pengelolaan sampah dan edukasi masyarakat tentang pentingnya menjaga kebersihan laut. Melalui kolaborasi antara pemerintah daerah, komunitas lokal, dan sektor swasta, Aspeksindo mengajak banyak orang untuk berupaya mengurangi dampak negatif sampah plastik terhadap ekosistem laut yang berharga.

Namun, sulitnya proses peluruhan sampah plastik menjadi ancaman serius. Sampah plastik memerlukan waktu ratusan hingga ribuan tahun untuk terurai sepenuhnya, dan dalam prosesnya, menghasilkan mikroplastik yang berbahaya bagi hewan laut dan manusia. Ancaman terhadap keberlanjutan hayati laut, termasuk kepunahan spesies, menjadi semakin nyata.

Nelayan menyandarkan perahunya di bibir pantai yang dipenuhi sampah plastik di Desa Dadap, Indramayu, Jawa Barat. Foto: ANTARA FOTO/Dedhez Anggara

Indonesia sebagai negara kepulauan sangat rentan terhadap dampak sampah plastik. Para nelayan, yang merupakan bagian integral dari masyarakat, merasakan kerugian langsung akibat menurunnya populasi biota laut. Selain itu, polusi plastik juga mengancam sumber daya air bersih di sungai, berdampak pada kualitas air yang dikonsumsi manusia.

Dampak lebih jauh dari sampah plastik adalah perubahan iklim yang disebabkan oleh gas-gas berbahaya yang dihasilkan oleh sampah plastik. Emisi gas CO2 dan perubahan suhu yang diakibatkannya memperburuk situasi perubahan iklim global. Oleh karena itu, langkah-langkah berkelanjutan untuk mengurangi penggunaan plastik dan mengelola sampah dengan lebih baik sangatlah penting.

Masalah sampah plastik di laut dan sungai adalah ancaman serius bagi ekosistem dan kelangsungan hidup manusia. Aspeksindo, bersama dengan berbagai pihak terkait, telah berupaya untuk mengatasi dampak negatif sampah plastik dengan mengedukasi masyarakat dan melibatkan kolaborasi lintas sektor. Namun, kesadaran dan tindakan individu juga memiliki peran penting dalam mengurangi penumpukan sampah plastik dan melindungi lingkungan laut dan sungai kita.