Benarkah Kita Tak Akan Pernah Kehabisan Energi?

Saya adalah mahasiswa aktif di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Departemen Psikologi, Universitas Brawijaya. Saya memiliki minat mendalam pada studi perilaku dan dinamika sosial serta terlibat dalam berbagai kegiatan organisasi.
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Ismanadia Majid tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Di sepanjang sejarah, umat manusia telah memanfaatkan berbagai macam energi untuk bertahan hidup dan berkembang. Sedari dulu umat manusia telah mengetahui banyak cara efisien untuk memanfaatkan energi, hal ini membawa umat manusia pada banyak revolusi, misalnya revolusi industri. Revolusi revolusi tersebut telah memberi bukti bahwa tidak ada jumlah batas energi yang bisa kita manfaatkan. Sehingga ditemukan bahwa sebenarnya, penggunaan bahan mentah oleh manusia telah meningkat seiringan dengan meningkatnya ketersediaan bahan eksploitasi.

Sebelum revolusi industri, umat manusia memiliki pengetahuan yang terbatas terkait bagaimana cara mengubah satu jenis energi menjadi jenis energi lain. Umat manusia tidak menyadari bahwa sebenarnya alat pengubah tersebut ada dekat dengan kita. Tubuh manusia bermetabolisme dengan membakar bahan bakar organik berupa makanan dan mengubahnya menjadi energi yang dilepaskan dalam gerak otot, ini merupakan alat pengubah energi satu-satunya yang tersedia kala itu.
Tubuh manusia mendapatkan energi yang bersumber dari tumbuhan, tumbuhan memperoleh energi dari matahari, sehingga di sepanjang sejarahnya aktivitas manusia memperoleh bahan bakar dari energi surya yang ditangkap tumbuhan dan diubah menjadi tenaga otot. Jelaslah dunia tidak kekurangan energi, hanya sebagian kecil energi yang matahari pancarkan setiap hari, dan itu gratis. Semua aktivitas dan industri manusia hanya mengkonsumsi sekitar 500 eksa joule setiap tahunnya, ini setara dengan jumlah energi yang bumi terima dari matahari dalam hanya sembilan puluh menit saja, dan ini hanya bersumber dari energi surya.
Melihat kembali pada 300 tahun terakhir, umat manusia telah berhasil membuat miliaran kendaraan yang pastinya membutuhkan dan telah menghabiskan sumber-sumber energi dan bahan mentah yang tersedia dalam jumlah yang tak sedikit. Fakta yang terjadi justru berbanding terbalik, kenyataanya para kapitalis tidak kehilangan akal dalam menyiasati energi yang bisa dimanfaatkan, mereka berinvestasi pada laba produksi juga pada penelitian sains dan teknologi untuk menemukan cara-cara yang lebih efisien memanfaatkan sumber daya dan menemukan sumber energi yang sepenuhnya baru.
Berbagai penelitian di bidang sains dan teknologi telah menemukan banyak cara dan energi baru yang bisa dimanfaatkan. Semenjak umat manusia mengetahui cara mengubah satu jenis energi menjadi energi jenis lain, kita menjadi terobsesi dengan gagasan bahwa berbagai teknologi dapat digunakan untuk mengubah satu jenis energi menjadi jenis lain. Energi apapun bisa digunakan ketika ada teknologi dan mesin yang tepat untuk memanfaatkannya. Misalnya, pada saat ditemukan mesin uap di tambang Britania, umat manusia membawa mesin uap ini keluar dari tambang dan mulai menghubungkannya dengan berbagai jenis mesin yang berbeda. Umat manusia menghubungkannya dengan mesin pintal dan mesin pemisah bijih kapas yang berhasil merevolusi produksi kain, selain itu umat manusia menghubungkan mesin uap pada rangkaian gerbong yang berhasil melahirkan lokomotif.
Lantas mengapa kita takut akan kehabisan energi? Mengapa kita takut akan sesuatu yang berlimpah ruah?
Menurut penulis, ketakutan ini berakar dari beberapa hal:
Ketidaktahuan manusia untuk menggunakan, menemukan dan mengubah satu sumber energi sesuai dengan kebutuhan. Ketidaktahuan ini akan berdampak pada banyak hal, misalnya mengarah pada penyalahgunaan energi, pemborosan energi atau bahkan investasi yang tidak tepat. Akan tetapi, dengan kemajuan pengetahuan sekarang ini, ketidaktahuan dapat diatasi dengan penelitian dan pengembangan teknologi.
Ketergantungan pada satu energi tertentu, ini terjadi karena adanya kesalahpahaman tentang potensi energi tertentu sehingga kita terlalu fokus pada satu jenis energi saja dan mengabaikan potensi energi lainnya.
Daripada fokus akan kekhawatiran kekurangan energi, kita lebih baik fokus akan upaya meningkatkan pengetahuan dan keterampilan dalam mengelola energi secara efisien. Upaya ini mencakup investasi pada penelitian dan pengembangan teknologi, serta mengedukasi masyarakat terkait penggunaan energi yang bertanggung jawab.
Seperti samudra yang tak terbatas, energi menantikan kepandaian sebagai nahkoda yang bijak dalam pelayarannya.
Jelaslah kita tidak kekurangan energi, yang kurang dari kita umat manusia adalah pengetahuan. Pengetahuan untuk mencari dan mengelola energi yang tersedia. Menurut penulis, untuk meningkatkan pengetahuan umat manusia dapat dilakukan dengan beberapa langkah ini:
Meningkatkan awareness Masyarakat luas harus sadar akan hadirnya suatu energi tertentu. Sadar dalam artian, mengetahui manfaat dan bagaimana memanfaatkan sumber energi dengan benar. Upaya meningkatkan awareness dapat dilakukan dengan mengadakan kampanye publik melalui media massa, media sosial, atau mengadakan kegiatan langsung dengan topik seputar pemanfaatan energi.
Pemerintah dan masyarakat ikut andil dalam perkembangan teknologi Perkembangan teknologi mendukung inovasi banyak orang dalam pemanfaatan energi. Oleh karena itu, sudah selayaknya pemerintah atau masyarakat ikut andil dalam meningkatkan pendanaan atau paling tidaknya memberi dukungan pada penelitian dan pengembangan teknologi energi.
Keterlibatan seluruh aspek masyarakat Meningkatkan pengetahuan tentang energi merupakan upaya kolektif yang membutuhkan partisipasi aktif dari seluruh aspek masyarakat.
Pemerintah: Memiliki peran penting dalam merumuskan kebijakan, edukasi, dan regulasi terkait energi.
Lembaga Swadaya Masyarakat: Berperan dalam pemberian edukasi dan advokasi publik mengenai isu seputar energi.
Swasta: Berperan dalam berinvestasi di penelitian sains dan teknologi yang berperan dalam pengembangan energi.
Referensi
Harari, Y. N. (2015). Sapiens: A Brief History of Humankind. New York, NY: HarperCollins.
