Eksplorasi Lingkungan Rumah sebagai Media Belajar

Dosen Jurusan Pendidikan Luar Sekolah Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Padang
Tulisan dari ismaniar ismaniar tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Mendukung Kebijakan Merdeka Belajar Bagi Anak Usia Dini
Ketika suatu kebijakan sudah diumumkan untuk diimplementasikan. Langkah yang paling bijaksana dilakukan oleh berbagai pihak terkait adalah mencari berbagai metode dan strategi yang efektif dan efisien untuk mendukung terlaksananya kebijakan tersebut.
Begitu juga dengan kebijakan merdeka belajar. Terbukanya kesempatan bagi peserta didik untuk memilih antara sistem pembelajaran Luring, Daring atau blendit akan membawa konsekuensi pada semua pilihan.
Perkembangan situasi dan kondisi yang masih belum kondusif bagi perkembangan kesehatan anak, sudah barang tentu masih akan banyak orang tua yang mendukung anaknya untuk belajar secara daring atau belajar dari rumah.Pengalaman yang terjadi lebih kurang tiga semester yang lalu, terlihat banyak anak terutama anak prasekolah dan SD kelas awal yang belum optimal belajarnya selama belajar dari rumah.
Di antaranya karena kekurangsiapan berbagai pihak dalam mendukung proses pembelajaran dari rumah. Belajar dari pengalaman tersebut, kita berharap kegiatan merdeka belajar dengan beberapa pilihan di atas dapat lebih optimal pelaksanaannya ke depan.
Berbicara terkait pembelajaran buat anak-anak usia prasekolah, anak usia TK dan anak SD kelas awal, menurut organisasi internasional NAECY anak-anak pada usia tersebut masih tercakup kelompok anak usia dini. Salah satu hal penting yang perlu dipahami orang tua dan pendidik adalah Anak Usia Dini masih sangat membutuhkan dukungan media pembelajaran atau alat permainan edukatif dalam kegiatan pembelajaran.
Hal ini sejalan dengan pemikiran Piaget yang mengelompokkan tahap berpikir AUD, yang didominasi berada pada tahap Pra Operasional konkret. Pada tahapan tersebut kemampuan berpikir anak akan sangat terbantu sekali jika kegiatan pembelajaran di dukung dengan berbagai media pembelajaran yang dapat disentuh oleh panca indera anak.
Bagi pendidik di sekolah, pengetahuan terkait hal ini sudah tidak asing lagi, malah mereka sudah mampu menciptakan berbagai media belajar kreatif / alat permainan edukatif dari berbagai bahan yang bisa mendukung belajar anak di rumah. Namun sebaliknya bagi orang tua tua pengetahuan tentang hal ini masih bisa dikatakan cukup langka.
Tidak banyak orang tua yang memiliki pemahaman yang cukup dan dapat menciptakan media pembelajaran untuk mendukung belajar anaknya di rumah. Bahkan ketika dilakukan survei tentang hal ini tidak sedikit orang tua yang langsung panik saat dijelaskan pentingnya media untuk mendukung belajar anak. Apalagi banyak orang tua yang mengeluhkan bahwa media belajar untuk anak-anak kan harganya cukup mahal, sementara banyak keluarga yang kehilangan pekerjaan selama pandemi COVID-19 ini.
Pada kesempatan ini penulis ingin berbagi pengetahuan kepada semua pembaca terutama orang tua yang memiliki anak usia prasekolah atau SD kelas awal di rumah. Anggapan bahwa semua media untuk mendukung pembelajaran anak adalah mahal merupakan persepsi yang salah, karena jika orang tua memiliki pemahaman yang benar dan memiliki semangat untuk kreatif, maka semua yang ada di sekitar kita di rumah dapat dieksplorasi dan dijadikan sebagai media belajar untuk mendukung kegiatan belajar anak.
Semua perabotan rumah, peralatan dapur, perlengkapan mencuci, dan semua yang ada di pekarangan rumah seperti bunga, pot, teras, sapu bisa dijadikan media belajar bagi anak. Semua benda dan peralatan yang ada di dalam dan di luar lingkungan rumah dapat digunakan untuk mendukung pembelajaran anak pada berbagai mata pelajaran.
Contoh; jika kita sedang menstimulasi kemampuan membaca anak, maka tinggal kita tempelkan berbagai huruf atau kata sesuai dengan nama benda atau perabotan yang ada. Misalnya sapu ditempel dengan tulisan sapu, piring di tempel dengan tulisan piring, kursi ditempel dengan tulisan kursi, sehingga ketika anak bersentuhan dengan benda maka mereka juga secara tidak langsung familiar dengan huruf dan kata.
Contoh ini sudah penulis uji cobakan dalam sebuah penelitian dengan istilah model environmental Print berbasis keluarga. Hasil yang di dapatkan sangat efektif, terutama selama pandemic karena keberadaan orang tua yang lebih banyak di rumah ternyata bisa memberikan scaffolding bagi anak saat berinteraksi dengan benda dan tulisan yang ada.
Begitu juga dengan pengenalan warna, orang tua bisa memanfaatkan beraneka warna bunga yang ada di teras atau sekeliling pekarangan rumah, atau menggunakan beraneka warna peralatan masak yang ada di dapur. Media yang ada juga sangat sesuai digunakan untuk mendukung anak saat belajar matematika, seni, agama dan lain sebagainya.
Dari berbagai contoh di atas, maka kepada para pendidik terutama orang tua yang akan mendampingi anak-anak belajar di rumah, jangan lagi berpikir bahwa media pendukung belajar anak itu selalu mahal. Kita bisa gunakan semua benda yang ada di sekitar rumah yang penting kita punya niat dan semangat untuk mendukung anak-anak belajar. Selamat berkreativitas, semoga anak-anak kita menjadi generasi yang hebat. Tetaplah jadi orang tua yang tanggung walaupun kita berada di masa-masa sulit. Semoga Allah SWT memudahkan segala urusan kita.. AAmiin.
