Konten dari Pengguna

Strategi Orang Tua Mendidik Anak di Rumah Selama Pandemi

ismaniar ismaniar

ismaniar ismaniar

Dosen Jurusan Pendidikan Luar Sekolah Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Padang

·waktu baca 6 menit

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari ismaniar ismaniar tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Strategi orang tua mendidik anaknya di rumah selama pandemi, berbeda-beda. Beda Strateg.Be da Tingkat Penasaran melihat hasil yang dicapai. Setiap orang tua pastinya sangat menyayangi anak-anaknya. Mereka akan berupaya memberikan Pendidikan dan segala hal yang dipikir dapat membantu anak-anaknya dalam mempersiapkan diri meraih masa depan yang terbaik. Banyak factor yang menyebabkan strategi mendidik setiap orang tua berbeda, bisa karena pengalaman masa kecil yang didapatkan dari orangtuanya dulu, bisa karena factor Pendidikan yang sempat dikenyamnya/ ditempuhnya dan bisa juga factor lingkungan social budaya.

Seperti biasa setiap minggu, penulis mengantar anak bujang semata wayang pergi latihan karate di kompleks sebelah. Kalau tidak bareng dengan tetangga sebelah, ya penulis sendirilah yang mengantar, karena si bujang masih kelas satu SD dan baru terima rapor dan naik ke kelas 2 dan umurnya juga baru seminggu lagi genap 7 tahun. Suasana di tempat karate yang dilaksanakan di depan sekolah SD itu cukup ramai, anak-anak dengan berbagai kelompok umur larut dengan kegiatan latihan. Termasuk anak penulis, dia langsung bergabung dengan teman-temannya berlatih di bawah bimbingan kakak senior dan simpainya.

Latihan karate, mengajarkan anak sportivitas dan kemandirian dalam menjaga diri
zoom-in-whitePerbesar
Latihan karate, mengajarkan anak sportivitas dan kemandirian dalam menjaga diri

Di tepi halaman sekolah terlihat juga banyak orang dewasa duduk-duduk memperhatikan anak-anak yang sedang latihan. Penulis menduga itu pastinya orang tua dari anak-anak yang sedang latihan. Merasa canggung sendirian, penulis melihat di samping kiri duduk seorang wanita cantik seumuran penulis. Penulis tersenyum dan menyapanya.

Penulis: apakah ibu juga mengantar anaknya?

Ibu CSB (cantik setengah Baya) membalas tersenyum dan menjawab: Ya bum tapi dia baru kali pertama bergabung

Penulis: Ooo.. yang mana anak ibu?

Ibu CSB: Itu bu… yang masih memakai pakaian bebas

Penulis: Kalau anak saya, sudah beberapa kali sih gabung, tapi kemaren sempat terhenti karena bulan puasa libur dan disambut pula dengan mau ujian kenaikan kelas, jadi istirahat dulu. Khawatir dia kecapean

Ibu CSB: oh ya bu…gimana di sini peraturannya, apa anak ibu merasa enjoy?

Penulis: di sini kita bayar seharga, tapi itu untuk satu semester dan saya lihat anak senang. Dan pembicaraan kami pun mengalir dengan menyenangkan sambil saling tertawa sesekali.

Singkat cerita, tibalah topik kami terkait sekolah anak. Ternyata anak penulis dengan anak ibu CSB sekolah di tempat yang sama, tapi anak beliau sudah kelas 2 dan naik ke kelas 3. Pembicaraan beralih ke masalah penerimaan rapor kemaren.

Penulis; Ohya bu... bagaimana dengan hasil laporan belajar anak ibu kemaren, dapat rangking berapa di kelasnya..

Ibu CSB; ah masak pakai rangking….saya ngga tahu tuh…saya ngga lihat juga sich…

Penulis (ekspresi terkejut); Emang ibu ngga penasaran, dengan pencapaian anak ibu…. kalua saya mah penasaran banget bu… dan alhamdulillah anak saya masuk sepuluh besar.. dan saya sangat bangga….heheheh….I

bu CSB; ah saya emang ngga penasaran sich bu, karena selama proses pembelajaran di rumah, saya yang paling sering mengerjakan PR anak saya….ya kalua ngga saya minta kakaknya yang bantu bikinin...

Penulis (masih dengan ekspresi yang sama); Ooo gitu ya bu… kalau anak saya, memang dia yang ngerjain sendiri tugasnya, habis saya ngga sempat bu untuk mengerjakannya….itu saja anak saya seringkali mengerjakan tugasnya malam, karena saya juga harus bekerja mencari rejeki bu...…Saya setiap malam sempatkan mendampingi dia buat tugas-tugas yang diberikan gurunya…Walaupun saya harus mendampingi sambil bekerja juga sih…

Ibu CSB; Oooo....

Penulis; Ya itulah anak saya bu....dia baru mau mengerjakan tugasnya kalau saya ada duduk di sampingnya..., karena kami tinggal hanya berdua…Papinya tinggal beda kota, mencari rejeki....

Ibu CSB; anak saya mah engga bu, saya yang sering mengerjakan PRnya karena kalau saya terus minta dia mengerjakan dia bakal nangis. Malah saya juga ikutkan anak saya les privat khusus untuk membantu anak saya mengerjakan tugas-tugas sekolahnya…

Penulis: Oo gitu ya bu…makanya ibu ngga penasaran jadinya ya….ooo. Akhirnya pembicaraan kami terhenti karena anak-anak istirahat lahitah dan diperbolehkan minum dan makan snack dulu. Masing-masing kami beralih memperhatikan anak kami…

Dari pembicaraan penulis dengan Ibu CSB, menulis berpikir ternyata beda strategi kita dalam mendampingi anak saat belajar di rumah, berbeda pula tingkat keingintahuan kita terhadap hasil belajar anak di sekolah. Tapi penulis merasakan tingkat kepuasan yang cukup besar…saat melihat Laporan belajar anak penulis di sekolah. Meskipun dia bukan juara kelas, tapi dia masuk sepuluh besar. Apalagi saat penulis mengetahui dari guru kelasnya, penyebab perolehan anak penulis seperti itu,... ternyata karena dia selalu mengerjakan ujian lebih duluan dari teman-temannya. Dia selalu bersorak dengan gembira saat bisa selesai mengerjakan ujian paling duluan. Dia merasa bangga dan menang… Sementara anak-anak yang lain mengerjakan soal ujian setelah mendengarkan bu guru membacakan soal satu per satu….waktu mendapatkan laporan seperti itu dari gurunya, penulis hanya tertawa, memang sich anak penulis sejak di TK, sudah lancar membaca dan secara emosi dia belum cukup berkembang dengan baik, karakter anak-anak yang egoissentris masih sangat melekat padanya. Tapi dia sangat mandiri....Penulis memaklumi hal itu…

Penulis teringat dengan beberapa kejadian, saat penulis mendampingi dia belajar di rumah, terkadang penulis di buat kesal oleh tingkahnya. Saat itu dia ada PR membuat cerita pengalaman melihat pelangi…. Lalu dia bertanya,

Anak; MI….aku ndak tahu nich gimana kita menceritakan pengalaman melihat pelangi….cerita donk mi…. Penulis; ah masak ndak bisa, cerita ajalah sendiri… kan Haikal pernah melihat pelangi… Anak; tapi aku ndak bisa mi…ceritalah….please…

Penulis; waduh…katanya sudah besar masak ngga bisa,… dengar nich…misalnya… suatu pagi saya pergi jalan-jalan ke pantai dengan mami dan papiku…. Langit cerah dan kami bermain dengan air sepuasnya… tiba-tiba datang awan hitam seperti mau hujan…. Dan diantara cahaya matahari yang mulai hilang, saya melihat pelangi melengkung sangat indah….. begitu…. Sekarang coba Haikal tulis….

Anak; Ooo begitu, oke…

Biarkan anak berusaha mengerjakan tugas sekolahnya sendiri, tugas kita mendampingi dan memberi bantuan jika ada kendala.. bukan membuatkan tugasnya

Untuk beberapa waktu lamanya, dia pun larut dengan menulis karangannya, sementara penulis juga sibuk dengan tugas yang tidak pernah selesai… Setelah beberapa waktu dia sibuk menyelesaikan tugas mengarangnya, dia berteriak gembira…. Horeee selesai mi… aku bisa…. Penulis; wah hebatnya anak mami….sudah di tulis semuakah… coba bacakan…mami mau dengar (pinta penulis penasaran).

Anak (dengan ekspresi bangga); Suatu hari, saat itu sore… aku duduk di kursi teras……aku melihat….

Penulis (ekspresi heran); loh kok suatu sore…Kok di teras….kan mami tadi bilang suatu pagi di pantai…. Haikal ngga dengar ya….malas mami nich, haikal tidak menyimak (ekspresi kesal).

Anak (ekspresi sebal); mami ini aneh deh ini kan karangan aku….

Penulis; tapi kenapa tadi kamu minta mami yang ceritakan….

Anak; aku tadi kan ndak tahu cara buat karangan makanya aku tanya, tapi aku ndak ada lihat pelangi waktu kita main dengan papi ke pantai. Aku pernah lihat pelangi sore-sore loh mi. Waktu aku duduk teras nunggu teman aku nunggu teman aku mau main sepeda. Aku ngga bohong kok

.Penulis (tepok jidat): Haikal-Haikal

Anak: mami jangan marah, kan yang anak SD aku (sambil berlalu pergi)

Ternyata apa yang diceritakan bu guru hampir sama dengan yang pernah terjadi waktu itu.

Anakku, semoga menjadi anak yang Sholeh, Cerdas, Mandiri, Penuh percaya Diri dan Memiliki kepedulian kepada lingkungan. Amiin..

Penulis; Ismaniar

Pendidikan Luar Sekolah FIP

Universitas Negeri Padang