Konten dari Pengguna

RID & LAN RI: Membaca Dunia, Membentuk ASN Masa Depan

Ismi Imani

Ismi Imani

CPNS Widyaiswara Lembaga Administrasi Negara

·waktu baca 7 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Ismi Imani tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Oleh: Ismi Imani, S.Pd., M.Pd. - CPNS Widyaiswara Ahli Pertama Lembaga Administrasi Negara

Ilustrasi forum diplomasi internasional (sumber: canva)
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi forum diplomasi internasional (sumber: canva)

ASN Masa Depan Harus Pandai Membaca Dunia

Menuju 2045, Indonesia menargetkan diri sebagai negara maju dengan posisi ekonomi kelima terbesar di dunia. Target besar itu butuh satu bahan bakar utama yaitu SDM unggul, termasuk di dalamnya Aparatur Sipil Negara (ASN). Dan dalam dunia yang makin terkoneksi, kemampuan bahasa Inggris bukan lagi keunggulan tapi keharusan.

Namu realitasnya, kemampuan kunci yang seharusnya menopang peran strategis itu justru masih lemah: kemampuan bahasa Inggris masyarakat Indonesia berdasarkan data EF English Proficiency Index 2025 menduduki peringkat 80 dari 116 negara. Skor TOEFL rata-rata masyarakat Indonesia yang terdapat ASN juga di dalamnya masih di bawah 500. Selain itu, tingkat literasi membaca di Indonesia juga tergolong rendah. Berdasarkan survei internasional Programme for International Student Assessment tahun 2022, Indonesia memperoleh skor 348,6 dalam literasi membaca, menempatkannya di peringkat 73 dari 80 negara. Ini adalah tantangan besar, di tengah fakta bahwa Indonesia semakin aktif dalam forum-forum internasional seperti G20, ASEAN, hingga APEC.

Di sisi lain, tantangan geopolitik, teknologi, dan tata kelola pemerintahan menuntut ASN bukan hanya mampu bekerja administratif, tetapi menjadi problem solver, policy communicator, dan aktor diplomasi kebijakan. Untuk itu, dibutuhkan metode pengembangan kapasitas yang ringan, fleksibel, dan relevan dengan tantangan nyata.

RID: Inovasi Literasi Global untuk ASN

untuk menjawab tantangan tersebut, lahirlah konsep Reading Individual Dismantle (RID). Ini bukan pelatihan formal, bukan kursus mahal, dan bukan metode instan, tetapi metode belajar mandiri yang memadukan literasi bahasa inggris serta pemahaman kebijakan global.

Gambar 1 ilustrasi bacaan bahasa Inggris (sumber: canva)

RID tidak hanya menjadi metode untuk memperluas wawasan kebijakan global, tetapi juga ditujukan secara khusus untuk meningkatkan kompetensi bahasa Inggris dan mengoptimalkan budaya membaca ASN secara kontekstual. Dengan menjadikan dokumen kebijakan internasional sebagai bahan belajar, ASN secara alami akan terbiasa dengan struktur, kosakata, dan gaya komunikasi kebijakan dalam bahasa inggris. Kegiatan ini merupakan cara baru untuk belajar berbasis bacaan strategis dan refleksi diri. RID terdiri dari tiga langkah sederhana:

  1. Reading (Membaca Aktif): ASN membaca dokumen internasional (artikel jurnal, policy brief, berita internasional, laporan global).

  2. Dismantle (Pembongkaran Konseptual): ASN membongkar struktur kalimat, kosakata kunci, serta menyusun peta pemahaman atau rangkuman.

  3. Reframe (Penyusunan Ulang): ASN menyusun ulang informasi tersebut dalam konteks lokal, bisa dalam presentasi, memo kebijakan singkat, atau refleksi tertulis.

Dengan RID, ASN bukan hanya belajar bahasa, tapi juga belajar memahami dunia, menyerap ide-ide strategis, dan menyampaikannya ulang sesuai konteks Indonesia.

Mengapa Harus RID?

Karena RID adalah cara paling realistis dan kontekstual bagi ASN untuk berkembang, tanpa harus bergantung pada sistem pelatihan formal.

  1. Murah dan fleksibel: Cukup dokumen, gawai, dan kemauan belajar.

  2. Mandiri tapi berdampak: Tidak butuh pelatihan formal, tapi mendorong refleksi dan kompetensi nyata

  3. Langsung bisa diukur: Produk memo, presentasi, atau ringkasan sebagai bukti capaian.

  4. Kontekstual: bahan bacaan sesuai isu tugas masing-masing ASN.

  5. Efektif untuk peningkatan kemampuan bahasa Inggris dan optimalisasi budaya membaca ASN secara fungsional dan berbasis tugas.

Di tengah keterbatasan anggaran, waktu, dan akses pelatihan, RID adalah bentuk self-driven capacity building yang nyata.

LAN RI: Inisiator Strategis

LAN RI adalah lembaga yang memiliki mandat penuh dalam pengembangan kapasitas ASN secara nasional. Perpres No. 93 Tahun 2024 dengan tegas menempatkan LAN sebagai instansi teknis yang:

  1. Merumuskan kebijakan teknis pengembangan ASN.

  2. Melakukan pembinaan, penyelenggaraan, dan pengendalian pembelajaran ASN.

  3. Menyusun standar, prosedur, dan strategi pembelajaran ASN nasional.

Dengan RID, LAN bisa menjalankan fungsi-fungsi strategis tersebut secara ringan, cepat, dan berdampak. RID juga sejalan dengan nilai karakteristik LAN:

Bigger: Jangkauan lebih luas hingga internasional, membutuhkan ASN yang cakap bahasa global.

Smarter: Mendorong pembelajaran adaptif dan inovatif.

Better: Merespons kebutuhan ASN masa kini dengan solusi tepat guna.

RID adalah wujud nyata misi LAN sebagai lembaga Think-and-Do Tank Transformasi ASN. Ini adalah inovasi budaya belajar baru, yang bisa menyebar secara organik. LAN dapat memimpin perubahan mindset dan literasi birokrasi dengan:

  1. Menyusun panduan ringkas metode RID.

  2. Mengintegrasikan konsep RID ke knowledge sharing LAN RI.

  3. Mendorong ASN untuk membentuk reading circle informal.

Dengan begitu, LAN membentuk pola belajar yang berkelanjutan tanpa membebani ASN.

RID dalam Konteks Isu Strategis Nasional

Mengacu pada Rancangan Akhir RPJPN 2025-2045 dan Asta Cita Presiden, Indonesia dihadapkan pada:

  1. Rendahnya produktivitas karena kualitas SDM belum optimal.

  2. Lemahnya kemampuan literasi kebijakan dan diplomasi global.

  3. Tantangan geopolitik yang menuntut ASN sebagai aktor diplomasi dan negosiator kebijakan internasional.

RID hadir sebagai jawaban konkret terhadap tantangan ini. Ia mendorong:

  1. Literasi global ASN.

  2. Kompetensi membaca dan menganalisis informasi.

  3. Kesiapan ASN dalam forum internasional.

RID sebagai Prototipe Inovasi Masa Depan LAN

Dalam semangat menjadikan LAN sebagai Think-and-Do Tank, RID menjadi salah satu produk dari visi tersebut. Lewat RID, LAN membuktikan bahwa pendekatan non-konvensional, murah, dan ringan pun bisa menciptakan dampak perubahan perilaku belajar ASN. RID juga memberi LAN ruang untuk mengukur dampak inovasi secara kuantitatif (jumlah pengguna, produk memo, partisipasi ASN) maupun kualitatif (peningkatan pemahaman kebijakan global, kemampuan komunikasi internasional).

Langkah Strategis Menuju ASN Melek Global

Gagasan Reading Individual Dismantle (RID) adalah benih yang bila dirawat dengan konsisten dapat menjadi gerakan besar. Untuk memperkuat pengaruh RID dalam mendongkrak kemampuan bahasa Inggris ASN secara berkelanjutan dan menjadikannya sebagai bagian dari the Future of LAN, berikut langkah strategis yang dirancang bertahap menuju 2045:

Jangka Pendek (2025-2026): Langkah realistis

Membangun kesadaran dan praktik awal RID diawali dengan upaya mendorong kesadaran ASN bahwa kemampuan bahasa Inggris adalah kebutuhan, bukan pelengkap. Upaya ini dilakukan lewat:

  1. Meluncurkan ebook panduan “RID untuk ASN” : ringkas, ringan, dan aplikatif.

  2. Mengintegrasikan praktik RID di kanal media sosial LAN RI.

  3. Mengadakan #RIDChallenge ASN : mendorong ASN mempraktikkan dan mempublikasikan hasil RID.

  4. Pembentukan komunitas baca informal di tiap instansi.

Jangka Menengah (2027-2031): Memperluas dan memperdalam praktik belajar mandiri

memasuki fase ini, pendekatan RID diperkuat dengan:

  1. Adanya platform digital berbasis komunitas: ASN dapat berbagi hasil bacaan, refleksi, atau ringkasan kebijakan.

  2. Pengembangan kurasi bacaan internasional yang relevan: setiap sektor memiliki bahan bacaan yang kontekstual.

  3. Pemberian penghargaan non-formal sebagai pemantik semangat bagi instansi yang aktif melaksanakan kegiatan Reading Individual Dismantle.

Jangka Panjang (2032-2045): Menjadikan Literasi Global sebagai Budaya ASN

Pada tahap akhir, RID ditargetkan menjadi bagian dari kultur birokrasi pembelajar. Hasil RID seperti memo atau refleksi tak sekedar jadi arsip, tetapi bisa dilihat sebagai jejak intelektual ASN.

  1. Pengembangan platform digital lebih lanjut dengan teknologi buatan untuk merekomendasikan bacaan sesuai konteks pekerjaan ASN.

  2. RID tak menjadi beban, tetapi kebiasaan produktif untuk menghadapi tantangan global.

Semua langkah ini bisa dimulai tanpa revisi regulasi, tanpa pelatihan formal, serta tanpa biaya besar. Ini sejalan dengan transformasi ASN tahap awal dalam RPJPN 2025-2029 yang menekankan kualitas SDM dan kelembagaan adaptif.

Menyambut Indonesia Emas 2045

Untuk mencapai target Human Capital Index 0.73 di tahun 2045, Indonesia membutuhkan ASN yang tidak hanya kompeten secara teknis, tetapi juga memiliki keterampilan literasi global dan komunikasi internasional. Dalam konteks ini, RID menjadi salah satu solusi strategi untuk meningkatkan kapasitas bahasa Inggris ASN secara mandiri, kontekstual, dan berkelanjutan.

Jika semangat RID menyebar luas, Indonesia tidak hanya akan mencetak ASN mumpuni secara teknis, tetapi juga berwawasan global, reflektif, dan siap terlibat aktif dalam diplomasi kebijakan. Inilah jalan sunyi menuju Indonesia Emas: dari dokumen ke pemahaman, dari pemahaman ke pengaruh.

Penutup: Dari Membaca ke Mempengaruhi Dunia

Gambar 2 ilustrasi buku (sumber: canva)

Reading Individual Dismantle adalah jembatan strategis menuju masa depan ASN yang lebih kompeten dan adaptif. Ia tidak menggantikan pelatihan, tapi melengkapi dengan cara yang sederhana namun bermakna.

LAN RI adalah rumah terbaik untuk menginisiasi gerakan ini, bukan sebagai program formal, tapi sebagai budaya belajar baru. Budaya ASN yang tidak hanya bekerja, tapi terus belajar. Tidak hanya melayani, tapi juga memimpin narasi kebijakan.

Dari pelatihan menuju gerakan belajar. Dari lembaga ke ekosistem. Dari rutinitas ke transformasi. Transformasi besar bisa dimulai dari satu tindakan sederhana: membaca.