Saya Masih Menyesali Akan Sesuatu
Tulisan dari Isna Bahtiar tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Ceritanya sudah lama, tetapi sampai sekarang pun masih terasa: seharusnya tidak begitu. Sudah berbilang tahun peristiwa itu. Waktu itu saya ada kegiatan bersama anak-anak sekolah dasar yang terletak di Perbukitan Menoreh. Sekolah baru, lumayan banyak murid dasarnya. Walau di daerah gunung dan sulit dijangkau, ini bukan sekolah terpencil. Ke sana waktu itu sudah bisa bermobil. Ada satu jalan di depan sekolah terbuat dari cor-coran semen. Jalannya baru.
Saya datang ke sana untuk acara Gemarikan, kegiatan kampanye makan ikan, utamanya kepada anak-anak. Dan daerah gunung seperti sekolah ini bukan lokasi yang sering dikunjungi untuk kampanye makan ikan. Di gunung, orang jarang tertarik dengan ikan. Di lokasi semacam ini, dengan cara apa orang (dan tentu saja anak) bisa makan ikan? Kan tidak ada sungai besar. Sulit ikan kan daerah semacam itu? Bahkan, jika pun ada ikan, masihkah bisa menimbulkan minat anak-anak untuk makan ikan dari sana?
Saya ke sana karena undangan kepala sekolahnya untuk, "Cobalah membuat acara Gemarikan di sini, Pak. Untuk anak-anak gunung." Undangan yang cukup berani. Atau cukup strategis, mengupayakan makan ikan pada anak-anak yang tidak sering-sering amat melihat ikan. Mungkin tahu ikan, tetapi untuk memakannya?
Singkatnya, kami sampai ke sana. Besar ternyata sekolah itu. Cukup ramai ketika kami datang. Termasuk pula gerombolan penjual makanan asongan yang mangkal di tepi jalan di depan sekolah itu. Cilok sepertinya, aneka jajanan ringan, dan minuman es .
Dari gerbang sekolah, tempat gerombolan jajanan pasar, kami melaluinya. Kami diarahkan ke satu aula besar. Bukan aula sebagai satu ruangan besar khusus untuk jamuan atau pertemuan banyak orang. Ini adalah gabungan dua ruang kelas yang dibuka bersama sehingga menjadi satu ruangan besar. Inovasi ruang seperti ini masih sering ditemukan di sekolah daerah. Kepraktisan saja. Sekolah untuk membuat satu ruangan aula sepertinya terlalu mubazir, tetapi tetap diperlukan sesekali. Maka mereka biasanya punya dua ruang kelas yang bisa digabungkan menjadi satu ruang yang lebih besar. Dua menjadi satu.
Biasanya yang digunakan untuk bergabung adalah ruangan kelas. Ruang kelas kan biasanya dapat berisi 40-an meja anak sekolah sehingga kalau digabung, kedua kelas ini bisa menampung antara 100–120 anak. Jika sedang digunakan kegiatan belajar, kedua kelas akan dipisahkan sekat papan kayu. Praktis.
Saat tidak tergabung ini, kedua ruang kelas memiliki aktivitas sendiri-sendiri. Tentu tidak terlalu nyaman pada keduanya. Dengan sekat hanya kayu tipis, suara di antara dua ruang akan saling bercampur. Jika kedua kelas tidak rukun, campuran kebisingan dua kelas akan menimbulkan alunan saling sahut-menyahut yang nyaring. Macam sarang lebah.
Lucu juga kalau dipikir model penataan ruang semacam ini. Kalau mau sedikit lebay, malah mirip kelas SMA De Britto. Satu sekolah menengah atas tenar dari pusat kota Jogja. Sekolah incaran anak laki-laki karena mentereng dan terhormat, beberapa alumninya (atau banyak) bisa berkarier layak. Dari sekolah ini, ada beberapa ruang kelas De Britto memiliki konstruksi tembok kelas setengah saja. Istilahe, tembok kotangan. Setengah ke bawah terdiri dari batu bata. Setengah ke atas adalah ruang hampa. Jadi pembatas ruang tidak penuh. Cukup berisik pastinya jika kedua kelas sedang melakukan pembelajaran.
Dan konstruksi ini memang disengaja. Katanya, agar ada sikap toleransi antarkelas. Tidak gaduh yang mengganggu kelas tetangga. Kelas di SD ini mungkin berfilosofi sama... Atau, ah, si kepsek itu alumni De Britto?
Aula dadakan sudah penuh terkumpul anak sekolah. Tanpa kursi dan meja. Pasti sudah dikeluarkan agar aula menjadi lega. Anak-anak duduk lesehan di lantai. Duduk berbaris. Anak kelas kecil berada di depan. Yang besar-besar berada di bagian belakang. Duduknya langsung di lantai tanpa alas. Karena tanpa alas ini, sepatu tentu harus ditinggal di luar. Kecuali celana mau saling bersinggungan langsung dengan tapak sepatu -dan si anak akan kena marah ibunya saat pulang ke rumah... hehe...-
Sepatu berada di luar aula. Diletakkan asal, kanan di mana kiri di mana. Warna tercampur. Di ujung masuk pintu para sepatu itu seperti hendak berebut masuk. Tidak teratur. Ketidakteraturan, dalam beberapa sisi mempunyai nuansa yang menarik—walau banyak orang lebih suka dengan semua yang serba teratur—
Keteraturan, seperti sepatu mereka itu mungkin, adalah perayaan akan ketidakteraturan. Yang juga, di sisi lain menunjukkan gairah. Terasa semarak. Ahai, siapa yang tidak setuju dengan indahnya lukisan Affandi? Lukisan dia itu seperti acak saja begitu, plotot sana plotot sini. Warna itu di sini, warna lain di sana. Muka berwarna hitam, rambut berwarna merah. Atau, rambut mawut para penyanyi rock? Siapa pula yang tidak suka melihat rambut gondrong Andy Liany saat melagukan suara? Atau Ello pas gondrong deh! Lucu kan? Ketidakteraturan juga mempunyai keindahan, bukan?
Di dalam aula, saya lekas ikut duduk menggelesor di belakang. Berarti di belakang dari gerombolan anak kelas tinggi. Karena, sebagaimana biasa dan semestinya, sebagai pemeran pendukung, tugas saya harus di belakang.
Tugas saya di dokumentasi foto. Dengan peran sederhana: mengambil gambar. Acara seperti ini kan biasanya cukup formal (apalagi acara kepemerintahan), biasanya mengambil foto narasumber, pembicara, atau sesi foto bersama. Kalau ada pertanyaan atau tanya jawab, maka ada sesi foto lagi. Keseluruhan tugas yang cukup mudah, saya selesaikan dengan handphone.
Tetapi tugas itu terkadang mengundang sisi jumpalitan pribadi. Saya kadang gabut kalau tugas memfoto sudah dilakukan. Maka dalam beberapa sesi itu, saya kadang mengambil foto acak. Entah anak yang sedang mengantuk. Atau berteriak-teriak. Atau mereka yang sedang makan sesuatu. Atau anak yang terlihat cukup aktif dan suka menjawab aneka pertanyaan. Atau sesi saat narasumber mau bergerak ke anak sekolah dan menyapa mereka. Biasanya sesi-sesi acak ini cukup menarik. Nah, kadang dengan mengambil gambar acak ini, menjadi pembuka komunikasi dengan anak sekolah. Mereka biasanya malah aktif njawil dan meminta, "Mas foto Mas...," lalu "Apik ora hasile, Mas?"
Cukup senang sebenarnya ketika di sesi bertemu dengan anak-anak sekolah dasar seperti itu. Banyak saya bertemu dengan banyak anak, dan secara keseluruhan anak-anak sekolah sangat antusias dengan hal baru. Dan mereka cenderung ramah. Ada beberapa pula pemalu sehingga antusiasme ini tidak bisa langsung terlihat saat pertama jumpa. Akan tetapi, apabila kita sebagai orang baru mencoba membuka sapa, sungkan dan segan mereka langsung luntur. Satu tips dari saya, "Kalau diajak salaman dengan anak-anak, cobalah tidak dengan model salaman formal."
Jangan seperti jabat tangan menteri sama presiden itu. Salam pakai tangan kanan lalu saling menggoyangkan tangan mereka dengan keras. Pakai gestur senyum dan saling melihat mata... Tidak main macam itu kalau sama anak-anak. Atau jangan pakai gestur hormat dulu macam militer. Yang muda hormat grak, diiringi kata, "Siap, Pak!". Lalu dijawab dengan hormat pembalas dari si tua, lalu dia senyum. Jangan....
Pakai salam tos saja—seperti saat bertemu dengan sahabat sebaya—. Pakai salam dua tangan saling bertemu di udara, atau salam kepal tangan. Sehingga mereka pun akan menganggap kita tidak berumur, macam sahabat mereka sendiri... Dan jangan kira anak SD tidak paham salam macam itu.
Jangankan cuma cara bersalam, kadang, mereka cukup melek pula dengan beberapa isu viral. Contohlah, cukup tahu soal makan bergizi gratis. Dan tahu pula MBG ini program unggulannya Presiden Prabowo. Ada celetukan misalnya, "Pak Prabowo, sesuk njaluk menu mi ayam neng MBG-ne yo." Haha.. ada-ada saja.
Dan acara inti pun dimulai. Anak-anak mulai mengikuti acara—terutama yang berada di bagian depan—. Yang di belakang, beberapa bengong sendiri. Saya tentu saja ikut mengikuti jalannya acara. Sembari celingak-celinguk, siapa tahu mendapat momen menarik dari keseluruhan acara.
Dimulai dengan melihat dinding kelas. Saya alumni sekolah negeri sehingga cukup akrab dengan model bangunan keseluruhan dan pengaturan ruang kelas. Agak kaku gimana gitu kan kalau sekolah negeri itu. Kalau dulu sih tidak banyak gambar dan tempelan di ruang kelas saya. Setahu saya hanya ada warna putih krem di dindingnya. Lalu gambar Bhinneka Tunggal Ika di bagian ujung depan tengah. Lalu di kanan dan kirinya adalah foto Presiden dan Wakil Presiden. Setelah itu, pada kelas yang agak atas, biasanya ada gambar dalam bingkai pahlawan-pahlawan bangsa.
Nah, kalau sekarang, berbeda. Banyak berbeda: banyak sekali gambar dan tempelan di ruang kelas SD anak gunung ini. Aneka rupa. Menarik-menarik sekali. Aneka kerajinan tangan anak hasil prakarya mereka. Ada gambar yang ditempel. Ada jadwal pelajaran yang ditempel. Jadwal piket harian. Nama ketua kelas. Cita-cita masing-masing anak. Peta juga ada. Pita hiasan? Ada pula. Warna-warni. Lucu juga.
Dulu tidak ada. Serius! Seingat saya, saya punya kelas yang dihias warna-warni itu saat SMA. Bayangkan. Waktu SMA. Itu saat saya sekolah di SMA di pusat kota di Salatiga sana. Ada anjuran dari guru wali kelas: membebaskan tiap siswa untuk menghias dinding di sebelah paling belakang dari ruang kelas. Lalu kami menghias dengan menempel aneka gambar dan tulisan.
Lalu saya melihat satu objek menarik di kelas SD ini. Posisinya berada di tepi bawah tembok, hampir dekat ke lantai.
Ada gambar presiden. Betul, foto presiden betulan. Sendirian dia ditempel di dinding kayu berwarna cokelat. Agak miring dia tertempel, di bagian kanan dari saya melihat. Lalu di bagian samping kirinya, agak jauh, ada gambar siklus air.
Siklus air: air hujan terbawa turun ke tanah. Dia lalu masuk ke darat. Menjadi air yang ada di sungai, danau atau laut. Lalu menguap karena terkena panas matahari. Uap ke atas dan berkumpul menjadi mendung. Untuk kemudian menjadi hujan saat beratnya uap menjadi titik air.
Gambar siklus air ini atau poster siklus air ini tertulis dalam bahasa Inggris: Water Cycle. Poster terbuat dari gambar mendung, air di sungai, lautan, hijau daratan, dan beberapa pohon serta langit biru. Garis panah-panah sebagai penggambaran siklus terbuat dari garis bold berwarna putih. Siklus menggambarkan perpindahan bentuk air yang sempurna. Mengapa ditempel di situ? Pasti oleh salah satu anak SD.
Saya terdiam melihat keduanya bersanding: si foto dan poster, di kanan dan di kiri. Ini semacam ketidakaturan lain yang indah dari tempat yang tidak disangka.
Lalu ingin mengabadikan keduanya dalam kamera betulan. Sayang sekali, waktu itu, saya tidak membawanya.
Satu yang masih saya sesali sampai sekarang.

