Konten dari Pengguna

Belajar dari Pengalaman Keluarga: Pentingnya Orang Tua Mengawasi Jajanan Anak

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari isna khikmatiniza tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Bagi sebagian orang, jajanan anak mungkin terlihat sebagai hal yang sederhana. Anak membeli minuman kemasan, makanan ringan, mi instan, atau jajanan lainnya, kemudian mengonsumsinya tanpa banyak pertimbangan. Apalagi ketika orang tua sedang sibuk bekerja, anak terkadang memiliki kebebasan untuk memilih makanan dan minumannya sendiri.

Namun, bagi saya, persoalan jajanan anak memiliki makna yang lebih dalam.

Saya pernah kehilangan seorang saudara yang masih sangat muda karena mengalami masalah kesehatan. Dalam kesehariannya, ia termasuk anak yang kurang mendapatkan pengawasan secara langsung karena orang tuanya harus bekerja. Ia pun cukup sering membeli jajanan sendiri, termasuk makanan dan minuman kemasan.

Pengalaman tersebut menjadi sebuah pelajaran bagi keluarga kami bahwa perhatian terhadap apa yang dikonsumsi anak tidak seharusnya dianggap sebagai persoalan kecil.

Ilustrasi orang tua mendampingi anak memilih jajanan. Sumber: Dokumentasi/Ilustrasi AI.

Anak Belum Tentu Mampu Memilih Jajanan dengan Bijak

Anak-anak pada usia sekolah mulai memiliki keinginan untuk menentukan sendiri makanan yang mereka sukai. Mereka biasanya memilih berdasarkan rasa, bentuk, warna, harga, kemasan, atau karena melihat teman-temannya membeli jajanan yang sama.

Sayangnya, anak belum tentu memahami apakah makanan tersebut aman dan baik apabila dikonsumsi terlalu sering. Mereka mungkin hanya berpikir bahwa makanan tersebut enak dan menarik.

Di sinilah peran orang tua menjadi penting.

Pengawasan bukan berarti melarang anak untuk menikmati jajanan. Orang tua dapat mengajarkan anak untuk mengenali makanan yang bersih, memperhatikan kondisi kemasan, memeriksa tanggal kedaluwarsa, serta memahami bahwa makanan dan minuman tertentu sebaiknya tidak dikonsumsi secara berlebihan.

Dengan begitu, anak tidak hanya mengikuti larangan orang tua, tetapi juga memahami alasan di balik kebiasaan memilih makanan dengan lebih bijak.

Orang Tua Sibuk Bekerja, Pengawasan Tetap Bisa Dilakukan

Tidak semua orang tua memiliki kesempatan untuk selalu mendampingi anak. Ada orang tua yang harus bekerja sejak pagi hingga sore, sementara anak menghabiskan sebagian waktunya di sekolah atau di rumah bersama anggota keluarga lainnya.

Kondisi tersebut tentu tidak berarti orang tua tidak peduli terhadap anak.

Pengawasan dapat dilakukan dengan berbagai cara sederhana. Orang tua dapat menanyakan makanan yang dikonsumsi anak, mengetahui jajanan yang biasa dibeli, memberikan bekal ketika memungkinkan, serta membangun kebiasaan makan yang lebih sehat di rumah.

Komunikasi juga menjadi bagian penting. Pertanyaan sederhana seperti, "Tadi jajan apa?" atau "Belinya di mana?" dapat menjadi awal bagi orang tua untuk mengetahui kebiasaan anak tanpa membuat anak merasa terus-menerus diawasi.

Orang tua juga dapat mengajarkan anak untuk lebih berhati-hati ketika membeli makanan, misalnya dengan melihat kebersihan tempat berjualan dan memperhatikan kondisi makanan sebelum dikonsumsi.

Jangan Menunggu Anak Sakit untuk Mulai Peduli

Pengalaman kehilangan saudara yang masih begitu muda tentu meninggalkan kesedihan sekaligus pelajaran bagi keluarga. Salah satunya adalah pentingnya memberikan perhatian terhadap kebiasaan anak sejak dini.

Namun, kita juga perlu memahami bahwa masalah kesehatan tidak selalu disebabkan oleh satu jenis makanan atau jajanan tertentu. Kondisi kesehatan seseorang dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor dan memerlukan penilaian medis untuk mengetahui penyebabnya.

Karena itu, pengalaman keluarga tidak seharusnya dijadikan dasar untuk mengatakan bahwa makanan tertentu secara langsung menyebabkan suatu penyakit.

Meski demikian, pengalaman tersebut dapat menjadi pengingat bahwa pola konsumsi anak tetap perlu diperhatikan. Membiasakan anak memilih makanan dan minuman dengan lebih bijak merupakan salah satu bentuk upaya menjaga kesehatan mereka.

Pengawasan Bukan Berarti Mengekang

Terkadang, orang tua merasa perlu melarang anak membeli berbagai macam jajanan karena khawatir terhadap kesehatan mereka. Namun, larangan yang terlalu banyak tanpa penjelasan juga dapat membuat anak justru semakin penasaran.

Pengawasan sebaiknya dilakukan melalui pendampingan.

Anak dapat diberikan kesempatan untuk memilih, tetapi juga dibekali pengetahuan mengenai cara memilih jajanan. Orang tua dapat menjelaskan dengan bahasa sederhana mengapa kebersihan makanan penting, mengapa makanan tertentu tidak sebaiknya dikonsumsi terlalu sering, dan mengapa membaca informasi pada kemasan merupakan kebiasaan yang baik.

Dengan cara tersebut, anak perlahan belajar bertanggung jawab terhadap pilihannya sendiri.

Perhatian Kecil yang Bisa Berarti Besar

Tidak ada orang tua yang ingin anaknya mengalami masalah kesehatan. Namun, kesibukan sering kali membuat perhatian terhadap hal-hal kecil terlewatkan.

Jajanan mungkin terlihat sebagai persoalan sederhana, tetapi kebiasaan makan terbentuk dari apa yang dilakukan anak berulang kali. Karena itu, perhatian orang tua tetap dibutuhkan, meskipun tidak selalu dapat dilakukan dengan pengawasan secara langsung.

Kita mungkin tidak dapat berada di samping anak setiap saat. Namun, kita dapat memberikan bekal berupa pengetahuan, kebiasaan, dan pemahaman agar anak mampu menjaga dirinya ketika berada jauh dari orang tua.

Bagi saya, pengalaman kehilangan saudara menjadi pengingat bahwa perhatian kepada anak sebaiknya tidak menunggu sampai sesuatu terjadi. Mengawasi jajanan, menanyakan makanan yang dikonsumsi, dan mengajarkan anak memilih makanan dengan lebih bijak merupakan bentuk kepedulian sederhana yang dapat dilakukan sejak dini.

Karena menjaga anak bukan hanya tentang berada di samping mereka, tetapi juga tentang membekali mereka agar mampu menjaga dirinya sendiri.