Jangan Anggap Remeh Luka Kecil, Bisa Jadi Tanda Gula Darah Tinggi

Saya adalah seorang mahasiswa Universitas Pamulang dengan prodi PGSD
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari isna khikmatiniza tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Awalnya hanya luka kecil di ujung jari akibat terlalu dalam saat memotong kuku. Tidak terasa terlalu sakit, hanya sedikit berdarah, dan tampaknya akan sembuh dalam beberapa hari. Namun, alih-alih membaik, luka itu justru memburuk: memerah, bengkak, dan mulai terasa nyeri.
Awalnya hanya luka kecil di ujung jari akibat terlalu dalam saat memotong kuku. Tidak terasa terlalu sakit, hanya sedikit berdarah, dan tampaknya akan sembuh dalam beberapa hari. Namun, alih-alih membaik, luka itu justru memburuk: memerah, bengkak, dan mulai terasa nyeri.
Banyak orang kerap menyepelekan luka ringan, terutama jika tubuh terasa sehat. Padahal, di balik rasa “baik-baik saja”, bisa jadi kadar gula darah perlahan meningkat tanpa disadari. Jika dibiarkan, kondisi ini berisiko menimbulkan komplikasi serius.
Luka yang sulit sembuh bisa menjadi salah satu tanda tersembunyi bahwa kadar gula darah terlalu tinggi. Dalam beberapa kasus, luka tersebut bisa berkembang menjadi infeksi parah, bahkan gangren. Ketika sudah mencapai tahap ini, tindakan medis seperti amputasi atau operasi besar kerap menjadi satu-satunya pilihan untuk menyelamatkan nyawa pasien.
Tak sedikit orang baru mengetahui bahwa mereka menderita diabetes setelah mengalami luka yang tak kunjung sembuh dalam waktu lama. Penelitian oleh Rahmawati (2019) menunjukkan bahwa mayoritas pasien yang akhirnya harus menjalani tindakan operasi akibat komplikasi diabetes tidak pernah melakukan pemeriksaan gula darah secara rutin. Mereka merasa sehat — hingga luka kecil menjadi ancaman serius.
Lebih mengkhawatirkannya lagi, data Kementerian Kesehatan RI tahun 2022 mengungkap bahwa sekitar 30% penderita diabetes tidak menyadari bahwa mereka mengidap penyakit ini. Artinya, ada jutaan orang yang hidup dengan kadar gula darah tinggi tanpa menyadari bahaya yang mengintai.
Padahal, pemeriksaan gula darah secara rutin merupakan langkah paling sederhana yang bisa mencegah komplikasi berat di masa depan. Sayangnya, karena dianggap sepele, banyak orang cenderung menundanya.
Pemeriksaan ini sebaiknya dilakukan minimal setiap enam bulan sekali, terutama bagi mereka yang memiliki faktor risiko seperti riwayat keluarga dengan diabetes, pola makan tinggi gula, kurang aktivitas fisik, atau kelebihan berat badan.
Kesadaran masyarakat tentu penting, namun dukungan dari pemerintah dan fasilitas kesehatan juga sangat berperan besar. Layanan pemeriksaan gula darah secara gratis atau dengan biaya yang terjangkau bisa menjadi langkah nyata untuk menjangkau lebih banyak orang, khususnya mereka yang belum menyadari pentingnya deteksi dini.
Jangan tunggu luka kecil berubah menjadi bencana. Jangan menunggu gejala datang. Pemeriksaan gula darah bukan hanya untuk yang sedang sakit, tetapi juga untuk mereka yang ingin tetap sehat.
