Ketika Korban Perundungan Memilih Diam: Sekolah Harus Menjadi Tempat yang Aman

Saya adalah seorang mahasiswa Universitas Pamulang dengan prodi PGSD
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari isna khikmatiniza tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Banyak orang mengira bahwa jika seorang anak mengalami perundungan, cukup melaporkan ke guru atau orang tua saja. Kenyataannya tidak sesederhana itu. Banyak korban justru memilih untuk tidak berkata apa-apa karena takut tidak diterima, takut dianggap terlalu berlebihan, atau khawatir kondisi akan semakin memburuk setelah mereka menyampaikan sesuatu.

Kondisi seperti ini sering luput dari perhatian. Seorang murid yang datang ke sekolah dengan semangat tinggi dan selalu tampil baik bisa tiba-tiba menjadi pendiam, tidak tertarik belajar, bahkan tidak ingin datang ke sekolah lagi. Bukan karena dia tidak bisa mengikuti pelajaran, tetapi karena sekolah kini tidak lagi menjadi tempat yang membuatnya merasa nyaman dan aman.
Saat Diam Menjadi Bentuk Perlindungan Diri
Bagi sebagian anak, diam adalah cara untuk melindungi diri. Mereka takut akan dihina lebih parah jika berani melaporkan. Ada juga yang merasa tidak akan adil karena pelaku memiliki pengaruh atau hubungan dekat dengan lingkungan sekolah. Akibatnya, mereka memilih menyembunyikan ketakutan dan menghadapi segala hal sendirian.
Padahal, ketika seorang anak memilih tidak berbicara, itu tidak berarti masalahnya sudah teratasi. Itulah saatnya korban membutuhkan perhatian dan dukungan dari orang-orang di sekitarnya. Guru harus mengenali perubahan cara berperilaku siswanya, sementara orang tua perlu menjaga komunikasi yang membuat anak merasa nyaman dan nyaman untuk berbicara.
Membangun sekolah yang bebas dari perundungan tidak hanya tentang memberikan hukuman kepada orang yang melakukan perundungan. Yang sangat penting juga adalah memastikan setiap anak memiliki keberanian untuk menceritakan pengalaman yang ia alami tanpa merasa takut. Sebab, sekolah yang aman bukan berarti tidak ada masalah, melainkan sekolah yang mau mendengarkan, melindungi, dan bertindak adil kepada semua siswanya.
