Dari Edit Naskah Sampai Jual Rongsokan Untuk Mendapatkan Uang

Editor dan pendongeng
·waktu baca 6 menit
Tulisan dari Isnaini Khomarudin tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
In this economy tiba-tiba jadi idiom yang lumayan sering diucapkan orang belakangan ini. Betapa tidak, kondisi ekonomi memang tidak menentu, bahkan bagi beberapa orang sangat memprihatinkan. Jangankan untuk memenuhi kebutuhan tersier atau sekunder, kebutuhan primer saja sudah berat diwujudkan.

Biaya sekolah dan UKT di kampus, kian mencekik dan tidak masuk akal. Tugas pemerintah untuk mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengentaskan kemiskinan seolah jauh api dari panggang. Entah kapan terlaksana, sedangkan keadaan terkini cukup berkebalikan.
Proram MBG (Makanan Bergizi Gratis) pun malah menciptakan dilema bahkan katastrofi. Alih-alih menjamu anak-anak sekolah dengan makanan bernutrisi agar otak mereka cemerlang, yang terjadi justru keracuna di mana-mana yang menuntut program segera dihentikan lantaran sarat muatan politis dengan terlibatnya pejabat sebagai pengelola atau vendor SPPG.
Apa saja demi bertahan hidup
Dalam silang sengkarut begini, yang bisa dilakukan rakyat atau wong cilik adalah mengerjakan apa pun sebagai modal untuk bertahan hidup. Bukan menumpuk kekayaan ala anggota dewan yang sempat menuntut berbagai tunjangan, tetapi perih dan prihatin menjalani hidup dalam keterpaksaan dan keterhimpitan.
Sejak pindah dari Bogor ke Lamongan, saya sendiri mengalami gejolak ekonomi yang tak mudah. Dulu job dari blogging masih terbilang banyak, dan fee pun nilainya besar. Sekarang jauh berbeda: job jarang, kalau pun ada angka kompensasinya rendah, dan itu pun diikuti masa pencairan yang lama bahkan hingga dua bulan.
Namun, apakah kita punya banyak pilihan? Mau bikin usaha, tak punya modal. Mau bekerja lagi, terkendala usia yang sudah 40-an. Akhirnya ya mengerjakan yang bisa dilakukan, asalkan ada cuan yang bisa dihasilkan.
1. Blogging
Ini aktivitas yang sudah saya mulai sejak tahun 2015 ketika sudah tak punya kerjaan tetap. Punya blog TLD membuat saya semakin semangat menulis di blog. Banyak lomba dan kuis saat itu yang menawarkan hadiah besar, dari barang elektronik sampai uang besar.
Saya pernah mendapat smartphone beberapa kali, uang total puluhan juta, kamera digital, kamera mirrorless, hingga laptop 3-in-1. Sayangnya kejayaan blogging kian meredup setidaknya jika diukur dari peluang mendapat cuan.
Awal Juli lalu saya sempat menghadiri liputan bloger dan fotografer di Batu, Malang. Namun acara serupa sudah kian jarang. Lalu ada acara undangan lain di awal September yang waktunya tak cocok dengana jadwal mengajar sehingga mesti saya lewatkan.
Acara blogging terakhir adalah undangan sebuah brand laptop pada pertengahan September yang kebetulan bisa saya hadiri. Lumayan fee-nya walau lagi-lagi event seperti ini sudah semakin jarang. Brand memilih acara online atau melibatkan Youtuber/Instagrammer ketimbang blogger.
2. Mengedit dan menulis
Kegiatan lain yang masih saya tekuni tentu saja mengedit alias menyunting naskah. Kalau pas ada order, sebenarnya angkanya lumayan. Sebagai contoh, beberapa bulan lalu saya menerima orderan menyunting buku biografi dari sebuah penerbit indie di Bogor. Untuk naskah setebal 400-an halaman saya dibayar Rp3 juta rupiah, sungguh sangat memuaskan.
Pada kesempatan berikutnya, ada dosen yang ingin agar disertasinya di-proofread sebelum diajukan untuk ujian doktoral. Walau tak sebanyak ngedit buku biografi, angkanya juga lumayan (1,5 juta) tapi dalam waktu penyuntingan sangat mepet, yakni 2-3 hari. Benar-benar kurang tidur, tapi apa daya saya butuh cuan!
Di sini lain, menulis juga masih saya geluti. Misalnya ada teman yang memberikan order menulis laporan berdasarkan bahan yang sudah tersedia. Dengan rate Rp200 ribu per tulisan untuk 4-5 halaman, oh sungguh sangat saya syukuri karena toh bisa menulis banyak, alhamdulillah.
3. Me-layout naskah
Melakukan layout atau tata letak buku sebenarnya sangat menyenangkan, dibanding menyunting naskah yang butuh ketelitian. Modal utama layout adalah kreativitas dan specs laptop yang mumpuni. Sejauh ini kreasi bisa saya upayakan, tetapi kelemotan laptop sungguh jadi tantangan yang menyakitkan.
Belum lama ini ada orderan dari seoranag sahabat. Satu paket (edit naskah, layout isi, dan desain sampul) seharga Rp600 ribu, ya angka yang kecil tapi apa daya ketimbang tak ada sama sekali. Saya terima atas nama persahabatan, juga karena saya butuh uang.
2. Mengajar les
Sejak setahun lalu saya mendapat kesempatan kembali ke kelas untuk mengajar anak-anak. Awalnya mengajar di les bahasa Inggris, lalu ada lagi tawaran mengajar UTBK di sebuah SMA. Tentu saja dua-duanya secara lepas alias freelance. Kalau saya tak mengajar, berarti tidak dibayar.
Dan itulah problemnya. Di satu sisi, saya mesti standby untuk mengajar (sampai harus mengosongkan jadwal dan bahkan merelakan undangan blogging, misalnya). Namun di sisi lain, pas hari H ternyata kelas dibatalkan sebab para siswa berhalangan. Jadilah amsiyong, saya tak dapat apa-apa.
Tapi tetap saya syukuri karena bisa mengisi waktu untuk berbagi ilmu dan inspirasi. Bukan melulu uang, bisa ketemu anak-anak SMA yang akan kuliah adalah momen langka yang saya manfaatkan untuk menyuntikkan pesan atau berbagi kisah penting sebagai bekal mereka studi lanjut.
3. Jemput anak sekolah
Entah sudah berapa bulan saya dan istri menerima jasa jemput anak sekolah. Anak tetangga kebetulan pulang tak bisa dijemput ayahnya yang sibuk bekerja. Jadilah saya dan istri yang bergiliran menjemputnya saat kami luang.
Di sini juga ada problem tersendiri. Saat meluangkan waktu dan mengosongkan jadwal, ternyata penjemputan dibatalkan. Biasanya karena ayahnya pulang cepat atau ibunya yang menjemput karena adik-adiknya ingin sekalian jalan-jalan. Ya sudah, belum rezeki. Rp50.000 untuk tiga kali jemput, murah atau mahal?
4. Jualan buku bekas
Sejak Tokopedia diakuisisi oleh TikTok, jualan buku bekas cukup sulit sekarang. Dulu setiap bulan selalu ada barang yang terjual, baik buku koleksi pribadi maupun buku kulakan. Nah, kini berbulan-bulan pun tak ada penjualan. Sangat menyebalkan!
Shopee pun tak beda cerita. Mereka begitu mudah membekukan sebuah toko hanya karena harga buku yang dijual lebih murah dibanding harga pasaran. Padahal itu buku bekas, jadi wajar kalau murah. Admin Shopee mesti belajar baca buku, biar enggak kayak pejabat atau pemerintah yang asal sita buku yang dinilai provokatif. Kenali dan baca, baru beraksi, okay?
5. Jualan rongsokan
Kalau ini jelas bukan kegiatan rutin. Ketika upah menulis, honor mengedit atau bayaran lain tak kunjung cair, saya terpaksa melirik barang-barang yang bisa dirongsokkan. Yang bisa dijual dan menghasilkan uang.
Sejauh ini saya pernah menjual buku-buku sekolah anak yang sudah tak terpakai, kardus bekas, sampah plastik (yang sengaja dikumpulkan), dan perabotan. Rencananya saya juga akan melego hape bekas yang terkumpul di rumah. Tukang rongsok Madura siap menerima.
Jadi itulah yang saya lakukan untuk mendapatkan uang in this economy yang penuh ketidakpastian. Bagaimana dengan sobat Kumparan? Barangkali punya ide atau orderan buat saya?
