Menanam Pengetahuan, Memanen Kemandirian: Kisah Rizki Hamdani Berdayakan Santri

Editor dan pendongeng
·waktu baca 6 menit
Tulisan dari Isnaini Khomarudin tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Setiap kali sambang dua putra yang ada di pesantren Jombang, saya hampir selalu melewati ruas jalan yang di sisi kanan kirinya terdapat hamparan ladang dengan barisan batang sorgum. Seketika muncullah kenangan masa kecil saat saya ikut teman-teman menikmati batang sorgum yang diberikan para petani saat panen. Rasanya manis dengan sedikit sepat — sangat berbeda dari tebu. Namun, pengalaman sederhana itu selalu membuat saya merasa gembira.

Sayangnya sorgum kini tergolong langka. Saya menyebutnya langka karena di kampung halaman saya sendiri sudah tidak terlihat lagi tanaman itu. Pemandangan tanaman sorgum yang sedang berbunga membuat hati saya membuncah. Namun jauh di lubuk hati, ada rasa sesal karena tanaman ini telah kehilangan pamornya sebagai bahan pangan pokok yang dulu sering dikonsumsi oleh masyarakat, termasuk warga desa saya.
Sorgum, pengganti beras yang naik kelas
Untunglah ada Rizki Hamdani yang telah memberikan dukungan dalam mengembangkan kembali tanaman sorgum di Jombang. Berkat kerja kerasnya yang tiada henti, para petani di Jombang kini memperoleh manfaat ekonomi sekaligus memiliki alternatif pangan untuk mendukung ketahanan pangan di masa depan.
Yang membuat saya lebih bahagia adalah kiprah Rizki lantas diikuti oleh anak muda lain yang kian bersemangat untuk menjadi petani. Petani memang profesi yang selama ini kurang diminati oleh generasi milenial atau gen Z sebab dinilai kurang mentereng dan tidak pula menjanjikan jenjang karier seperti pekerjaan di perusahaan.
Petani muda bisa sukses
Menyadari persepsi negatif generasi muda terhadap pertanian dan peternakan — bahwa menjadi petani dianggap tidak menguntungkan — Rizki pun bertekad membuktikan bahwa kedua bidang tersebut sebenarnya menjanjikan penghasilan yang memadai.
Ia memulai program dari Pondok Fathul Ulum karena pesantren ini belum memiliki pendidikan formal seperti pesantren modern lainnya. Program tersebut unik karena mengajak santri untuk berwirausaha melalui pertanian berkelanjutan yang ramah lingkungan.
Rizki memilih Jombang karena ia menikah dengan Silvia Nur Rochmah, perempuan asli daerah tersebut, dan menetap di sana setelah resign dari pekerjaannya di Jakarta.
Meskipun berasal dari Aceh, ia memutuskan untuk berkontribusi bagi masyarakat di kota yang dikenal sebagai Kota Santri ini. Di kota barunya, Rizki memulai usaha budidaya lele yang terbukti sukses.
Selama menjalankan bisnisnya, ia menyadari bahwa dunia pertanian di sekitarnya mulai kehilangan regenerasi. Banyak anak muda enggan bertani karena biaya produksi yang meningkat, keuntungan yang menurun, dan citra petani yang dianggap kumal dibanding pekerja kantoran.
Rizki menganggap hal ini berbahaya. Jika anak muda tidak mau bertani dan menganggapnya pekerjaan rendah, sementara mereka memilih menjadi buruh pabrik atau pegawai, maka Indonesia bisa menghadapi krisis pangan di masa depan.
“Selama ini kita bergantung pada pertanian untuk bertahan hidup. Kalau tidak ada yang mau bertani, bagaimana nasib kita nanti?” ujarnya.
Kolaborasi pesantren dan kewirausahaan
Takdir Rizki berubah saat ia bertemu dengan beberapa santri Pondok Pesantren Fathul Ulum (dikenal juga sebagai Pondok Gerdu Laut). Mereka sering berkunjung ke rumah Rizki dan akhirnya menjalin hubungan baik hingga Rizki bersedia membantu mereka dalam budidaya lele. Dengan dukungan Ahmad Habibul Amin, pengasuh pesantren, mereka semakin percaya diri untuk mengembangkan usaha tersebut.
Pertemuan pertama pada tahun 2016 menjadi awal kolaborasi yang solid antara Rizki dan Kiai Amin. Dalam kerja sama itu, Rizki membantu santri mengembangkan keterampilan wirausaha berbasis kegiatan pesantren. Ungkapan Jawa tumbu oleh tutup (ibarat tutup yang pas dengan wadahnya) sangat tepat menggambarkan hubungan keduanya: Kiai Amin fokus pada pendidikan, sedangkan Rizki menggarap kewirausahaan.
Sistem Pertanian Terpadu (Integrated Farming System)
Sinergi keduanya berbuah hasil. Pesantren di Desa Puton, Kecamatan Diwek, kini menjadi bagian dari program Desa Sejahtera Astra (DSA) — sebuah inisiatif berkelanjutan di bawah naungan PT Astra International, Tbk. sebagai bagian dari program CSR perusahaan. DSA yang berfokus pada empat pilar utama: Astra Sehat (kesehatan), Astra Hijau (lingkungan), Astra Cerdas (pendidikan), dan Astra Kreatif (kewirausahaan).
Dari kerja sama ini lahirlah program Santripreneur dan Pesantrenpreneur di mana Ponpes Fathul Ulum berhasil meraih juara tiga dalam kompetisi KBANNOVATION 2019 dengan tema “Inovasi Kita, Inspirasi Negeri.”
Melalui konsep Integrated Farming System (IFS), Rizki dan para santri menggabungkan pertanian, perikanan, peternakan, dan pengelolaan lingkungan. Limbah kolam lele dimanfaatkan untuk menyuburkan tanaman, sementara batang sorgum dicacah untuk pakan ternak. Dengan cara ini, mereka mampu menghemat biaya, menjaga lingkungan, dan meningkatkan kemandirian ekonomi pesantren.
Atas kerja keras dan ketekunannya, Rizki Hamdani pun diganjar penghargaan bergengsi SATU Indonesia Awards ke-11 tahun 2020 dari PT Astra International, Tbk. Ia dinilai berhasil menginspirasi generasi muda untuk mencintai dunia pertanian melalui kelompok yang didirikannya bernama Kelompok Santri Tani Milenial (KSTM).
Nama kelompok ini mengandung tiga kata penting: santri, tani, dan milenial yang menggambarkan keterlibatan generasi muda pesantren dalam dunia pertanian. Melalui kelompok ini, Rizki membuktikan bahwa santri tidak harus sepenuhnya bergantung pada orang tua lantaran hanya fokus belajar agama.
Membangun kemandirian dan keberlanjutan
Dengan lahan seluas 2,5 hektare, santri di Fathul Ulum kini memelihara 250 ekor itik pedaging, 30 kambing, 16 sapi potong, serta berbagai jenis ikan di 40 kolam bioflok. Sebagian santri juga menanam tomat, cabai, terong, kol, durian, dan bibit sengon.
Mereka bekerja dua jam setiap pagi sebelum kelas dimulai, dan dua jam lagi pada sore hari. Dengan begitu, mereka terbiasa bekerja sambil tetap fokus pada kajian agama--terutama kitab-kitab kuning klasik.
Setelah lulus, para santri ditawari modal usaha dari KSTM untuk memulai bisnis sendiri. Rizki dan Kiai Amin berharap para santri menjadi pribadi yang mandiri secara ekonomi, bukan sebaliknya. Kemandirian ekonomi diharapkan mencegah santri untuk tidak "menjual" agama demi rupiah. Itu pantangan besar!
Kiai Amin menegaskan bahwa para santri harus memiliki rasa percaya diri dan harga diri, agar tidak mengkomersialkan ilmu agama yang mereka ajarkan.
“Mengajar dan berdakwah boleh mendapat upah, tapi jangan sampai menjual jasa keagamaan dengan tarif tertentu,” ujarnya.
Dari Rizki Hamdani, kita belajar bahwa santri tidak harus menjadi beban orang tua ketika kembali ke masyarakat. Mereka bisa menjadi penggerak ekonomi sekaligus penjaga nilai-nilai spiritual. Rizki juga membuktikan bahwa pertanian tetap menjanjikan, dan bahwa sumber daya lokal seperti sorgum dapat membantu menciptakan ketahanan pangan bagi masa depan Indonesia yang berkelanjutan.
Pilihan Astra mengapresiasi Rizki terbukti tepat sebab hasil kerjanya memberikan dampak positif bagi masyarakat, terutama komunitas pondok pesantren salaf yang selama ini dikenal hanya berkutat pada kitab kuning klasik tanpa memedulikan faktor ekonomi. Ibarat riak, gerakan yang dimulai Rizki telah meluaskan dampak, menciptakan spiral berupa partisipasi pemuda lainnya untuk menggeluti dunia pertanian.
#APA2025-KSB
