Konten dari Pengguna

Menenun Asa dari Kampung Ntobo; Kilau Tembe Nggoli Pendulang Rezeki

Isnaini Khomarudin

Isnaini Khomarudin

Editor dan pendongeng

·waktu baca 8 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Isnaini Khomarudin tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

MATAHARI BARU naik sepenggalah. Semburat sinarnya menerpa kisi-kisi jendela dan pintu utama. Perempuan muda itu duduk lesehan di teras rumah, tampak tekun menggerakkan sesuatu. Bunyi tok-tak tok-tak terdengar ritmis, diselingi laju kendaraan yang sesekali lewat atau meongan ngao liar yang tiba-tiba melintas.

Dialah Yuyun Ahdiyanti, ibu tiga anak yang tumbuh besar di tengah bunyi gedog—alat tenun tradisional yang menghasilkan kain khas bernama Tembe Nggoli. Kain tenun sarung khas Bima ini terbuat dari benang kapas atau katun. Tampil dalam beragam warna cerah dan motif unik sarung tenun tangan.

Identitas dalam jalinan benang

Di sebuah sudut di Kota Bima, tepatnya di Kampung Ntobo, Yuyun yang hanya lulusan SMA telah membawa angin perubahan: bukan semata menghidupkan ritme kayu yang beradu tanpa henti, melainkan harapan untuk mandiri secara ekonomi.

Yuyun Ahdiyanti menenun kain khas kampung Ntobo, Bima, NTB (Dok. ntbsatu.com)

Sejak kecil Yuyun tak asing dengan suara alat tenun yang dioperasikan dengan tangan. Sama akrabnya dengan kerasnya kehidupan para penenun di kampungnya. Bayangkan, waktu terkikis habis, tenaga terkuras tandas, tapi hasilnya tak seberapa bikin mereka puas.

Yuyun sadar bahwa irama gadog yang melahirkan Tembe Nggoli bukan sebatas tradisi, tetapi telah menjadi detak kehidupan kampung Ntobo. Hampir seluruh warga Ntobo hidup mengandalkan kain tenun. Sayangnya, selama puluhan tahun, suara yang bergema di antara rumah-rumah kayu itu tak menjanjikan akselerasi ekonomi.

Dalam setiap helai kain Tembe Nggoli tersimpan kisah. Motif bunga samobo, satoko, dan kakando yang menghiasi tenun Bima bukanlah corak biasa. Lebih dari itu, motif-motif itu mencerminkan doa, refleksi alam, dan sejarah kehidupan orang Bima. Tembe Nggoli adalah identitas yang mengawetkan jejak ketekunan dan kerja keras.

Keresahan berbuah peluang

Namun patut disayangkan, di balik kilau keindahan kain-kain itu para penenunnya jarang mendapat pengakuan. Walau bekerja sejak pagi hingga malam, hasil karya mereka dijual murah kepada pengepul. Lebih ironis lagi: nama mereka nyaris tak pernah tergurat pada label merek atau tercatat di berita mana pun.

“Saya sering lihat ibu-ibu menenun dari pagi sampai malam, tapi penghasilannya kecil sekali. Padahal, yang mereka buat itu karya seni,” kenang Yuyun.

Dari situlah keresahan tumbuh. Ia tahu, Ntobo tidak kurang keahlian. Banyak penenun ulung yang ditempa waktu dan keuletan. Yang kurang hanyalah pengakuan dan kesempatan.

Kemilau indah dan corak memukau Tembe Nggoli (Dok. GNFI)

Tahun 2015 menjadi tahun yang mengubah segalanya. Berbekal ponsel pintar dan sinyal seadanya, Yuyun tergerak memotret kain-kain hasil karya keluarganya: Tembe Nggoli dengan warna-warna cerah dan motif yang sarat makna.

Ia lantas mengunggahnya ke akun Facebook yang ia beri nama “Yuyun Kaen Tenun Bima.” Langkah kecil itu pun membuncahkan kejutan. Di luar dugaan, foto-foto kain tenun yang ia unggah mendadak viral. Orang-orang terpesona pada keindahan warna dan cerita di baliknya. Tak heran jika pesanan mengalir dari berbagai daerah.

“Waktu itu saya kaget,” katanya sambil tertawa. “Tiba-tiba banyak yang pesan, padahal saya cuma ingin nunjukin karya ibu-ibu kampung.”

Dari situlah Yuyun sadar bahwa media sosial bisa menjadi alat perubahan. Ia tidak hanya menjual kain, tapi juga memperkenalkan jati diri kampungnya ke dunia luar. Beranjak dari keresahan, keberanian Yuyun akhirnya membuahkan peluang.

Maju bersama UKM Dina

Yakin dengan potensi kain tenun khas Ntobo, maka momentum itu tak Yuyun sia-siakan. Ia kemudian mendirikan sebuah usaha kecil menengah dengan label UKM Dina. Baginya, UKM ini bukan sekadar toko. “Dina itu wadah,” tegasnya. “Tempat kami saling bantu dan tumbuh bersama.”

Hasil penjualan pertama Yuyun putar sebagai modal untuk membantu para penenun lain di desanya. Selain pinjaman modal, ia juga membantu menyediakan bahan baku (dari UKM lain), dan memperkenalkan desain baru yang lebih segar tanpa meninggalkan akar tradisi.

Spirit pemberdayaan yang terus Yuyun kobarkan (Dok. GNFI)

Yang paling penting, Yuyun mengambil alih urusan pemasaran. Para ibu penenun tak perlu repot menunggu pengepul datang. Sebagai gantinya, Yuyun yang membawa karya mereka ke pasar digital.

“Saya ingin semua penenun di kampung punya kesempatan yang sama. Kalau satu maju, semuanya ikut maju,” ujar Yuyun.

Kini, setiap pesanan besar yang datang ke UKM Dina disebarkan ke ratusan penenun. Setiap helai kain yang keluar dari kampung itu membawa nilai-nilai yang mereka banggakan: keindahan, semangat, doa, dan terutama martabat.

Merajut dampak: generasi muda tergerak

Lima tahun berjalan, hasilnya luar biasa mengesankan. Kampung Ntobo yang dulu sepi kini hidup dengan semangat baru. Di setiap rumah, bunyi tok-tak bersahutan, kali ini disertai tawa anak-anak dan obrolan tentang pesanan kain yang semakin ramai. Harmoni sosial dan gairah ekonomi perlahan terajut.

Secara ekonomi, angka-angka berbicara lugas. UKM Dina kini memiliki lebih dari 200 penenun dan 15 penjahit utama, dengan omzet antara Rp100 juta hingga Rp300 juta per bulan. Data yang sangat menggembirakan!

Yuyun dengan kain tenun produksi UKM Dina (Dok. GNFI)

Di Facebook, akun UKM Dina diikuti lebih dari 11 ribu orang, menjadikannya salah satu komunitas tenun paling aktif di Nusa Tenggara Barat. Ini bukan soal algoritma, tapi bangkitnya ekonomi rakyat berbasis tradisi yang kuat.

Maka bagi Yuyun, angka tak lain bonus semata. “Yang paling membahagiakan adalah ketika saya lihat ibu-ibu bisa tersenyum lega, bisa beliin anaknya sepatu baru dari hasil menenun,” katanya puas.

Yang jauh lebih lebih membahagiakan dan memuaskan adalah generasi muda yang akhirnya bergairah untuk aktif menenun. Tak ada yang lebih indah selain menyaksikan anak-anak menekuni tradisi sebagai pelestari identitas.

“Sekarang banyak anak SMP dan SMA yang ikut. Bahkan ada yang kelas lima SD sudah bisa bikin satu kain sendiri!” katanya bangga.

Menenun kini bukan lagi pekerjaan “orang tua”, tapi menjadi simbol kebanggaan baru. Sebuah identitas yang tak hanya menghidupi, tapi juga memuliakan. Mereka menenun bukan semata atas dorongan ekonomi, melainkan terpeliharanya martabat.

Galeri mungil, impian besar

Dari hasil kerja kerasnya, Yuyun berhasil membangun galeri mungil berukuran 2x6 meter di samping rumahnya. Sekilas seolah terlihat sederhana, tapi ruangan kecil itu punya makna besar.

Galeri Yuyun menerima kunjungan Menparekraf Sandiaga Uno. (Dok. GNFI)

Di sanalah karya-karya Tembe Nggoli dipajang. Di sanalah pula anak-anak muda belajar menenun, belajar tentang makna warna alami, dan mengenal kembali budaya mereka sendiri. Di galeri ini mereka belajar tentang arti kehidupan.

Sebagai langkah kreatif, Yuyun pun menggandeng dosen dan mahasiswa dari berbagai universitas di NTB untuk berkolaborasi. Mereka meneliti pewarna alami dari tanaman lokal dan nanopartikel ramah lingkungan agar proses pewarnaan tenun lebih modern, tapi tetap lestari.

“Saya ingin tenun kami bukan hanya tetap hidup, tapi juga ramah pada alam. Karena alam adalah sumber warna kami,” tuturnya lembut.

Kini Tembe Nggoli dari UKM Dina dikenal dengan warna-warna alami seperti merah dari akar mengkudu, kuning dari kunyit, dan biru dari daun tarum. Motifnya terinspirasi dari alam—kali wori, mata hara—yang berpadu indah di setiap helai kain yang dihasilkan.

Warna-warna alami nan cerah jadi daya tarik tersendiri (Dok. efenerr)

Butuh waktu rata-rata sepuluh hari untuk menyelesaikan satu kain, bahkan lebih lama jika penenunnya juga bertani. Namun Yuyun tak menuntut kecepatan. “Setiap helai butuh waktu dan hati. Itu yang membuatnya berharga,” katanya.

Kini, kain-kain dari Ntobo tak hanya dikirim ke Pulau Jawa, Sumatra, atau Sulawesi, tapi juga telah menembus pasar internasional. Turis-turis mulai berdatangan ke kampungnya untuk menyaksikan langsung proses menenun. Ntobo pun perlahan dikenal sebagai destinasi wisata tenun hidup di Bima.

Dari kepedulian ke pengakuan

Perjalanan Yuyun membuktikan satu hal: perubahan besar bisa lahir dari keresahan kecil yang dilatari kepedulian. Dari kegelisahan melihat ibu-ibu kampung yang tak dihargai, lahirlah gerakan pemberdayaan yang mengubah wajah ekonomi dan budaya di Bima—khususnya di Ntobo.

Benang harapan yang mereka tenun pun mendapat banyak pengakuan. Beberapa di antaranya dinobatkan sebagai Kelompok Pengrajin Teladan, meraih OVOP (One Village One Product) Bintang 2, dan UMKM Inspirator.

Yuyun saat memenangkan SIA Awards ke-15 tahun 2024 (Dok. GNFI)

Puncaknya datang pada tahun 2024 ketika Yuyun diganjar penghargaan bergengsi SATU Indonesia Awards ke-15 dari PT Astra International Tbk untuk kategori kewirausahaan. Ia dinilai berjasa telah mengangkat Kampung Ntobo hingga dikenal luas.

Meski tidak punya ijazah pendidikan tinggi, Yuyun memiliki tekad kuat untuk melihat ibu-ibu di kampungnya bisa hidup lebih baik. Semua berkat keberaniannya memulai gerak yang menuai dampak positif.

Tembe Nggoli kian digemari sebab memiliki karakter yang unik. “Kainnya hangat saat dingin, dan sejuk saat panas,” ujar M. Natsir Kepala Dinas Pariwisata Kota Bima.

Keunggulan jalinan Tembe Nggoli seolah menegaskan semangat para perempuan Ntobo yang kuat di segala musim, bisa beradaptasi sesuai potensi lokal.

Menjahit asa masa depan

Kini, setiap kali matahari sore akan tenggelam, Yuyun duduk di depan rumahnya, memandangi barisan ibu yang menenun sambil bercengkerama. Anak-anak kecil berlarian di halaman, membawa gulungan benang warna-warni.

Suara tok-tak tok-tak terdengar lagi dengan irama yang sama, tapi kini dengan spirit dan makna yang baru. Ntobo bukan lagi kampung yang tersembunyi. Ia telah menjadi simbol perubahan—tentang bagaimana budaya bisa menjadi kekuatan ekonomi, tentang bagaimana seorang ibu bisa menenun bukan hanya kain, tapi juga masa depan sebuah komunitas.

Orang asing yang tertarik membeli Tembe Nggoli khas UKM Dina (Dok. Yuyun)

“Tenun bukan sekadar kain,” ujar Yuyun pelan. “Ia adalah cara kami bercerita. Cara kami bertahan. Dan cara kami bersyukur.”

Maka di setiap helai kain Tembe Nggoli yang kini terbang jauh hingga mancanegara, ada jalinan benang-benang harapan dari Kampung Ntobo. Itulah kampung yang bukan hanya menenun keindahan, tapi juga asa yang mengobarkan keberanian untuk bermimpi dan menginspirasi.

#APA2025-KSB