School of Computer Science BINUS University Raih Peringkat 2 Terbaik Indonesia

Editor dan pendongeng
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Isnaini Khomarudin tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
JAKARTA, Mei 2025 – Di era Ai saat ini, ketegangan bukan lagi soal perlu tidaknya AI dipakai di ranah kehidupan sehari-hari, melainkan soal bagaimana Ai dimanfaatkan sebagai peranti. Kabar menggembirakan sebab Indonesia memegang dua angka yang jarang disebut bersamaan, yaitu tingkat adopsi AI tertinggi di dunia, dengan 92 persen pekerja berpengetahuan sudah menggunakan AI generatif dalam pekerjaan sehari-hari, dan proyeksi kekurangan tiga juta talenta digital pada 2030.

Keduanya bukan kontradiksi, melainkan dua sisi dari ketegangan yang sama. Indonesia sangat cepat mengadopsi teknologi, tetapi masih berpacu untuk membangun cukup banyak orang yang bisa merancang, mengembangkan, dan mengelola teknologi tersebut dari dalam. Ekonomi digital Indonesia diproyeksikan berkontribusi lebih dari USD 130 miliar terhadap PDB pada 2025, sebuah pertumbuhan yang membutuhkan fondasi talenta yang tidak bisa hanya diandalkan dari adopsi alat semata.
Kekurangan ini bukan soal jumlah lulusan yang tidak cukup, melainkan soal jenis kompetensi yang dibutuhkan industri yang terus bergerak melampaui kurikulum konvensional. Laporan Future of Jobs 2025 dari World Economic Forum menempatkan literasi AI dan big data serta keamanan siber sebagai bidang dengan pertumbuhan permintaan tercepat dalam lima tahun ke depan.
Sebanyak 30 persen perusahaan di Indonesia melaporkan kesulitan menemukan talenta berkualitas tinggi meskipun jumlah pelamar tidak kekurangan. Industri bukan lagi mencari coder dengan kemampuan dasar, melainkan individu yang bisa membangun sistem AI, merancang arsitektur cloud, mengamankan infrastruktur digital, dan menerjemahkan semua itu ke dalam konteks bisnis yang kompleks.
Merespons pergeseran ini, School of Computer Science BINUS University melakukan pendekatan yang menempatkan mahasiswa berhadapan langsung dengan kompleksitas tersebut sejak awal masa studi. Konsentrasi seperti AI-Driven Development dan keamanan siber dirancang bersama lebih dari 2.200 mitra industri aktif untuk memastikan relevansi kurikulum terus diperbarui seiring perubahan kebutuhan pasar.
Prof. Dr. Ir. Derwin Suhartono, S.Kom., MTI - Dean School of Computer Science BINUS University menjelaskan bahwa mahasiswa tidak hanya belajar tentang teknologi, tetapi juga dibiasakan bekerja seperti engineer dengan mengidentifikasi masalah tanpa solusi buku teks, memilih pendekatan dari berbagai kemungkinan, dan mempertanggungjawabkan keputusan teknis dalam konteks bisnis yang nyata.
“Kami tidak hanya berfokus pada kemampuan teknis. Kami ingin membentuk talenta yang mampu memimpin transformasi digital dan menciptakan inovasi.”
Komitmen ini mendapat konfirmasi eksternal yang terukur dari industri global. Dalam QS World University Rankings by Subject 2026 bidang Computer Science and Information Systems, School of Computer Science BINUS University meraih posisi kedua terbaik di Indonesia secara keseluruhan. Pemeringkatan ini mencakup berbagai indikator, seperti Research and Discovery, Global Engagement, dan termasuk Employability yang mencerminkan tingkat kepercayaan rekruter dan industri terhadap kualitas lulusan. Artinya, posisi ini bukan hanya cerminan kualitas akademis lokal, melainkan pengakuan menyeluruh dari komunitas industri teknologi global bahwa lulusan School of Computer Science BINUS memenuhi standar kompetensi yang dibutuhkan di pasar kerja digital.
Rekam jejak tersebut dibangun dari pengalaman yang menempatkan mahasiswa dalam standar dunia nyata sejak masa studi. Mahasiswa School of Computer Science BINUS belajar mengimplementasikan AI secara praktis dalam kurikulum, didukung oleh akses ke layanan berbasis AI yang terintegrasi dalam ekosistem kampus. Kolaborasi dengan Apple dan Microsoft memastikan mereka bersentuhan langsung dengan standar industri teknologi global, sementara keterlibatan dalam hackathon, kompetisi ICPC, dan innovation challenge mengukur kemampuan mereka di bawah tekanan kompetisi internasional. Hasilnya bukan hanya transkrip nilai, tetapi portofolio kompetensi yang sudah diuji dalam kondisi yang mencerminkan dunia kerja sesungguhnya.
Bagi keluarga yang mendukung perjalanan pendidikan putra-putri mereka di bidang teknologi, pertanyaan yang paling mendasar sering kali bukan soal nama universitas, melainkan soal kepastian: apakah pilihan ini akan membuka peluang karier yang nyata dan berkelanjutan? Posisi kedua terbaik di Indonesia versi QS 2026 memberikan jawaban yang tidak bersandar pada klaim institusi, melainkan pada penilaian objektif yang mencakup reputasi akademik, kepercayaan industri, dan kekuatan riset secara bersamaan. Dikombinasikan dengan data yang konsisten, 80,1 persen lulusan sarjana BINUS sudah bekerja pada saat kelulusan dan 36,2 persen terserap di perusahaan global, angka-angka ini memberikan gambaran yang jauh lebih konkret tentang imbal hasil dari investasi pendidikan yang telah ditempuh.
“Industri tidak punya waktu untuk mendidik ulang lulusan baru. Yang kami pastikan adalah bahwa mahasiswa kami sudah pernah menghadapi kompleksitas itu selama kuliah, sebelum hari pertama mereka bekerja,” terang Prof. Dr. Ir. Derwin Suhartono, S.Kom., MTI
Alumni School of Computer Science BINUS kini berkarier sebagai software engineer, AI engineer, data scientist, cybersecurity specialist, dan product manager di perusahaan teknologi nasional maupun multinasional, tersebar di berbagai negara termasuk Singapura, Amerika Serikat, Belanda, dan Australia. Celah tiga juta talenta digital pada 2030 adalah tantangan yang membutuhkan institusi pendidikan yang mampu menghasilkan lulusan dengan kedalaman kompetensi yang tepat dan rekam jejak yang bisa diverifikasi. School of Computer Science BINUS membangun keduanya secara bersamaan, dan posisi kedua terbaik di Indonesia versi QS 2026 adalah konfirmasi bahwa arah tersebut sudah benar.
