Konten dari Pengguna

Dilema Perempuan dalam Struktur Sosial Ptriarki

Isnia Julia Putri

Isnia Julia Putri

Mahasiswa Pengantar Ilmu Politik, Prodi Ilmu komunikasi, FISIP UNTIRTA

·waktu baca 7 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Isnia Julia Putri tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

foto dibuat oleh AI
zoom-in-whitePerbesar
foto dibuat oleh AI

Hidup di lingkungan yang masih berdampingan dengan generasi sebelumnya membuat banyak nilai sosial terus diwariskan, termasuk cara pandang terhadap peran laki-laki dan perempuan. Saya tumbuh dengan melihat secara langsung bagaimana perbedaan perlakuan antara anak perempuan dan anak laki-laki dianggap sebagai sesuatu yang wajar. Anak perempuan dituntut untuk mandiri dalam segala hal, harus bisa memasak, membersihkan rumah, mengurus diri sendiri, bahkan kelak mengurus keluarga. Sementara itu, anak laki-laki sering kali dilayani tanpa dibekali tanggung jawab yang seimbang. Mereka diperlakukan “seperti raja”, tetapi tidak diajarkan bagaimana menjadi pemimpin yang benar-benar bertanggung jawab.

Pengalaman tersebut tidak hanya berhenti pada pembagian peran di rumah, tetapi juga membentuk ekspektasi yang lebih luas terhadap perempuan. Selain dituntut untuk menguasai pekerjaan domestik, perempuan juga diharapkan mampu berkontribusi secara ekonomi. Artinya, perempuan harus mampu menjalankan dua peran sekaligus: sebagai pengurus rumah tangga dan sebagai pencari nafkah. Beban ganda ini sering kali dianggap sebagai hal yang normal, bahkan sebagai standar ideal perempuan. Padahal, jika ditelaah lebih jauh, tuntutan ini menunjukkan adanya ketimpangan yang tidak disadari, di mana perempuan diharapkan melakukan lebih banyak tanpa adanya pembagian tanggung jawab yang setara.

Ketimpangan ini tidak hanya terjadi dalam ruang domestik, tetapi juga meluas ke cara masyarakat menilai kehidupan perempuan secara keseluruhan. Perempuan kerap tidak memiliki kebebasan penuh dalam menentukan jalan hidupnya. Ketika seorang perempuan dianggap sudah cukup umur untuk menikah, tekanan sosial mulai muncul. Jika ia belum memiliki pasangan atau memilih untuk tidak menikah, ia sering kali menjadi bahan pembicaraan dan penilaian. Seolah-olah nilai dirinya ditentukan oleh status pernikahan. Hal ini menunjukkan bahwa hingga saat ini, perempuan masih dibentuk dan diukur dalam berbagai aspek kehidupannya berdasarkan standar sosial patriarki yang telah lama mengakar dalam masyarakat.

Pengalaman yang saya lihat sehari-hari memperlihatkan bahwa pembagian peran di rumah tidak berjalan secara adil. Anak perempuan cenderung dibebani tanggung jawab domestik sejak usia dini. Mereka diajarkan untuk membantu ibu di dapur, membersihkan rumah, dan mengurus kebutuhan keluarga. Aktivitas ini sering dianggap sebagai bagian dari “latihan” untuk masa depan mereka sebagai istri dan ibu. Sebaliknya, anak laki-laki sering kali tidak mendapatkan tuntutan yang sama. Mereka lebih diberi kebebasan untuk fokus pada pendidikan atau aktivitas di luar rumah. Bahkan ketika mereka tidak melakukan pekerjaan rumah, hal tersebut jarang dipermasalahkan.

Situasi ini menciptakan ketimpangan sejak awal, di mana perempuan dilatih untuk melayani, sementara laki-laki tidak selalu diajarkan untuk berbagi tanggung jawab. Pengalaman ini tidak hanya terjadi di lingkungan saya, tetapi juga banyak diceritakan oleh orang lain, baik secara langsung maupun melalui media sosial. Banyak perempuan yang mengungkapkan bahwa mereka harus mengerjakan hampir seluruh pekerjaan rumah, sementara saudara laki-laki mereka tidak pernah diminta melakukan hal yang sama. Ketimpangan ini secara tidak langsung membentuk pola pikir bahwa pekerjaan domestik adalah “tugas perempuan”, bukan tanggung jawab bersama. Jika pola ini terus dibiarkan, maka ketidakadilan tersebut akan terus dianggap sebagai sesuatu yang normal dan sulit untuk diubah.

Fenomena tersebut dapat dipahami melalui konsep patriarki, yaitu sistem sosial yang menempatkan laki-laki sebagai pihak yang lebih dominan dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk dalam keluarga. Dalam sistem ini, peran gender dibentuk secara kaku, di mana perempuan diasosiasikan dengan ranah domestik, sedangkan laki-laki dengan ranah publik (Aini, 2023). Patriarki tidak selalu hadir dalam bentuk kekuasaan yang terlihat secara langsung, tetapi juga bekerja melalui norma, kebiasaan, dan nilai yang terus diwariskan dari generasi ke generasi.

Hal ini membuat banyak orang tidak menyadari bahwa mereka sedang mempertahankan sistem yang tidak setara. Pembagian peran yang timpang di rumah, misalnya, sering dianggap sebagai tradisi atau bagian dari budaya, padahal sebenarnya merupakan konstruksi sosial yang bisa diubah. Selain itu, patriarki juga memengaruhi cara masyarakat menilai keberhasilan seseorang (Hodijah et al., 2025). Laki-laki sering diukur dari pencapaian karier atau status ekonomi, sementara perempuan diukur dari kemampuannya mengurus rumah tangga dan keluarga. Standar ini membuat perempuan harus bekerja lebih keras untuk memenuhi ekspektasi yang berlapis, sementara kontribusi mereka sering kali kurang dihargai.

Tekanan terhadap perempuan tidak berhenti pada pembagian peran, tetapi juga muncul dalam bentuk tuntutan untuk menikah. Di banyak lingkungan, perempuan yang telah mencapai usia tertentu dianggap “terlambat” jika belum menikah. Bahkan, tidak jarang keluarga atau lingkungan sekitar mulai mencarikan pasangan atau mendorong perjodohan. Fenomena ini menunjukkan bahwa pernikahan masih dianggap sebagai tujuan utama dalam hidup perempuan. Pilihan untuk menunda atau tidak menikah sering kali tidak dipahami sebagai keputusan pribadi, melainkan dianggap sebagai kegagalan atau penyimpangan dari norma.

Tekanan ini juga diperkuat oleh stigma sosial yang berkembang di masyarakat. Perempuan yang belum menikah di usia tertentu kerap diberi label negatif, seperti “terlalu memilih” atau “tidak laku”. Sementara itu, laki-laki dalam situasi yang sama tidak selalu mendapatkan penilaian serupa. Ketimpangan ini menunjukkan bahwa standar sosial masih cenderung lebih membebani perempuan. Akibatnya, tidak sedikit perempuan yang akhirnya merasa tertekan, ragu terhadap pilihan hidupnya, atau bahkan mengambil keputusan besar seperti menikah bukan karena kesiapan, tetapi karena tuntutan lingkungan.

Standar patriarki yang terus dipertahankan memiliki dampak yang signifikan terhadap kehidupan perempuan. Salah satu dampak yang paling terlihat adalah tekanan mental. Perempuan yang harus memenuhi berbagai ekspektasi sering kali merasa terbebani dan kehilangan ruang untuk menjadi diri sendiri. Mereka dituntut untuk selalu “cukup” dalam berbagai peran sekaligus, namun jarang diberikan ruang untuk beristirahat atau mengekspresikan kelelahan yang mereka rasakan.

Beban ganda yang harus ditanggung, baik di ranah domestik maupun publik, dapat menyebabkan kelelahan fisik dan emosional. Perempuan tidak hanya dituntut untuk bekerja atau berprestasi di luar rumah, tetapi juga tetap bertanggung jawab atas urusan rumah tangga. Selain itu, tekanan untuk menikah dan memenuhi standar sosial tertentu juga dapat memengaruhi rasa percaya diri dan kebebasan dalam mengambil keputusan. Tidak sedikit perempuan yang akhirnya meragukan pilihan hidupnya sendiri karena takut tidak sesuai dengan ekspektasi lingkungan.

Dampak lainnya adalah terbatasnya pilihan hidup. Ketika perempuan terus diarahkan untuk mengikuti peran tertentu, mereka mungkin merasa tidak memiliki banyak pilihan selain mengikuti apa yang diharapkan oleh masyarakat. Hal ini dapat menghambat potensi mereka dalam berbagai bidang, baik pendidikan, karier, maupun pengembangan diri. Bahkan, dalam beberapa kasus, perempuan mungkin menunda atau mengorbankan impian pribadinya demi memenuhi tuntutan sosial yang ada.

Lebih jauh lagi, pola pikir yang terbentuk dari lingkungan patriarki dapat diwariskan ke generasi berikutnya. Perempuan yang tumbuh dalam sistem ini mungkin akan tanpa sadar meneruskan nilai-nilai yang sama kepada anak-anak mereka, sehingga siklus ketidaksetaraan terus berlanjut. Jika tidak ada kesadaran untuk mengubah pola ini, maka ketimpangan yang sama akan terus terjadi dan dianggap sebagai sesuatu yang normal dari waktu ke waktu (Hodijah et al., 2025).

Melalui pengalaman dan pengamatan yang saya alami, saya menyadari bahwa banyak hal yang selama ini dianggap wajar sebenarnya perlu dipertanyakan kembali. Perbedaan perlakuan antara laki-laki dan perempuan bukanlah sesuatu yang harus diterima begitu saja, melainkan sesuatu yang bisa diubah jika ada kesadaran bersama. Perubahan tidak selalu harus dimulai dari hal besar, tetapi bisa dimulai dari lingkungan terdekat, seperti keluarga.

Pada akhirnya, pengalaman-pengalaman tersebut menunjukkan bahwa standar patriarki masih membentuk kehidupan perempuan, meskipun sering kali tidak disadari. Saya percaya bahwa langkah sederhana seperti membagi tanggung jawab secara lebih adil di dalam rumah, serta menghargai pilihan hidup setiap individu tanpa memberikan tekanan yang tidak perlu, dapat menjadi awal perubahan. Perempuan seharusnya memiliki kebebasan untuk menentukan jalan hidupnya sendiri, tanpa harus dibatasi oleh standar yang tidak adil. Pada akhirnya, pertanyaannya adalah: apakah kita akan terus mempertahankan sistem yang membatasi, atau mulai membuka ruang untuk perubahan? Jawaban atas pertanyaan ini tidak hanya akan memengaruhi kehidupan perempuan, tetapi juga membentuk masa depan masyarakat secara keseluruhan.

Referensi

Aini, K. (2023). PERGESERAN IDEOLOGI PATRIARKI DALAM PERAN PENGASUHAN ANAK PADA SUAMI GENERASI MILENIAL SUKU JAWA. KRITIS, 32(02), 176–197.

Hodijah, S., Achdiani, Y., & Fatimah, S. N. (2025). Peran sistem patriarki dalam pembentukan pola asuh anak. Triwikrama: Jurnal Ilmu Sosial, 11(8).