Konten dari Pengguna
Gengsi Merantai, Realita Tersisih: Ketika Citra Mengalahkan Prioritas
26 Mei 2025 16:45 WIB
·
waktu baca 3 menit
Kiriman Pengguna
Gengsi Merantai, Realita Tersisih: Ketika Citra Mengalahkan Prioritas
Diera sekarang anak muda gengsi, ketika keluar atau ingin hang out bersama teman tidak memakai atau membawa barang yang bermerekIstna Najwa
Tulisan dari Istna Najwa tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
ADVERTISEMENT
Zaman sekarang sebagian besar anak muda merasa tidak percaya diri apabila keluar rumah atau bergaul tanpa membawa ponsel dengan merek tertentu. Hal ini bukan semata karena kebutuhan komunikasi, melainkan lebih kepada pencitraan diri. Untuk memenuhi keinginan itu, ada beberapa kasus dimana mereka rela mengorbankan kebutuhan utama, termasuk biaya pendidikan, keperluan pokok, bahkan menempuh utang demi sebuah benda yang menjanjikan pengakuan sosial.
ADVERTISEMENT
Masalah ini diperparah oleh peran media sosial. Platform digital yang awalnya bertujuan untuk membangun komunikasi dan kreativitas, kini menjadi panggung utama untuk mempertontonkan gaya hidup mewah. Unggahan yang menampilkan barang mewah, liburan eksklusif, atau pengalaman konsumtif lainnya seolah menjadi tolok ukur keberhasilan. Tekanan ini mendorong pengguna lain untuk ikut tampil serupa, meski harus mengorbankan kebutuhan penting lainnya.
Dalam jangka panjang, pola hidup seperti ini dapat menimbulkan stres, kelelahan mental, bahkan putus asa. Ketika realita kehidupan tidak mampu menyamai citra yang dibangun, seseorang bisa kehilangan arah. Ia akan merasa gagal bukan karena ketidakmampuan, melainkan karena tidak sanggup mengikuti gaya hidup semu yang tidak pernah ada ujungnya.
Disisi lain, tekanan sosial juga memunculkan ketimpangan sosial. Mereka yang tidak mampu membeli barang mewah akan merasa terasing dan tidak percaya diri. Hubungan individu akan terasa rendah, hanya berlandaskan dengan penampilan, bukan pada nilai-nilai kepribadian, kecerdasan atau kesetiaan.
ADVERTISEMENT
Dalam konteks sosial dan pendidikan, kondisi ini sangat mengkhawatirkan. Ketika individu memilih untuk mendahulukan citra dibandingkan pendidikan, maka ia telah menukar masa depan dengan kebanggaan sesaat. Hal ini juga menunjukkan kurangnya pemahaman tentang pengelolaan keuangan, kedewasaan berpikir, serta nilai-nilai moral yang seharusnya ditanamkan sejak dini.
Fenomena ini perlu disikapi dengan kesadaran dari setiap individu. Anak muda perlu diberi ruang untuk memahami bahwa nilai diri tidak ditentukan oleh merek barang yang digunakan. Yang lebih penting adalah bagaimana seorang individu berpikir, bersikap, dan berkontribusi dalam lingkungan sekitarnya.
Kesederhanaan bukanlah kelemahan, melainkan bentuk kedewasaan dalam menentukan prioritas. Mengutamakan kebutuhan diatas keinginan menunjukkan kematangan dalam berpikir dan keberanian untuk menolak tekanan yang tidak sehat. Tidak ada salahnya memiliki barang bermerek, tetapi menjadikan barang tersebut sebagai syarat pergaulan adalah bentuk penilaian yang keliru.
ADVERTISEMENT
Menjadi muda adalah fase untuk belajar, mencoba, dan membentuk jati diri. Jika fase ini dihabiskan untuk mengejar pengakuan sosial yang semu, maka yang dikorbankan bukan hanya keuangan pribadi, tetapi juga kesempatan berkembang secara nyata.
Lingkungan sekitar, termasuk keluarga, teman, dan institusi pendidikan, perlu mendorong pemahaman ini. Masyarakat harus berhenti menilai seseorang dari apa yang dia pakai dan mulai menghargai apa yang ia perjuangkan. Ketika citra tidak menjadi tolok ukur utama, maka akan tercipta ruang yang lebih sehat untuk tumbuh bersama.
Citra bisa dibentuk dengan cara yang lebih jujur, melalui kerja keras, integritas, dan pencapaian nyata. Ketika seseorang mampu menunjukkan siapa dirinya melalui tindakan, bukan barang yang ia miliki, maka itulah citra yang layak dibanggakan.
ADVERTISEMENT

