Karhutla Kalimantan 2026: Ketika Asap Mengganggu Kesehatan dan Aktivitas Warga

Mahasiswa Ilmu Komunikasi Univesitas Pamulang
ยทwaktu baca 3 menit
Tulisan dari Iswahyuningrum tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Akhir-akhir ini situasi di Indonesia membuat cemas banyak orang khususnya warga Kalimantan yang terpapar asap kebakaran hutan. Tercatat sudah ribuan hektar terbakar dari awal bulan di tahun 2026 hingga saat ini ditambah kekeringan dan hujan tak kunjung turun mengakibatkan kebakaran kian meluas setiap harinya.
Karhutla (Kebakaran Hutan dan Lahan) di Kalimantan viral usai foto dua orang siswa SD memakai masker di tengah jalan yang dikelilingi kabut asap pekat. Mengutip dari BBC Indonesia, Banjarbaru yang menjadi Ibukota Kalimantan Selatan mengalami paparan asap yang parah dan membuat warga sesak napas akibat kebakaran hutan.
Kalimantan Selatan bukan satu-satunya provinsi di pulau Kalimantan yang mengalami hal ini, kabut asap juga meluas hingga ke Pontianak dan Palangkaraya. Petugas pemadam kebakaran sudah dikerahkan untuk memadamkan api namun tanah gambut menjadikan para petugas kesulitan ditambah hujan yang tak kunjung turun dan kekeringan.
Data dari Kementerian Kehutanan tahun 2026 menunjukkan bahwa aktivitas kebakaran hutan dan lahan masih menjadi persoalan yang perlu diwaspadai di sejumlah wilayah Kalimantan. Tercatat sekitar 340 Kabupaten dari 38 Provinsi di Indonesia terjadi kebakaran hutan dan lahan lalu sekitar 202 ribu hektare lebih telah terbakar membuat hutan di Indonesia semakin berkurang dari tahun ke tahun.
Salah satu dampak yang paling terasa adalah menurunnya kualitas udara bersih akibat kabut asap yang semakin pekat. Paparan asap kebakaran dapat mengganggu sistem pernapasan, terutama bagi kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, ibu hamil, dan masyarakat yang memiliki gangguan pernapasan. Ketika kualitas udara memburuk aktivitas warga pun ikut terdampak. Masyarakat harus mengurangi aktivitas di luar ruangan serta pembelajaran jarak jauh dan perjalanan menggunakan kendaraan pribadi maupun transportasi umum bisa berbahaya akibat jarak pandang yang terganggu.
Kabut Asap Mulai Mengganggu Aktivitas Warga
Kebakaran hutan dan lahan bukanlah persoalan lingkungan biasa. Asap yang dihasilkan juga dapat memengaruhi kualitas udara di sekitarnya dan mengganggu aktivitas warga sehari-hari. Berdasarkan data dari Kementerian Kehutanan sejumlah wilayah di Indonesia seperti Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Riau, Jambi, dan Sumatera Selatan berada dalam kondisi yang mengkhawatirkan dari Sedang hingga Tidak Sehat, Sangat Tidak Sehat, bahkan Berbahaya. Jika tidak dihentikan dan warga terus-terusan menghirup kabut asap akan mengakibatkan gangguan pernapasan seperti ISPA.
Dampak Kabut Asap bagi Kesehatan Warga
Paparan asap Karhutla menjadi salah satu persoalan yang perlu diperhatikan ketika kebakaran terjadi dalam skala yang luas. Asap dapat membawa partikel dan polutan yang berpotensi mengganggu sistem pernapasan manusia. Oleh karena itu, masyarakat di wilayah terdampak perlu memerhatikan kondisi kualitas udara ketika ingin keluar rumah dan membatasi aktivitas di luar ruangan untuk sementara waktu.
Pemadaman Karhutla Menghadapi Tantangan karena Lahan Gambut
Di sisi lain, proses pemadaman terbilang cukup sulit dan penuh tantangan. Karakteristik lahan dan kondisi cuaca dapat menjadi tantangan serius dalam mengendalikan dan proses pemadaman api. Pemerintah melalui Manggala Agni Kemenhut dan tim gabungan lainnya melakukan berbagai upaya, mulai dari pemadaman di lapangan, pemantauan hotspot, patroli, hingga operasi penyisiran melalui jalur udara di wilayah tertentu.
Penutup
Karhutla Kalimantan 2026 menunjukkan bahwa kebakaran hutan dan lahan bukan sekedar persoalan lingkungan biasa, karena berdampak pada kualitas udara dan aktivitas masyarakat sehari-hari. Pengendalian kebakaran membutuhkan penanganan di lapangan sekaligus upaya pencegahan agar titik api tidak terus meluas.
Kondisi cuaca dan lahan yang mendukungb penyebaran api membuat kewaspadaan warga tetapi diperlukan agar dampak kabut asap tidak semakin meluas.
