Konten dari Pengguna

Pancasila Bukan Pajangan, Bro!

Menurut kamu pancasila itu apa? apakah logo burung di atas dinding kelas? bukan yaa.

Foto ilustrasi yang dibuat dengan chatgpt
zoom-in-whitePerbesar
Foto ilustrasi yang dibuat dengan chatgpt

Kalau mendengar kata Pancasila, apa yang langsung muncul di kepala?

Upacara bendera? Hari Senin? Hafalan lima sila? Atau mungkin buku Pendidikan Pancasila yang entah kenapa selalu terasa lebih berat ketika dibawa pulang?

Buat saya, Pancasila sering kali terasa seperti sesuatu yang sangat serius. Namanya juga dasar negara. Pembahasannya penuh kata-kata besar seperti persatuan, keadilan, kemanusiaan,dan musyawarah.

Tapi kalau dipikir-pikir lagi, sebenarnya Pancasila itu dekat banget dengan kehidupan kita. Bahkan mungkin kita sudah menerapkannya tanpa sadar.

Masalahnya, kita sering menganggap Pancasila sebagai sesuatu yang hanya perlu diingat ketika ada tugas sekolah.

Padahal, Pancasila bukan pajangan.

Bro, Pancasila itu harus dipakai.

Pancasila Dimulai dari Hal Receh

Contohnya sederhana.

Pernah nggak kita melihat teman membawa makanan, lalu dia bilang, “Mau?”

Kita jawab, “Nggak.”

Lima detik kemudian:

“Eh... serius nggak boleh?”

Nah, itu bukan pembahasan Pancasila. Itu pembahasan penyesalan.

Tapi dari hal kecil seperti berbagi makanan, kita sebenarnya sedang belajar tentang kepedulian kepada orang lain.

Atau ketika teman kita berbeda pendapat.

Misalnya, kita bilang:

“Menurut gue film ini bagus banget.”

Teman menjawab:

“Bagus dari mana? Bikin ngantuk!”

Biasanya setelah itu terjadi debat nasional.

Padahal, kita bisa saja berbeda pendapat tanpa harus membuat hubungan pertemanan berubah menjadi sidang pengadilan.

Mendengarkan pendapat orang lain, menghargai perbedaan, dan mencari jalan tengah adalah contoh sederhana dari nilai-nilai Pancasila.

Jadi, mengamalkan Pancasila nggak harus selalu melakukan sesuatu yang kelihatannya besar.

Kadang cukup dengan nggak egois dan nggak merasa pendapat kita paling benar.

Sila Pertama Bukan Cuma Hafalan

Sila pertama mengajarkan kita untuk berketuhanan dan menghargai kehidupan beragama.

Dalam kehidupan sehari-hari, bentuknya bisa sederhana.

Misalnya, ketika teman sedang beribadah, kita tidak mengganggunya.

Atau ketika seseorang punya kebiasaan dan cara beribadah yang berbeda dengan kita, kita nggak perlu langsung menjadi komentator kehidupan.

“Loh, kok caranya begitu?”

Ya... mungkin memang begitu caranya.

Kita nggak harus selalu memahami semua perbedaan untuk bisa menghargainya.

Karena hidup akan jauh lebih damai kalau kita belajar bahwa berbeda bukan berarti harus bermusuhan.

Sila Kedua: Jangan Jadi Netizen yang Gampang Marah

Sila kedua mengajarkan tentang kemanusiaan yang adil dan beradab.

Kalau diterapkan di kehidupan sehari-hari, salah satu bentuknya adalah memperlakukan orang lain dengan baik.

Termasuk di internet.

Kadang jempol kita memang lebih cepat daripada otak.

Lihat komentar orang yang nggak kita suka:

Langsung ketik.

Lihat pendapat yang berbeda:

Langsung balas.

Lihat orang melakukan kesalahan:

Screenshot dulu.

Padahal, di balik akun media sosial itu ada manusia juga.

Manusia yang bisa punya perasaan.

Jadi sebelum menulis komentar pedas, mungkin kita bisa bertanya kepada diri sendiri:

“Kalau kalimat ini diucapkan langsung di depan muka gue, gue masih berani ngomong nggak?”

Kalau jawabannya, “Hmm... kayaknya nggak,” mungkin tombol hapus lebih berguna daripada tombol kirim.

Sila Ketiga: Jangan Cuma Kompak Saat Mau Nongkrong

Persatuan Indonesia.

Kalau diterjemahkan ke kehidupan sehari-hari, sebenarnya gampang.

Kita boleh beda selera, beda hobi, beda daerah, beda cara berpikir, bahkan beda pilihan makanan.

Teman bilang:

“Gue suka pedas.”

Kita:

“Gue nggak kuat pedas.”

Solusinya?

Pesan dua makanan.

Selesai.

Tidak perlu perang dunia ketiga.

Persatuan bukan berarti semua orang harus sama.

Justru persatuan menjadi penting karena kita memang berbeda.

Kalau semua orang punya pendapat yang sama, hidup mungkin akan membosankan.

Bayangkan kalau semua teman kita menyukai makanan yang sama, film yang sama, musik yang sama, dan punya pendapat yang sama.

Nggak ada bahan debat.

Nggak ada bahan bercanda.

Nggak ada yang bisa bilang, “Selera lo aneh banget.”

Sedih juga.

Sila Keempat: Musyawarah Sebelum Grup Bubrah

Nah, ini yang paling terasa dalam kehidupan pertemanan.

Mau makan di mana?

“Bebas.”

“Yaudah, bakso.”

“Jangan bakso.”

“Terus mau apa?”

“Terserah.”

Inilah awal mula sebuah musyawarah yang panjang.

Musyawarah sebenarnya bukan sesuatu yang rumit.

Intinya adalah mendengarkan pendapat orang lain dan mencari keputusan yang bisa diterima bersama.

Jadi kalau dalam grup ada lima orang dan semuanya ingin makan di tempat berbeda, jangan langsung keluar grup.

Diskusikan.

Kalau perlu voting.

Kalau hasil voting nggak sesuai keinginan kita, ya...

belajar menerima kenyataan.

Itu juga bagian dari kehidupan.

Sila Kelima: Adil Itu Bukan Berarti Semua Harus Dapat Sama

Keadilan juga sering kita temui dalam hal kecil.

Misalnya ketika mengerjakan tugas kelompok.

Jangan sampai satu orang mengerjakan semuanya, sementara yang lain kontribusinya hanya:

“Semangat ya!”

Lalu muncul sehari sebelum deadline:

“Guys, udah selesai belum?”

Kalau tugasnya kelompok, ya dikerjakan bersama.

Keadilan juga berarti tidak mengambil hak orang lain dan tidak hanya memikirkan kepentingan sendiri.

Karena hidup bersama membutuhkan sedikit rasa peduli.

Kalau semua orang hanya berpikir, “Yang penting gue enak,"

lama-lama orang di sekitar kita yang pusing.

Jadi, Pancasila Harus Mulai dari Mana?

Menurut saya, dari hal yang paling sederhana.

Mulai dari menghargai orang lain.

Mulai dari mau mendengarkan.

Mulai dari tidak memaksakan kehendak.

Mulai dari membantu teman yang kesulitan.

Mulai dari antre tanpa pura-pura tidak melihat barisan.

Mulai dari tidak menyerobot tempat orang.

Mulai dari mengembalikan barang yang kita pinjam.

Dan yang paling sulit:

Mulai dari mengakui kalau kita juga bisa salah.

Karena mengamalkan Pancasila tidak selalu membutuhkan pidato panjang, pakaian formal, atau berdiri tegap di lapangan.

Kadang Pancasila hadir dalam bentuk yang sangat sederhana.

Ketika kita berbagi makanan.

Ketika kita membantu teman.

Ketika kita menghargai perbedaan.

Ketika kita mau mendengarkan pendapat orang lain.

Ketika kita memilih untuk tidak menyakiti orang lain hanya karena kita sedang kesal.

Jadi, mungkin sudah waktunya kita berhenti melihat Pancasila sebagai lima kalimat yang harus dihafalkan.

Pancasila bukan pajangan, Bro.

Bukan cuma tulisan di dinding kelas.

Bukan cuma materi ujian.

Bukan cuma sesuatu yang muncul ketika upacara.

Pancasila adalah nilai yang sebenarnya bisa kita bawa ke mana-mana.

Ke sekolah.

Ke rumah.

Ke tempat nongkrong.

Bahkan ke kolom komentar.

Karena pada akhirnya, menjadi manusia yang Pancasilais mungkin nggak perlu dimulai dari sesuatu yang besar.

Cukup mulai dari menjadi manusia yang baik kepada manusia lainnya.

Dan kalau itu saja sudah kita lakukan setiap hari, mungkin Pancasila sebenarnya sudah tidak lagi menjadi pajangan.

Dia sudah menjadi kebiasaan.