Konten dari Pengguna

Pancasila: Dari Buku Pelajaran ke Kehidupan Nyata

Ayo terapkan nilai pancasila dalam kehidupan nyata!

Foto ilustrasi ini dibuat dengan chatjgpt
zoom-in-whitePerbesar
Foto ilustrasi ini dibuat dengan chatjgpt

Dulu, ketika mendengar kata Pancasila, yang terbayang di kepala saya adalah buku pelajaran, upacara bendera, dan tugas menghafalkan lima sila.

Ada masa ketika menghafalkan Pancasila terasa seperti tantangan hidup.

“Ketuhanan Yang Maha Esa, Kemanusiaan yang Adil dan Beradab, Persatuan Indonesia…”

Lancar.

Sampai sila keempat.

Tiba-tiba otak seperti melakukan loading.

Padahal cuma lima.

Saat masih sekolah, Pancasila terasa seperti sesuatu yang harus dihafalkan karena akan keluar di ujian. Kita tahu urutannya, tahu lambangnya, bahkan mungkin tahu letak simbol setiap sila di perisai Garuda.

Tapi setelah semakin sering berhadapan dengan kehidupan nyata, saya mulai berpikir bahwa Pancasila ternyata bukan sekadar materi yang ada di halaman buku.

Pancasila ternyata sering muncul dalam kehidupan sehari-hari.

Bahkan kadang muncul di situasi yang sama sekali tidak kita duga.

Contohnya adalah ketika kita sedang antre.

Antre terlihat sederhana. Kita datang, berdiri di belakang orang lain, lalu menunggu giliran.

Masalahnya, manusia memiliki satu musuh alami bernama “ingin cepat”.

Ketika melihat antrean panjang, pikiran mulai mencari berbagai kemungkinan.

“Kalau pindah antrean, lebih cepat nggak, ya?”

Lalu kita pindah.

Ternyata antrean sebelah malah lebih lambat.

Kita kembali melihat antrean pertama.

Orang yang tadi berada di belakang kita sekarang sudah berada di depan.

Pada saat itu, kita mungkin merasa sedang mengalami ketidakadilan tingkat nasional.

Padahal masalahnya cuma antrean.

Dari situ kita belajar bahwa menghargai hak orang lain ternyata tidak selalu membutuhkan tindakan besar. Kadang cukup dengan berdiri di tempat kita dan menunggu giliran.

Pancasila juga terasa ketika kita berada di lingkungan yang penuh perbedaan.

Di sekolah, kampus, tempat kerja, atau lingkungan pertemanan, kita pasti bertemu orang dengan karakter yang berbeda-beda.

Ada yang suka berbicara panjang.

Ada yang lebih suka diam.

Ada yang kalau mengerjakan tugas langsung selesai.

Ada juga yang baru aktif ketika deadline sudah terlihat dari kejauhan.

Anehnya, kita tetap bisa berteman.

Bahkan sering kali justru perbedaan itulah yang membuat sebuah kelompok menjadi menarik.

Bayangkan kalau semua orang memiliki sifat yang sama.

Satu kelompok tugas berisi orang-orang yang semuanya pendiam.

Ketika dosen bertanya, semuanya diam.

Ketika ada tugas, semuanya diam.

Ketika deadline semakin dekat, semuanya masih diam.

Mungkin bukan kelompok tugas namanya.

Itu kelompok meditasi.

Di situlah persatuan menjadi penting.

Persatuan bukan berarti semua orang harus memiliki pendapat yang sama. Justru kita belajar hidup bersama meskipun memiliki perbedaan.

Hal yang sama juga terjadi ketika kita berdiskusi.

Misalnya, ketika satu kelompok sedang menentukan tempat untuk makan.

Satu orang ingin bakso.

Satu orang ingin mie ayam.

Satu orang ingin ayam geprek.

Dan satu orang lagi berkata, “Terserah.”

Orang yang bilang “terserah” biasanya adalah orang yang paling banyak protes setelah keputusan dibuat.

“Kenapa di sini?”

“Katanya terserah.”

“Iya, terserah. Tapi bukan di sini.”

Di sinilah musyawarah benar-benar diuji.

Kita belajar mendengarkan pendapat orang lain, menyampaikan pendapat sendiri, kemudian mencari keputusan yang bisa diterima bersama.

Memang terdengar sederhana.

Tetapi ternyata mengambil keputusan bersama tidak semudah membaca teorinya di buku.

Karena di buku, semua orang terlihat tenang dan rasional.

Di kehidupan nyata, semua orang bisa lapar.

Dan manusia yang lapar biasanya memiliki prinsip politik yang berbeda.

Selain itu, Pancasila juga mengajarkan kita tentang kemanusiaan.

Hal ini bisa dimulai dari sesuatu yang sangat sederhana.

Ketika melihat teman kesulitan membawa banyak barang, kita membantu.

Ketika teman sedang bercerita, kita mendengarkan.

Ketika seseorang melakukan kesalahan, kita tidak langsung menjadikannya bahan lelucon di depan banyak orang.

Atau ketika teman kita sedang tidak baik-baik saja, kita cukup bertanya, “Kamu gapapa?”

Kadang pertanyaan sederhana seperti itu bisa berarti banyak.

Kita sering berpikir bahwa berbuat baik harus selalu dalam bentuk sesuatu yang besar. Padahal, perhatian kecil juga merupakan bentuk kepedulian.

Pancasila akhirnya terasa bukan seperti lima kalimat yang harus kita hafalkan, tetapi seperti lima pengingat tentang bagaimana kita hidup bersama orang lain.

Dari buku pelajaran, Pancasila perlahan pindah ke kehidupan nyata.

Dari halaman buku ke antrean kasir.

Dari materi ujian ke meja makan.

Dari hafalan di kelas ke percakapan bersama teman.

Dan dari teori menjadi kebiasaan.

Mungkin itulah bagian menariknya.

Kita tidak harus menunggu menjadi orang penting untuk menerapkan nilai-nilai Pancasila.

Tidak harus menunggu ikut kegiatan besar.

Tidak harus menunggu upacara.

Bahkan tidak perlu memakai pakaian formal.

Kita bisa memulainya dari hal-hal kecil.

Menghargai orang lain.

Tidak memaksakan kehendak.

Mau mendengarkan.

Mau membantu.

Mau berbagi.

Dan yang paling sederhana, mau mengakui bahwa terkadang pendapat kita memang bisa salah.

Walaupun yang terakhir mungkin membutuhkan latihan paling banyak.

Karena pada akhirnya, kehidupan nyata tidak seperti buku pelajaran.

Di buku, pertanyaannya memiliki jawaban.

Di kehidupan nyata, terkadang kita harus mencari jawabannya bersama-sama.

Dan mungkin, di situlah Pancasila sebenarnya hidup.

Bukan hanya di halaman buku yang kita baca ketika ada ujian, tetapi di antara percakapan, perbedaan pendapat, antrean, pertemanan, dan berbagai drama kecil yang kita jalani setiap hari.

Jadi, kalau dulu Pancasila hanya terasa seperti materi yang harus dihafalkan, sekarang mungkin kita bisa melihatnya dari sudut pandang yang berbeda.

Pancasila bukan sekadar lima sila yang kita ingat.

Pancasila adalah bagaimana kita bersikap ketika tidak ada yang menyuruh.

Karena ternyata menjadi manusia yang baik tidak selalu dimulai dari sesuatu yang besar.

Kadang dimulai dari hal yang sangat sederhana:

Menghargai giliran orang lain.

Mendengarkan sebelum menjawab.

Tidak egois ketika mengambil makanan.

Dan, tentu saja, tidak mengambil gorengan terakhir teman tanpa bertanya.

Karena kalau urusan gorengan saja kita sudah bisa menerapkan keadilan, mungkin kita sudah selangkah lebih dekat untuk membawa Pancasila dari buku pelajaran ke kehidupan nyata.