Konten dari Pengguna

Pengalamanku Mencoba Budaya Lokal dan Budaya Asing

Achmad Zidan Ali
Mahasiswa Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Jember
1 Juni 2025 13:01 WIB
·
waktu baca 5 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kiriman Pengguna
Pengalamanku Mencoba Budaya Lokal dan Budaya Asing
Menjelajahi budaya lokal Banyuwangi dan budaya asing seperti cosplay dan fashion show, penulis menemukan makna identitas, kreativitas, dan toleransi budaya.
Achmad Zidan Ali
Tulisan dari Achmad Zidan Ali tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Glenmore, Banyuwangi ((Gambar diambil oleh saya sendiri))
zoom-in-whitePerbesar
Glenmore, Banyuwangi ((Gambar diambil oleh saya sendiri))
ADVERTISEMENT
Indonesia sebagai negara kepulauan memiliki keberagaman budaya yang sangat kaya. Setiap daerah memiliki ciri khas masing-masing, baik dalam tradisi, seni pertunjukan, hingga adat istiadat. Salah satu daerah yang menyimpan kekayaan budaya tersebut adalah Banyuwangi, sebuah kabupaten di ujung timur Pulau Jawa yang dikenal dengan julukan “Sunrise of Java.” Di sisi lain, dunia juga menawarkan pengalaman budaya asing yang tak kalah menarik, seperti cosplay dan fashion show yang berasal dari budaya populer Jepang dan Barat.
ADVERTISEMENT
Saya berkesempatan merasakan dua pengalaman yang sangat berbeda namun sama-sama memikat: menyelami budaya lokal Banyuwangi dan mencoba budaya asing melalui cosplay dan fashion show. Dua pengalaman ini membuka wawasan saya tentang pentingnya menghargai dan memahami budaya, baik yang berasal dari tanah air sendiri maupun dari luar negeri.
Menyelami Budaya Lokal Banyuwangi
Perjalanan saya ke Banyuwangi bermula dari keinginan untuk mengenal lebih dekat warisan budaya asli Indonesia. Banyuwangi bukan hanya terkenal karena keindahan alamnya, seperti Kawah Ijen dan Pantai Pulau Merah, tetapi juga karena kekayaan budayanya yang masih lestari. Salah satu kegiatan yang paling berkesan adalah mengikuti Festival Gandrung Sewu, pertunjukan massal yang melibatkan ribuan penari gandrung di tepi Pantai Boom, serta acara tahunan seperti karnaval.
Karnaval tingkat SMP tahun 2022, Glenmore - Banyuwangi. (Gambar diambil oleh saya sendiri)
Gandrung adalah tarian tradisional khas Banyuwangi yang dulu dipentaskan sebagai bentuk rasa syukur kepada Dewi Sri atas hasil panen. Kini, gandrung menjadi ikon budaya daerah tersebut dan dipentaskan secara luas dalam berbagai festival. Saya tidak hanya menjadi penonton, tetapi juga diberi kesempatan untuk berpartisipasi dalam latihan tari bersama warga setempat. Dengan mengenakan kebaya khas Banyuwangi dan selendang merah yang menjadi ciri penari gandrung, saya belajar gerakan dasar dari para penari senior. Suasana latihan penuh semangat dan kekeluargaan, membuat saya merasa seperti bagian dari komunitas.
ADVERTISEMENT
Selain tari gandrung, saya juga menjajal makanan khas Banyuwangi seperti sego tempong, yaitu nasi dengan sambal pedas dan lauk pauk sederhana. Makanan ini mencerminkan karakter masyarakat Banyuwangi yang sederhana namun penuh semangat. Tak ketinggalan, saya mengunjungi desa adat Osing di Kemiren, tempat di mana budaya asli suku Osing—penduduk asli Banyuwangi—masih dijaga dengan baik. Saya disambut dengan hangat oleh warga desa, diajak mengenal alat musik tradisional angklung paglak, dan menikmati sajian kopi lanang khas Banyuwangi.
Pengalaman ini membuat saya merasa bangga menjadi bagian dari bangsa Indonesia yang kaya budaya. Saya menyadari bahwa menjaga dan melestarikan budaya lokal bukan hanya tugas pemerintah, tetapi juga tanggung jawab generasi muda seperti saya.
Karnaval umum yang saya ikuti dengan kostum adat tradisional Bali, Glenmore - Banyuwangi. (Gambar diambil oleh saya sendiri)
Menjelajahi Budaya Asing: Cosplay dan Fashion Show
ADVERTISEMENT
Setelah pengalaman mendalam dengan budaya lokal, saya mencoba sesuatu yang berbeda: memasuki dunia budaya populer asing melalui cosplay dan fashion show. Budaya ini banyak dipengaruhi oleh perkembangan hiburan dan seni dari luar negeri, khususnya Jepang dan negara-negara Barat.
Cosplay, atau “costume play”, merupakan aktivitas mengenakan kostum dan riasan untuk menyerupai karakter dari anime, manga, film, atau video game. Saya pertama kali tertarik setelah menonton sebuah acara anime expo di Jakarta. Ketertarikan ini berkembang menjadi keinginan untuk ikut serta dalam acara tersebut sebagai cosplayer. Karakter pertama yang saya perankan adalah Mikasa Ackerman dari anime Attack on Titan. Menyusun kostum, mempelajari karakter, hingga mempersiapkan pose khas, semuanya memerlukan waktu dan usaha.
Event Cosplay yang diadakan pada akhir tahun 2024 berletak di UNIPAR, Jember. (Gambar diambil oleh saya sendiri)
Yang menarik dari dunia cosplay adalah komunitasnya yang sangat suportif. Meskipun berbeda latar belakang dan usia, para cosplayer saling membantu dan berbagi tips. Saat tampil di acara, saya tidak hanya menunjukkan hasil karya kostum, tetapi juga merasakan atmosfer persaudaraan yang luar biasa. Di sinilah saya menyadari bahwa budaya asing juga dapat menjadi sarana untuk membangun kebersamaan dan mengekspresikan diri.
ADVERTISEMENT
Selain cosplay, saya juga mencoba mengikuti fashion show bertema modern internasional yang diadakan oleh sebuah kampus seni. Di sini, saya bukan hanya peserta, tetapi juga diajak memahami pentingnya fashion sebagai bentuk seni dan komunikasi. Saya belajar bagaimana tren fashion mencerminkan dinamika sosial, ekonomi, dan budaya suatu bangsa. Fashion show yang saya ikuti mengangkat tema "Sustainable Fashion", dengan menggunakan bahan daur ulang untuk membuat busana yang tetap stylish. Proses ini memberi saya pandangan baru tentang bagaimana industri kreatif bisa berperan dalam menyelamatkan lingkungan.
Berbeda dengan budaya lokal yang berakar pada tradisi, cosplay dan fashion show menekankan aspek ekspresi individu dan kreativitas personal. Meski berasal dari budaya asing, kegiatan ini tidak sekadar meniru, tetapi juga memberi ruang untuk interpretasi, inovasi, dan adaptasi terhadap konteks lokal.
Fashion show yang diselenggarakan ketika adanya ospek prodi Pendidikan Bahasa Inggris pada jelang akhir tahun 2024 di Universitas Jember. (Gambar diambil oleh saya sendiri)
Pelajaran Yang Dapat Diambil Sebagai Generasi Penerus
ADVERTISEMENT
Mengalami dua dunia yang berbeda ini memberikan saya pemahaman yang lebih luas tentang arti dari budaya. Budaya lokal seperti yang saya temui di Banyuwangi menekankan nilai-nilai kebersamaan, warisan leluhur, dan identitas. Sementara budaya asing yang saya coba melalui cosplay dan fashion show lebih menekankan pada ekspresi individu, kreativitas, dan inovasi.
Keduanya sama-sama penting. Budaya lokal memberikan akar, tempat kita berpijak, identitas yang membentuk jati diri kita sebagai bagian dari suatu bangsa. Sedangkan budaya asing membuka jendela dunia, memperkaya wawasan, dan mengasah kreativitas kita agar mampu bersaing secara global.
Yang paling penting adalah bagaimana kita menyikapi kedua budaya ini dengan sikap terbuka dan kritis. Tidak semua budaya asing harus ditiru mentah-mentah, dan tidak semua budaya lokal harus dipertahankan tanpa perubahan. Kita perlu memilah, memahami, dan mengadaptasi sesuai konteks zaman tanpa kehilangan jati diri.
ADVERTISEMENT
Kesimpulan
Pengalaman menjelajahi budaya lokal Banyuwangi dan mencoba budaya asing melalui cosplay dan fashion show adalah perjalanan yang luar biasa. Dari sana, saya belajar bahwa budaya bukanlah sesuatu yang kaku, melainkan sesuatu yang hidup dan dinamis. Budaya adalah cerminan dari cara kita berpikir, merasakan, dan berinteraksi dengan dunia.
Sebagai generasi muda, kita memiliki peran penting untuk menjaga warisan budaya sekaligus menjadi jembatan yang menghubungkan budaya lokal dengan budaya global. Dengan memahami dan menghargai keduanya, kita bisa menjadi pribadi yang tidak hanya berakar kuat di tanah sendiri, tetapi juga mampu menjangkau cakrawala dunia.