Jamur Aja Pengantin, Masa Kamu Enggak?

Mycologist
Tulisan dari Ivan Permana Putra tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Tulisan ini diinspirasi oleh koloni jamur pengantin (Phallus spp.) yang saya lihat beberapa tahun lalu dalam perjalanan pulang ke rumah di masa-masa gundah gulana.
Jamur merupakan organisme yang unik dan memiliki fungsi ekologis, ekonomis dan konservatif. Organisme ini berada pada Kingdom sendiri dan dibedakan dari kelompok lain seperti Monera, Protista, Plantae dan Animalia. Jamur merupakan organisme yang bersifat kosmopolitan yang artinya bisa ditemukan di berbagai relung ekologi baik pada ekosistem alami ataupun tempat wisata. Hingga saat ini, pendataan jenis dan ragam jamur masih terpusat pada negara 4 musim. Sebagian besar literatur dan panduan identifikasi berasal dari wilayah-wilayah tersebut. Pada tahun 2019, LIPI melaporkan sampai dengan tahun 2017, baru terdata sebanyak 2273 jenis jamur di Indonesia atau hanya sekitar 0.15% dari jumlah jenis yang ada di dunia. Data ini tentunya masih jauh dari estimasi jenis dan ragam jamur yang sangat tinggi di negara tropis seperti Indonesia.
Salah satu jenis jamur yang beberapa waktu lalu menjadi perhatian netizen ialah jamur pengantin Phallus indusiatus. Jamur ini dulunya bernama Dictyophora indusiata, namun diperbaharui menjadi Phallus indusiatus. Sebagian besar orang akan berfikir bahwa ini adalah jamur yang cantik dengan warna yang cerah dan selubung yang layaknya seorang putri atau pengantin. Jamur ini memiliki beberapa bagian utama yakni : tudung atau cap yang berbau busuk dan sangat menyengat (berfungsi untuk menarik datangnya serangga), tangkai yang empuk dan rapuh, tudung atau peridium, dan bagian bawah berupa volva yang merupakan bukaan dari perkembangan fase telur jamur ini (seringkali jamur ini tidak dikenali pada fase ini). Beberapa hari lalu, saya membaca sebuah postingan dari akun sebuah taman nasional yang menampilkan foto jamur pengantin dengan cerita bahwa jamur tersebut adalah jamur langka dan sulit untuk menemukannya di alam liar. Sebenarnya jamur ini sangat mudah ditemui terutama pada kondisi yang lembab dan banyak bahan organik berupa serasah sebagai konsekuensi dari cara hidup jamur yakni mahluk heterotrof. Tempat tumbuh jamur ini yang mudah ditemukan adalah pada serasah bambu pada kondisi yang lembab, ataupun terkadang pada lantai hutan, dan rerumputan. Sebagaimana jamur lainnya, siklus hidup jamur ini sangat singkat, yakni 1-3 jam berkembang dari fase telur hingga tubuh buah yang utuh, hingga membusuk dan terdekomposisi/hilang pada 6 jam kemudian. Hal ini yang mungkin menyebabkan beberapa orang sulit menemukan jamur ini.
Ada beberapa jamur pengantin umum yang biasa ditemukan di sekitar kita. Berdasarkan karakter makroskopis, jenis tersebut diantaranya :
Phallus indusiatus (tudung pengantin berwarna putih dan mencapai tanah)
Phallus duplicatus ( mirip dengan Phallus indusiatus namun dengan tudung yang pendek, bahkan tidak sampai setengah dari tangkai)
Phallus cinnabarinus (warna tudung merah hingga jingga)
Phallus multicolor (warna tudung jingga pucat ke arah kuning lemon, dan tudung tidak sampai ke tanah)
Edibilitas jamur ini di Indonesia masih dipertanyakan, walaupun beberapa laporan dari negara lainnya menunjukkan bahwa jenis jamur ini dimanfaatkan sebagai bahan kuliner dan obat di beberapa negara. Sehingga sebaiknya disarankan untuk tidak mengkonsumsi sembarang jamur ini jika anda tidak yakin ataupun tidak memiliki pengalaman empiris yang valid.
(Ivan Permana Putra SSi, MSi : Dosen Divisi Mikologi, Departemen Biologi, Institut Pertanian Bogor)
