Lepista sordida : Jamur Ungu yang tersembunyi di hutan sekitar kita

Mycologist
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Ivan Permana Putra tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Lepista sordida merupakan jamur saprob yang memiliki habitat tumbuh di permukaan tanah . Tubuh buah memiliki tudung berwarna ungu pucat/violet, bagian tengah lebih rendah dibandingkan permukaan sekitarnya . Bagian tepi pada tudung berbentuk gerigi halus dengan ukuran tudung 5-6 cm. Lamella berbentuk adnate berwarna ungu yang lebih pekat dibandingkan pileus . Stipe berwarna putih krem dan permukaan halus , pileipelis tumpang tindih, basidia berbentuk clavate , spora berbentuk ellipsoidal dan hialin.
Laporan sebelumnya mengenai L. sordida di Indonesia dilaporkan dari Cibinong, Jawa Barat (Retnowati 2019), Bogor (Hutan Kampus IPB University (Putra et al. 2022a), dan Tasikmalaya (Putra et al. 2022b). Hasil temuan di hutan Kampus IPB merupakan laporan ketiga untuk spesies ini di Indonesia. Secara morfologi, spesies ini dicirikan dengan tudung berwarna ungu yang memiliki lapisan coklat kotor yang diambil dari karakter sordidus yang berarti kotor (Putra et al. 2022b). Dimensi tubuh buah dan spora dari spesimen asal hutan kampus IPB sesuai dengan laporan dari Retnowati (2019) dan Putra et al. (2022b). L. sordida termasuk ke dalam jamur yang dapat dimakan (edible) (Terashima dan Fujiie 2005). Namun belum ditemukan informasi mengenai pemanfaatan jamur ini sebagai bahan pangan di Indonesia dan di lokasi penelitian ini.
Eksplorasi lebih lanjut terhadap L. sordida di Indonesia membuka peluang untuk memahami distribusi ekologis jamur saprob ini pada berbagai tipe habitat, terutama hutan sekunder dan tanah dengan kandungan organik tinggi. Studi ekologi dapat menyingkap peran L. sordida dalam siklus nutrisi, khususnya dekomposisi bahan organik dan kontribusinya terhadap kesuburan tanah. Selain itu, penelitian molekuler seperti analisis DNA barcoding dapat membantu memastikan identitas spesies serta hubungan filogenetiknya dengan anggota genus Lepista lainnya, sehingga memperkaya data biodiversitas jamur di Nusantara.
Potensi pemanfaatan L. sordida sebagai sumber pangan maupun bioaktif juga menarik untuk dikaji. Di beberapa negara, jamur ini telah dikategorikan sebagai edible dan dikonsumsi masyarakat lokal. Dengan kandungan metabolit sekunder yang beragam, L. sordida berpotensi dikembangkan sebagai bahan pangan alternatif, sumber antioksidan, atau bahkan kandidat biofarmasi. Eksplorasi budidaya jamur ini di Indonesia dapat membuka peluang ekonomi baru, sekaligus mendukung diversifikasi pangan berbasis sumber daya lokal.
