Algoritma dan Influencer: Siapa yang Mengendalikan Keputusan Belanja Kita?

Mahasiswa Aktif Universitas Negeri Jakarta Prodi Pemasaran Digital
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Iwan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Di era media sosial, keputusan belanja tidak lagi sepenuhnya lahir dari kebutuhan rasional. Ia dibentuk perlahan oleh layar ponsel, oleh konten yang terus muncul tanpa diminta, dan oleh figur-figur yang terasa dekat meski tak pernah kita kenal. Ketika sebuah produk tiba-tiba terasa “perlu”, sering kali itu bukan karena kita membutuhkannya, melainkan karena algoritma dan influencer telah bekerja secara halus di balik layar.
Algoritma media sosial dirancang untuk satu tujuan utama: mempertahankan perhatian pengguna selama mungkin. Platform seperti Instagram, TikTok, dan YouTube mempelajari apa yang kita tonton, sukai, komentari, bahkan berapa lama kita berhenti di satu konten. Dari data itu, algoritma menyajikan konten serupa secara berulang. Dalam konteks konsumsi, pola ini menciptakan ilusi kebutuhan. Produk yang sering muncul di linimasa lama-kelamaan terasa akrab, relevan, bahkan mendesak untuk dimiliki.
Di sinilah influencer memainkan peran penting. Mereka bukan sekadar endorser produk, melainkan perpanjangan tangan algoritma. Influencer hadir dengan narasi personal, gaya hidup yang relatable, dan bahasa yang terasa jujur. Ketika seorang influencer merekomendasikan skincare, makanan, atau barang elektronik, pesan itu tidak datang sebagai iklan formal, melainkan sebagai cerita pengalaman. Menurut penelitian De Veirman, Cauberghe, dan Hudders (2017), kepercayaan audiens terhadap influencer memiliki pengaruh signifikan terhadap sikap dan niat membeli, bahkan lebih kuat dibanding iklan konvensional.
Kekuatan influencer semakin besar karena algoritma cenderung mendorong konten yang memiliki engagement tinggi. Artinya, semakin banyak orang menonton, menyukai, dan membagikan konten promosi, semakin luas pula jangkauannya. Sebuah rekomendasi produk tidak lagi berhenti di satu komunitas kecil, melainkan menyebar lintas wilayah dan kelas sosial. Dalam laporan Digital 2024 oleh DataReportal, disebutkan bahwa lebih dari 70 persen pengguna internet di Indonesia menemukan produk baru melalui media sosial, terutama lewat konten kreator dan influencer.
Algoritma dan Influencer dalam Ekosistem Belanja Digital
Fenomena ini menimbulkan pertanyaan penting: siapa sebenarnya yang mengendalikan keputusan belanja kita? Apakah konsumen masih memiliki otonomi penuh, atau justru sedang diarahkan secara sistematis oleh kombinasi algoritma dan figur populer? Studi Zuboff (2019) tentang surveillance capitalism menjelaskan bahwa data perilaku pengguna dimonetisasi untuk memprediksi dan memengaruhi tindakan manusia, termasuk konsumsi. Dalam konteks ini, keputusan belanja bukan sekadar pilihan personal, melainkan hasil dari desain sistem digital yang terstruktur.
Dampaknya terasa jelas dalam kehidupan sehari-hari. Muncul budaya impulse buying, fear of missing out (FOMO), dan tren konsumsi cepat yang sering kali tidak diimbangi kesadaran finansial. Influencer haul, flash sale berbasis algoritma, dan rekomendasi personal membuat batas antara kebutuhan dan keinginan semakin kabur. Konsumen merasa memilih sendiri, padahal pilihan itu telah dipersempit oleh apa yang terus-menerus ditampilkan di layar.
Namun, menyalahkan algoritma dan influencer sepenuhnya juga tidak adil. Keduanya adalah bagian dari ekosistem digital yang tumbuh bersama perilaku pengguna. Algoritma bekerja karena kita memberi data, dan influencer berpengaruh karena kita memberi perhatian. Tantangan sesungguhnya terletak pada literasi digital dan kesadaran konsumen. Tanpa kemampuan kritis, masyarakat akan terus menjadi target empuk strategi pemasaran yang semakin canggih.
Ke depan, transparansi platform dan etika influencer menjadi isu krusial. Regulasi tentang konten berbayar, penandaan iklan, serta edukasi konsumen perlu diperkuat. Konsumen harus didorong untuk bertanya: apakah ini kebutuhan, atau hanya hasil paparan berulang? Kesadaran semacam ini bukan untuk menolak teknologi, melainkan untuk menempatkan kembali manusia sebagai subjek, bukan objek, dalam ekonomi digital.
Pada akhirnya, algoritma dan influencer memang memengaruhi keputusan belanja kita. Namun kendali terakhir seharusnya tetap berada di tangan konsumen. Tanpa kesadaran kritis, keputusan belanja bukan lagi pilihan bebas, melainkan respons otomatis atas sistem yang dirancang untuk menjual.
