Konten dari Pengguna

Maulid Nabi dan Jahiliyah Modern: Dari Perayaan Menuju Perlawanan

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Iwan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Cahaya risalah Nabi Muhammad menjadi penanda: Maulid bukan sekadar perayaan, tapi ajakan melawan wajah baru jahiliyah modern. Sumber: Canva
zoom-in-whitePerbesar
Cahaya risalah Nabi Muhammad menjadi penanda: Maulid bukan sekadar perayaan, tapi ajakan melawan wajah baru jahiliyah modern. Sumber: Canva

Maulid Nabi selalu dirayakan dengan penuh cinta. Namun, Maulid Nabi sejatinya bukan hanya momen mengenang kelahiran Rasulullah SAW, melainkan refleksi kritis atas wajah-wajah jahiliyah modern. Bulan Maulid selalu hadir dengan kemeriahan. Lantunan shalawat bergema, syair-syair pujian diperdengarkan, hingga jalan-jalan desa dihiasi lampu warna-warni. Semua itu adalah wujud cinta umat pada Nabi Muhammad SAW. Namun, pertanyaannya: apakah cukup merayakan dengan seremonial semata? Ataukah kita justru perlu menggali makna yang lebih dalam dan relevan untuk kondisi hari ini?

Kelahiran Nabi tidak bisa dipisahkan dari konteks sosial-politik zamannya. Beliau lahir di tengah masyarakat Arab yang disebut jahiliyah: peradaban yang tampak maju dalam perdagangan, tetapi rapuh secara moral. Perbudakan merajalela, perempuan dipandang rendah, dan kesenjangan ekonomi sangat tajam. Di situlah kelahiran Nabi menjadi cahaya kritik keras atas tatanan yang timpang, sekaligus penanda lahirnya misi peradaban baru.

tetapi juga untuk memanusiakan kembali manusia. Beliau menghapus praktik diskriminasi, membela kaum miskin, dan menegakkan keadilan sosial. Dengan kata lain, risalah kenabian adalah proyek besar kemanusiaan.

Sayangnya, di banyak tempat hari ini, Maulid sering terjebak dalam romantisme. Kita larut dalam syair dan perayaan, tetapi lupa bahwa Nabi hadir untuk melawan struktur ketidakadilan. Padahal, jika kita benar-benar mencintai beliau, cinta itu harus diwujudkan dalam keberanian menantang “jahiliyah modern.”

Apa itu jahiliyah modern? Ia hadir dalam wajah yang berbeda. Jika dulu perbudakan dilakukan terang-terangan, kini manusia diperbudak lewat sistem yang halus: upah murah, utang yang mencekik, eksploitasi digital, hingga hegemoni pasar yang merampas kemerdekaan memilih. Korupsi masih merajalela, suara kritis sering dibungkam, sementara kesenjangan sosial semakin menganga. Bukankah semua ini bentuk lain dari ketidakadilan yang dulu juga diperangi Nabi?

Di titik inilah, memperingati Maulid harus dimaknai ulang. Ia bukan hanya ritual, melainkan ajakan untuk menghidupkan kembali nilai profetik: humanisasi, liberasi, dan transendensi. Humanisasi berarti menjaga martabat manusia tanpa diskriminasi. Liberasi berarti membebaskan mereka yang tertindas dari berbagai bentuk penindasan. Transendensi berarti meletakkan perjuangan itu dalam kesadaran akan Tuhan, agar tidak jatuh pada sekadar ambisi pribadi atau kelompok.

Pemikir Muslim Indonesia, Kuntowijoyo, pernah menegaskan pentingnya menjadikan Islam sebagai gerakan profetik. Dalam kerangka inilah, Maulid seharusnya dibaca: bukan sekadar nostalgia, melainkan energi untuk transformasi. Nabi bukan hanya dikenang, tetapi diteladani dalam sikap dan keberanian.

Karena itu, kita perlu jujur bertanya: apa arti Maulid bagi bangsa yang masih berjuang melawan kemiskinan, korupsi, dan keterbelakangan? Apa arti cinta kepada Nabi jika kita diam melihat perampasan hak rakyat kecil, eksploitasi alam, atau matinya suara intelektual kritis? Pertanyaan ini bukan untuk merendahkan tradisi Maulid, tetapi justru untuk menghidupkannya kembali dengan ruh perjuangan yang otentik.

Nabi pernah berkata: sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi sesamanya. Maka, merayakan Maulid seharusnya melahirkan tekad untuk menjadi manusia bermanfaat—membela yang lemah, menolong yang tertindas, serta menegakkan kebenaran walau berhadapan dengan arus besar.

Di sinilah peringatan Maulid menemukan relevansinya. Ia bukan hanya perayaan kelahiran, melainkan juga kelahiran kembali kesadaran, keberanian, dan perlawanan. Jika dulu Nabi melawan jahiliyah Arab, maka kini tugas kita melawan wajah-wajah baru jahiliyah modern.

Dengan begitu, Maulid Nabi tidak berhenti pada nostalgia, tetapi menjadi momentum membangun masa depan yang lebih adil dan berkeadaban.