Konten dari Pengguna

Hilangnya Kemampuan Berpikir: Ketika AI Lebih Instan Diajarkan Kepada Siswa

Ridwan

Ridwan

Dosen Pendidikan Teknologi Informasi UIN Ar-Raniry Banda Aceh, Pengurus Pusat Relawan TIK Indonesia, Pegiat Transformasi Digital dan Literasi Digital.

·waktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Ridwan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi artificial intelligence.  Foto: Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi artificial intelligence. Foto: Shutterstock

Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) menggulirkan program Koding dan Kecerdasan Artifisial (KKA) untuk menyiapkan generasi Indonesia menghadapi Revolusi Industri 4.0 dan era Society 5.0. Tujuan program ini sangat progresif: membekali siswa dengan literasi digital, kemampuan berpikir komputasional, serta keterampilan menggunakan teknologi AI dalam konteks pendidikan.

Secara konseptual, arah kebijakan ini sejalan dengan kebutuhan global. Laporan World Economic Forum (2023) menyebut bahwa analytical thinking, AI & big data, serta technology literacy merupakan tiga keterampilan utama yang paling dibutuhkan dalam 5 tahun mendatang. Dengan demikian, program KKA berpotensi menjadi pilar penting peningkatan kualitas SDM Indonesia.

Kelebihan Pembelajaran Koding dan Kecerdasan Artifisial

Jika dikelola sesuai kaidah, KKA memberikan sejumlah manfaat:

  1. Mendorong computational thinking – siswa belajar menyusun algoritma, memahami logika, dan berpikir sistematis.

  2. Mengubah peran guru – dari sekadar pengajar menuju fasilitator teknologi pembelajaran.

  3. Meningkatkan motivasi belajar – AI dapat menghadirkan pengalaman belajar yang lebih interaktif.

  4. Menyambungkan sekolah dengan kebutuhan industri – siswa terbiasa dengan teknologi yang relevan dengan dunia kerja.

Permasalahan yang Muncul Jika Pembelajaran Tidak Sesuai

mentalitas instan siswa menggunakan AI. (image source: gemini AI generate)

Namun, fakta di lapangan menunjukkan adanya persoalan serius. Seperti keluhan yang menyebutkan bahwa selama pelatihan koding, kurangnya materi tentang fondasi awal dalam penyelesaian suatu permasalahan (algoritma) yang diajarkan dan pembelajaran lebih kepada mengarahkan seluruh tugas dikerjakan dengan AI.

Kondisi ini menimbulkan dua dampak besar:

  1. Hilangnya kemampuan berpikir kritis dan algoritmik – siswa terbiasa mengambil jalan pintas dengan AI, tanpa memahami dasar logika.

  2. Guru kewalahan menghadapi mentalitas instan – siswa tidak lagi tertarik berproses, melainkan menuntut hasil cepat dari AI.

Jika fenomena ini dibiarkan, akan lahir generasi yang hanya konsumtif terhadap teknologi. Alih-alih menjadi pencipta inovasi, mereka justru akan tergantung pada teknologi tanpa pemahaman mendasar.

Apa itu Algoritma?

Algoritma merupakan urutan langkah logis dan sistematis untuk menyelesaikan suatu masalah. Dalam konteks pembelajaran AI, algoritma berperan sebagai fondasi utama karena seluruh sistem kecerdasan buatan dibangun dari prinsip logika, pengambilan keputusan, dan struktur data yang teratur.

Tanpa pemahaman algoritma, guru dan siswa hanya akan menjadi pengguna pasif teknologi, tidak mampu memahami “mengapa” dan “bagaimana” sebuah solusi dihasilkan oleh AI. Oleh karena itu, penguasaan algoritma menjadi syarat mutlak agar pembelajaran AI tidak sekadar instan, melainkan melahirkan generasi yang kritis, analisis, dan mampu mengembangkan teknologi baru, bukan sekadar menggunakannya.

Temuan ini sejalan dengan riset dari Susanti & Rachmawati (2022) yang menegaskan bahwa keterampilan berpikir kritis tidak akan berkembang jika pembelajaran berbasis teknologi hanya menekankan hasil instan, tanpa keterlibatan proses kognitif. Demikian pula, studi Luckin et al. (2016) dalam Journal of Learning Analytics menunjukkan bahwa AI dalam pendidikan efektif hanya ketika ditempatkan sebagai pendukung, bukan pengganti berpikir manusia.

Masukan kepada Pengajar AI

Ketika kurangnya keseimbangan antara dasar algoritma dan pemanfaatan AI maka akan terjadi pembelajaran yang hanya menekankan pada teknologi siap pakai tanpa dasar pemikiran komputasional akan melahirkan generasi yang lemah secara intelektual.

Pengajar yang berperan dalam program KKA perlu memastikan bahwa:

  1. AI harus diposisikan sebagai alat bantu, bukan pengganti berpikir.

  2. Kurikulum wajib menekankan algoritma dan logika sebagai fondasi sebelum AI diperkenalkan.

  3. Monitoring keberhasilan program harus berbasis kualitas berpikir siswa, bukan sekadar kecepatan menyelesaikan tugas dengan AI.

Strategi Pembelajaran yang Efektif dan Kriteria Pengajar

Agar program KKA berjalan efektif, beberapa strategi berikut dapat diterapkan langsung di lapangan:

Proporsi ideal 70% algoritma, 30% AI

  1. Siswa wajib memahami algoritma secara manual sebelum diperkenankan menggunakan AI untuk validasi atau akselerasi.

Model project-based learning

  1. Tugas disusun berjenjang: desain algoritma → pseudocode → implementasi kode → validasi dengan AI.

  2. Penilaian lebih menekankan proses berpikir, bukan sekadar produk akhir.

Peningkatan kapasitas guru

  1. Guru harus mendapat pelatihan berbasis fundamental computing dan problem solving, bukan sekadar penggunaan aplikasi AI.

  2. Sertifikasi guru wajib mencakup evaluasi kemampuan mengajarkan algoritma dan logika.

Pengawasan implementasi di lapangan

  1. Dibutuhkan tim monitoring independen untuk memastikan KKA tidak berubah menjadi “showcase teknologi” tanpa substansi.

Penutup

Program Koding dan Kecerdasan Artifisial (KKA) adalah kebijakan visioner yang sejalan dengan kebutuhan global. Namun, jika implementasi hanya menekankan pada penggunaan AI secara instan tanpa penguasaan algoritma, maka program ini justru berisiko menghapus kemampuan berpikir kritis siswa.

Pemerintah perlu segera melakukan evaluasi, memperkuat kurikulum berbasis logika dan algoritma, serta membekali guru dengan keterampilan pedagogis berbasis computational thinking. Dengan demikian, KKA akan benar-benar menjadi program transformasi pendidikan digital yang melahirkan generasi pencipta, bukan hanya pengguna teknologi.