Guru Bisa Jadi Motivator, Bangun Percaya Diri Murid hingga Buat Gemar Belajar

Pemilik Sekolah Alkautsar Temanggung Jawa Tengah, wirausahawan sosial di bidang pendidikan dan pengembangan SDM
Konten dari Pengguna
27 Februari 2023 7:54
·
waktu baca 5 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Tulisan dari Mohamad Kurniawan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Ilustrasi guru mengajar. Foto: Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi guru mengajar. Foto: Shutterstock
Beberapa tahun silam seorang karyawan perusahaan pertambangan yang berkantor di Indonesia mendapat tugas belajar ke Amerika Serikat. Karena masa belajarnya 4 tahun, dia pun mengajak keluarganya. Termasuk anak semata wayangnya yang masih berumur delapan tahun.
Sesampainya di AS, muncul masalah pada anak si karyawan tersebut. Anaknya tidak mau sekolah karena takut berangkat sendiri ke sekolah dan tidak mau ditinggal. Ayah atau ibunya harus menunggu di kelas.
Sementara, peraturan di sekolah menyebutkan bahwa murid tidak boleh diantar ke sekolah. Tujuannya untuk memupuk keberanian pada anak sedini mungkin.
Mengetahui masalah itu, guru kelas mengundang anak tersebut bersama kedua orang tuanya. Mereka diajak untuk masuk ke dalam kelas. Di depan murid-muridnya -- yang hampir semuanya bule Amerika -- bapak guru tadi mengajukan 3 pertanyaan.
Anak-anak SD Alkautsar Temanggung sedang beraktivitas bersama dengan anak-anak SD Pangudi Utami Temanggung. Aktivitas ini adalah sebuah upaya membangun percaya diri anak sekaligus menciptakan ekosistem sekolah yang menyenangkan. (Foto: pribadi).
zoom-in-whitePerbesar
Anak-anak SD Alkautsar Temanggung sedang beraktivitas bersama dengan anak-anak SD Pangudi Utami Temanggung. Aktivitas ini adalah sebuah upaya membangun percaya diri anak sekaligus menciptakan ekosistem sekolah yang menyenangkan. (Foto: pribadi).
Pertanyaan pertama, "Siapa di antara kalian di kelas ini yang pernah terbang menyeberangi Samudra Atlantik?". Tak ada satu pun anak di kelas tersebut yang mengacungkan jari.
Sesaat kemudian pak guru tersebut menunjuk ke anak karyawan tadi. "Temanmu ini datang dari Indonesia, negara di Asia Tenggara. Untuk bisa sampai di sini, dia harus terbang menyeberangi samudra Atlantik". Sementara seisi kelas melongo, pede si anak tadi perlahan naik.
Kemudian dilontarkanlah pertanyaan kedua, "Siapa di kelas ini yang pernah tinggal lama di luar negeri?" Kembali tak ada satu pun siswa yang mengacungkan jari.
Sambil menunjuk si anak tadi guru mengatakan, "Teman baru kalian ini hebat. Dia pernah tinggal bertahun-tahun di luar negeri. Di Indonesia". Pede anak ini pun bertambah besar.
Ilustrasi guru dan orang tua. Foto: Shutter Stock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi guru dan orang tua. Foto: Shutter Stock
Puncaknya pada pertanyaan terakhir. Bapak guru menanyakan siapa yang bisa berbahasa asing. Dan lagi-lagi tak ada yang mengacungkan tangannya. "Teman kalian ini bisa berbahasa asing. Bahasa Indonesia. Sangat fasih malah", kata pak guru dengan antusias. Mendengar ini, seisi kelas pun bertepuk tangan. Keesokan harinya, di anak pun pergi ke sekolah dengan lebih percaya diri serta bersemangat bersekolah tanpa minta diantar.
Kisah di atas pernah diceritakan Profesor Djamaludin Ancok, guru besar psikologi Universitas Gadjah Mada, pada sebuah seminar pendidikan abad 21 beberapa waktu yang lalu di Universitas Gadjah Mada.
Cerita ini menegaskan bahwa seorang guru ternyata tak hanya mempunyai peran sebagai pengajar dan pendidik semata, namun juga harus mampu menjadi motivator. Lihat bagaimana cara guru tersebut dengan cerdik sekaligus jenaka mengangkat rasa percaya diri anak baru yang datang dari Indonesia.
Tidak mudah bagi seorang anak untuk masuk ke dalam sebuah lingkungan baru. Terlebih kalau lingkungan baru mempunyai latar belakang budaya yang berbeda seratus delapan puluh derajat dengan lingkungan dia sebelumnya.
Menumbuhkembangkan keberanian dan percaya diri dilakukan guru-guru SD Trimulyo 02 Semarang dengan kegiatan seni tari (Foto: pribadi).
zoom-in-whitePerbesar
Menumbuhkembangkan keberanian dan percaya diri dilakukan guru-guru SD Trimulyo 02 Semarang dengan kegiatan seni tari (Foto: pribadi).
Hal ini pun pernah dialami oleh kedua anak saya pada saat mereka berdua masuk sekolah dasar (primary school) di Darwin, Australia. Sebagai anak dari negara yang bahasa Inggris bukan bahasa pertama, maka anak saya harus masuk ke sekolah yang menyediakan program Intensive English Unit.
Tujuannya selain untuk mengasah kemampuan berbahasa Inggris, ternyata kelas ini didesain untuk menumbuhkan rasa percaya diri anak ketika masuk ke dalam sebuah sekolah di Australia. Di kelas anak-anak saya, ada banyak siswa yang berasal dari berbagai negara. India, Cina, Jepang, Korea, Rusia, negara-negara Afrika, Burma, Vietnam, dan lain-lain.
Terbayang bagaimana susahnya seorang guru yang berbahasa Inggris, harus menghadapi anak-anak yang berasal dari berbagai bangsa dan hampir semuanya tidak fasih berbahasa Inggris! Dan pada level ini, peran guru lebih sebagai motivator, pembangkit rasa percaya diri anak untuk berinteraksi dengan teman-teman lainnya tanpa terlalu fokus pada hambatan bahasa.
Saya masih ingat, ketika anak kedua saya, mempunyai pengalaman yang serupa dengan anak dalam cerita di atas. Tak mau ditinggal oleh saya atau istri saya. Dia mau sekolah dengan tetap ditunggu. Yang dilakukan gurunya adalah selalu mengajak anak saya bicara dan bermain sebelum kelas dimulai sembari memotivasinya hingga perlahan tapi pasti tumbuh keberaniannya.
Ilustrasi anak makan di kantin sekolah. Foto: GUNDAM_Ai/Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi anak makan di kantin sekolah. Foto: GUNDAM_Ai/Shutterstock
Nampak betul bila guru-guru SD di Australia secara khusus dibekali kemampuan untuk menjalankan peran sebagai motivator bagi siswa-siswanya. Kelas menjadi hidup karena setiap anak sangat termotivasi dalam mengembangkan potensinya. Ujungnya sekolah pun menjadi kegiatan yang sangat menyenangkan bagi anak-anak. "I love school!'. Begitu kata-kata yang sering keluar dari mulut anak-anak saya.
Lantas bagaimana dengan sekolah-sekolah dasar di Indonesia? Kita semua sudah paham dengan berbagai permasalahan yang melingkupi dunia pendidikan kita. Macam-macam dan rupa-rupa warnanya.
Namun, kondisi ini rupanya tak membuat gentar sahabat saya, Muhammad Nur Rizal dan istrinya, Novi Chandra. Melalui Gerakan Sekolah Menyenangkan (GSM) kedua orang 'gila' ini melakukan aksi gerilya dengan mengajak guru mulai dari SD hingga SMA dan SMK untuk berubah.
Perubahan yang dimulai dari akar rumput. Dari ruang-ruang kelaslah semua itu dimulai. Tujuannya adalah membuat suasana kelas menjadi lebih hidup, jalannya pelajaran menjadi lebih riuh sekaligus menyenangkan.
Ilustrasi Guru Mengajar Foto: Shutter Stock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Guru Mengajar Foto: Shutter Stock
Rizal dan Novi mengadopsi metode yang dilakukan di kelas-kelas di sekolah-sekolah dasar di Australia karena mereka berdua pernah tinggal di Melbourne ketika keduanya mengambil studi doktoral. Pengalaman menyekolahnya anak-anak mereka di sebuah sekolah dasar di sana menginspirasi pasangan ini untuk membaginya di Indonesia.
Mereka sadar gurulah pemegang kunci jalannya perubahan ini. Maka diundanglah guru-guru dari Clayton North Primary School di Melbourne-sekolah tempat anak-anak Rizal dan Novi belajar saat mereka tinggal di Australia-untuk berbagi kepada guru dari berbagai sekolah di Jawa Tengah dan Yogyakarta.
Tak hanya berhenti pada workshop, namun program pun berlanjut dengan pendampingan dan pembinaan intensif. Menariknya guru-guru dari berbagai sekolah di berbagai wilayah ini harus saling membagi pengalaman mereka pada saat menerapkan metode sekolah menyenangkan ini di kelas mereka masing-masing.
Ilustrasi guru sekolah anak Foto: Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi guru sekolah anak Foto: Shutterstock
Tujuannya supaya ada semangat saling menguatkan di antara para guru tersebut. Dari sinilah kemudian lahir komunitas-komunitas pegiat Gerakan Sekolah Menyenangkan (GSM) di berbagai wilayah di seantero negeri.
Perubahan telah digulirkan. Perubahan yang membutuhkan barisan guru-guru yang tak hanya siap untuk menjalankan perannya sebagai pengajar.
Tetapi menjadi seorang pendidik yang sekaligus memegang peran sebagai motivator dan inspirator bagi murid-muridnya dalam belajar. Dan di situlah sebenarnya letak esensi seorang pendidik. Sehingga, bagi anak-anak kita, bersekolah pun akan terasa selalu menyenangkan dan mereka akan berteriak lantang "I love school"!
Selamat belajar!