Budaya Terlambat Indonesia: Masihkah Kita Anggap Normal Dengan Hal Ini?

Saya Raditya Widhiatmoko dan Saya sekarang sedang melanjutkan pendidikan Saya di jurusan Akuntansi.
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Raditya Widhiatmoko tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Di tengah kemajuan tekonolgi dan semakin padatnya aktivitas masyarakat, masalah terlambat masih menjadi kebiasaan yang melekat di kehidupan sehari-hari dan menjadi Budaya Terlambat. Mulai dari datang terlambat ke sekolah, rapat kantor, hingga acara pernikahan. Ironisnya, banyak yang menganggap keterlambatan sebagai hal lumrah, bahkan ada istilah “jam karet” yang seolah melegitimasi kebiasaan ini.
Fenomena Budaya Terlambat bukan sekadar soal waktu, tetapi juga soal sikap dan tanggung jawab. Ketika seseorang datang terlambat, apalagi tanpa kabar, secara tidak langsung ia menunjukkan sikap kurang menghargai waktu orang lain. Bayangkan, satu orang terlambat lima belas menit dalam rapat yang dihadiri sepuluh orang. Total waktu yang terbuang bisa mencapai dua jam setengah. Waktu yang seharusnya bisa digunakan untuk hal lain, justru habis karena satu orang yang tidak disiplin.
Meskipun alasan keterlambatan kadang bisa dimaklumi—seperti kemacetan ketika tinggal di daerah Ibu Kota atau urusan mendesak—namun jika menjadi kebiasaan, ini perlu dikritisi. Terlebih di era digital saat ini, kita punya banyak alat bantu: alarm, pengingat di ponsel, aplikasi peta untuk memantau lalu lintas, dan sebagainya. Maka, tidak ada lagi alasan yang cukup kuat untuk terus-menerus datang terlambat. Juga masalah suka menunda-nunda urusan yang seharusnya dikerjakan terlebih dahulu.
Budaya tepat waktu seharusnya mulai ditanamkan sejak dini. Di rumah, anak-anak bisa diajarkan untuk menghargai jadwal. Di sekolah dan kampus, kedisiplinan waktu perlu ditegakkan dengan tegas namun adil. Di dunia kerja, perusahaan pun semestinya memberi contoh dan membangun budaya profesional yang menghargai waktu.
Perubahan memang tidak bisa terjadi dalam semalam. Namun, jika setiap individu mulai menyadari pentingnya menghargai waktu, kebiasaan “jam karet” perlahan bisa ditinggalkan. Datang tepat waktu bukan hanya soal disiplin, tetapi juga bentuk penghormatan kepada orang lain.
Jadi, masihkah kita menganggap keterlambatan sebagai hal biasa? Bagaimana menurutmu? Apakah kamu jadi salah satu orang yang suka terlambat dan menanggap hal ini remeh?
