ASEAN Aman di Atas Kertas, Rapuh di Lapangan

Mahasiswi Universitas Sriwijaya, Jurusan Ilmu Hubungan Internasional, Angkatan 2024
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Iyus Kayen Bakara tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Setiap kali bendera sepuluh negara berjajar di ruang sidang KTT ASEAN, kesan yang muncul adalah kawasan yang rukun. Namun, di waktu yang sama, kapal penjaga pantai saling membayangi di Laut Cina Selatan, perbatasan Thailand dan Kamboja kembali memanas, dan krisis Myanmar belum menemukan jalan keluar sejak kudeta 2021. Pertanyaannya sederhana tetapi tidak nyaman, seberapa aman sebenarnya Asia Tenggara?
Setengah Abad Menjaga Damai dengan Cara Sendiri
Sejak berdiri pada 1967, ASEAN menjaga perdamaian melalui musyawarah, mufakat, dan prinsip non-intervensi yang dikenal sebagai ASEAN Way. Cara ini berhasil mencegah perang terbuka antaranggota dan membangun security community, ketika negara-negara tidak lagi melihat perang sebagai pilihan utama dalam menyelesaikan sengketa. Namun, cara ini juga memiliki batas, ia bergantung pada kesediaan semua pihak untuk menahan diri.
Dilema Keamanan yang Tak Pernah Hilang
Di balik hubungan diplomatik yang terlihat akrab, negara-negara ASEAN tetap saling mengamati. Dalam teori hubungan internasional, kondisi ini disebut security dilemma yaitu kondisi ketika satu negara memperkuat militernya demi keamanan, negara lain dapat melihatnya sebagai ancaman dan melakukan hal yang sama. Buzan dan Waever menyebut Asia Tenggara sebagai regional security complex karena keamanan negara-negara di kawasan saling berkaitan. Konflik Myanmar, misalnya, berdampak pada pengungsi, perdagangan manusia, hingga stabilitas negara tetangga. Masalah keamanan satu negara akhirnya bisa menjadi masalah bersama.
Ketika Urusan Dalam Negeri Menjadi Urusan Bersama
Myanmar menjadi ujian paling jelas bagi prinsip non-intervensi ASEAN. Konsensus Lima Poin yang disepakati pada 2021 belum mampu menghentikan krisis, sementara ASEAN tidak memiliki alat yang cukup kuat untuk memaksa junta menjalankannya. Terlalu jauh ikut campur dapat merusak prinsip non-intervensi, tetapi terlalu menahan diri membuat ASEAN terlihat tidak mampu merespons. Di titik ini, persoalan domestik Myanmar sudah tidak lagi sepenuhnya menjadi urusan Myanmar.
Efektif Meredam, Belum Tentu Menuntaskan
Dalam sengketa Thailand dan Kamboja, ASEAN lebih banyak berperan sebagai fasilitator dialog. Peran ini penting karena mencegah konflik berkembang lebih jauh, tetapi tidak selalu menyelesaikan akar masalah. Pola yang sama terlihat dalam berbagai sengketa kawasan dimana ASEAN cukup kuat untuk membuka ruang perundingan, tetapi belum tentu kuat untuk memastikan persoalan benar-benar selesai.
Laut Cina Selatan Sebagai Ujian Terbesar
Laut Cina Selatan menjadi contoh paling jelas. Filipina, Vietnam, Malaysia, dan Brunei memiliki klaim yang bersinggungan dengan Tiongkok, sementara Indonesia juga terdampak di perairan Natuna. Putusan arbitrase 2016 memenangkan Filipina, tetapi ditolak Beijing. Hingga kini, ASEAN juga belum berhasil menghasilkan kode etik yang mengikat secara hukum.
Masalahnya bukan hanya Tiongkok. ASEAN sendiri memiliki kepentingan yang berbeda. Negara yang memiliki hubungan ekonomi kuat dengan Beijing cenderung berhati-hati, sementara negara yang berhadapan langsung menginginkan sikap lebih tegas. Konsensus yang menjadi kekuatan ASEAN justru dapat berubah menjadi hambatan. Sulit berbicara dengan satu suara ketika kepentingan masing-masing negara tidak selalu sama.
Mengukur Ulang Makna "Aman"
Jadi, apakah ASEAN gagal? Tidak. ASEAN berhasil mencegah perang besar di kawasan yang dahulu penuh kecurigaan. Namun, ancaman hari ini tidak selalu berbentuk perang terbuka. Ia hadir melalui krisis politik, sengketa maritim, dan persaingan kekuatan besar.
Karena itu, makna “aman” bagi ASEAN perlu dilihat kembali. Menjaga agar konflik tidak pecah memang penting, tetapi keamanan juga membutuhkan kemampuan untuk merespons ketika konflik sudah terjadi. Bagi Indonesia, tantangannya adalah mendorong ASEAN agar lebih responsif tanpa merusak kepercayaan yang selama ini menjadi fondasinya.
ASEAN mungkin masih mampu menjaga kawasan tetap damai. Pertanyaannya, apakah ia juga mampu membuat kawasan benar-benar aman?
Oleh Iyus Kayen Bakara, Mahasiswi Universitas Sriwijaya, Jurusan Ilmu Hubungan Internasional, Angkatan 2024.
