Selat Hormuz Tersumbat, Dompet Kita Ikut Seret

Mahasiswi Universitas Sriwijaya, Jurusan Ilmu Hubungan Internasional, Angkatan 2024
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Iyus Kayen Bakara tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Banyak orang tidak tahu bahwa satu selat di Timur Tengah bisa memengaruhi harga bensin di Palembang. Selat Hormuz, yang terletak di antara Iran dan Oman, adalah jalur laut sempit tempat hampir 20 persen minyak dan gas dunia melintas. Jalur ini tidak punya alternatif yang benar-benar sepadan. Ketika kapal tanker ragu melintas, pasar energi global langsung gelisah.
Gencatan Senjata yang Rapuh
Awal 2026, perang antara Iran dengan AS dan Israel membuat lalu lintas di Selat Hormuz nyaris lumpuh. Pada April, kedua pihak sepakat gencatan senjata dengan Pakistan sebagai mediator, dengan syarat selat kembali dibuka. Dunia sempat menghela napas.
Namun enam bulan kemudian, napas itu kembali tertahan. Awal Oktober, Iran menyatakan selat tidak akan dibuka penuh sebelum tujuh syaratnya dipenuhi, sementara AS menolak syarat tersebut. Di tengah tarik-menarik itu, beberapa kapal tanker dilaporkan terkena proyektil tak dikenal. Perundingan memang masih berjalan, tetapi kepercayaan kedua pihak belum pulih. Gencatan senjata ada di atas kertas, ketegangan masih ada di laut.
Saatnya Indonesia Bermain Cerdas
Di sinilah prinsip politik luar negeri bebas aktif menemukan relevansinya. Indonesia tidak berada di kubu mana pun, punya kedekatan dengan dunia Islam, dan menjalin hubungan dagang dengan banyak pihak. Posisi ini adalah modal untuk menyuarakan kebebasan pelayaran dan mendorong dialog tanpa harus memihak.
Diplomasi saja belum cukup. Krisis Hormuz mengingatkan bahwa ketahanan energi harus dibangun dari dalam negeri: menambah cadangan, memperluas sumber impor, dan mempercepat energi terbarukan. Setiap tahun yang tertunda berarti kita tetap bergantung pada kabar dari tempat yang tidak bisa kita kendalikan.
Geopolitik Timur Tengah sering terasa jauh dan rumit. Namun lewat satu selat sempit, ia terhubung langsung dengan harga yang kita bayar. Memahaminya bukan sekadar urusan mahasiswa hubungan internasional, tetapi bekal bagi siapa pun yang ingin tahu mengapa dunia di luar sana menentukan isi dompetnya.
Mahasiswi Universitas Sriwijaya, Jurusan Ilmu Hubungan Internasional, Angkatan 2024.
