Telemedicine: Inovasi Kesehatan yang Cuma Bisa Dinikmati Orang Kota?

Mahasiswa Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Muhammadiyah Jakarta Angkatan 2022 yang saat ini Aktif di organisasi Emergency Responses in Disaster and Medical Service atau ERDAMS, FKM UMJ
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Izzana Fatima Mernissi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Daftar isi
Daftar isi

Daftar isi

Oleh: Izzana Fatima
Universitas Muhammadiyah Jakarta
Teknologi terus berkembang dan membawa perubahan besar dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk cara masyarakat mengakses layanan kesehatan. Jika dulu konsultasi dengan dokter berarti harus datang langsung ke rumah sakit, puskesmas, atau klinik, kini cukup melalui layar ponsel, seseorang dapat berbicara langsung dengan tenaga medis.
Pandemi COVID-19 menjadi titik balik bagi perkembangan layanan kesehatan digital di Indonesia, khususnya telemedicine. Inovasi ini mencuat sebagai solusi praktis di tengah keterbatasan interaksi langsung antara pasien dan tenaga medis. Berdasarkan data dari Kominfo RI, sebelum pandemi jumlah pengguna telemedicine di Indonesia hanya sekitar 4 juta orang. Namun, pada Juni 2020 angka tersebut melonjak drastis menjadi 15 juta pengguna. Melihat potensi besar ini, Kementerian Kesehatan pun menggandeng berbagai platform layanan telemedicine seperti Alodokter, GetWell, Good Doctor, Halodoc, KlikDokter, hingga KlinikGo dalam upaya memperluas akses layanan kesehatan berbasis digital bagi masyarakat
Namun, ketika kehidupan mulai kembali normal, muncul pertanyaan penting: apakah layanan ini merupakan solusi jangka panjang? atau hanya bisa dinikmati oleh sebagian kalangan, khususnya mereka yang tinggal di kota besar?
Kemudahan yang Mengubah Akses
Bagi sebagian orang, telemedicine hanya memberikan kenyamanan—memangkas waktu antre, mempercepat akses resep, atau mempermudah konsultasi medis. Namun, bagi mereka yang tinggal di daerah dengan keterbatasan fasilitas kesehatan, layanan ini bisa menjadi penentu antara mendapat perawatan tepat waktu atau tidak sama sekali.
Di Indonesia, tenaga medis dan fasilitas kesehatan masih terkonsentrasi di kota-kota besar. Dalam konteks ini, telemedicine menjadi harapan bagi masyarakat di wilayah terpencil atau sulit dijangkau. Konsultasi jarak jauh membantu mengatasi kendala geografis dan biaya perjalanan, sehingga akses terhadap layanan medis menjadi lebih merata.
Namun, di balik kemudahan itu, ada kenyataan lain yang kerap terabaikan, yakni tidak semua masyarakat Indonesia memiliki akses yang setara terhadap teknologi dan infrastruktur pendukung layanan telemedicine. Kesenjangan digital dan literasi teknologi masih menjadi tantangan besar dalam pemerataan akses layanan kesehatan berbasis digital.
Telemedicine di Wilayah 3T
Telemedicine mengandalkan koneksi internet yang stabil serta perangkat digital yang memadai. Di kota-kota besar, hal ini bukan masalah besar. Tetapi di wilayah pelosok seperti 3T (terdepan, terluar, tertinggal), akses internet masih sangat terbatas. Bahkan, untuk menerima sinyal ponsel pun terkadang sulit.
Kondisi ini menyebabkan ketimpangan yang kentara bahwa telemedicine menjadi inovasi yang hanya efektif bagi mereka yang memiliki infrastruktur pendukung. Mereka yang tinggal di daerah terpencil tetap kesulitan memperoleh layanan kesehatan, baik secara langsung maupun digital.
Tantangan Nyata Saat di Lapangan
Infrastruktur digital yang belum merata: Meskipun Indonesia terus berkembang secara digital, kenyataannya masih banyak desa, terutama di wilayah 3T (tertinggal, terdepan, dan terluar), yang belum memiliki akses internet yang stabil. Tanpa koneksi yang layak, masyarakat di wilayah tersebut tidak memiliki kesempatan yang sama untuk menikmati layanan telemedicine.
Keterbatasan kepemilikan perangkat dan biaya: Telemedicine membutuhkan perangkat seperti smartphone atau komputer, serta sambungan internet yang cukup kuat. Sayangnya, tidak semua masyarakat memiliki perangkat tersebut atau mampu membeli kuota internet secara rutin. Hal ini menjadikan layanan kesehatan digital sebagai fasilitas yang eksklusif, hanya bisa diakses oleh mereka yang secara ekonomi lebih mapan.
Rendahnya literasi digital di kalangan masyarakat: Aplikasi telemedicine tidak selalu mudah digunakan, terutama bagi masyarakat yang belum terbiasa dengan teknologi digital. Banyak yang masih kesulitan memahami cara mengakses layanan, membuat akun, atau membaca hasil konsultasi. Minimnya pendampingan atau edukasi digital menyebabkan potensi pemanfaatan layanan ini tidak maksimal.
Tenaga medis yang belum sepenuhnya siap menghadapi digitalisasi layanan kesehatan: Tidak semua dokter atau tenaga kesehatan, khususnya yang bertugas di daerah, telah mendapatkan pelatihan untuk menggunakan sistem dan aplikasi kesehatan digital. Kurangnya pelatihan ini membuat proses adaptasi menjadi lambat, dan pada akhirnya berdampak pada kualitas layanan yang diberikan kepada pasien.
Di Mana Letak Keadilan Akses Kesehatan?
Jika telemedicine hanya dinikmati oleh masyarakat yang tinggal di kota besar, maka kehadirannya justru memperlebar jurang akses kesehatan antara masyarakat urban dan rural. Padahal, seharusnya teknologi hadir untuk memperluas jangkauan dan menjembatani kesenjangan. Lalu, jika sudah begini apa yang harus dilakukan?
Agar telemedicine menjadi solusi jangka panjang dan bukan hanya sekadar tren, diperlukan kolaborasi dari berbagai pihak:
Pemerintah harus meningkatkan pemerataan infrastruktur internet dan memastikan regulasi yang mendukung penyediaan layanan kesehatan digital di seluruh wilayah.
Penyedia layanan dapat mendesain platform yang ramah pengguna, termasuk bagi masyarakat dengan keterbatasan teknologi dan literasi digital.
Tenaga medis wajib mendapatkan pelatihan tentang pemanfaatan teknologi kesehatan agar dapat menjalankan praktik dengan efektif dan profesional.
Masyarakat harus didorong untuk mengenal dan belajar menggunakan layanan digital secara bijak, tanpa melupakan pentingnya kunjungan langsung untuk kondisi tertentu.
Teknologi dan Kesehatan Harusnya Milik Semua
Telemedicine memang membuka banyak peluang dalam dunia kesehatan. Namun, manfaatnya tidak boleh hanya berhenti di kota-kota besar. Inovasi yang sejati adalah yang dapat diakses oleh seluruh lapisan masyarakat, tanpa terkecuali.
Karena ketika teknologi hanya bisa diakses oleh mereka yang punya perangkat dan jaringan kuat, maka itu bukan solusi, melainkan sekadar kemewahan digital.
