Konten dari Pengguna

Belajar Toleransi dari Tetangga Beda Agama

jafar abdurrahim

jafar abdurrahim

Mahasiswa semester 7 Hukum Ekonomi Syariah

·waktu baca 3 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari jafar abdurrahim tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Toleransi beragama sering dianggap sebagai konsep besar yang rumit, padahal bagi saya, pelajaran itu justru datang dari hal sederhana: gang kecil tempat saya besar. Di sana, azan magrib dan lonceng gereja sore kadang terdengar hampir berbarengan. Waktu kecil, saya tidak pernah menganggapnya aneh. Bagi saya, itu hanya bagian dari suara kampung, sama biasanya dengan suara penjual bakso lewat atau anak-anak main petak umpan di halaman.

Baru setelah dewasa, saya sadar bahwa apa yang dulu saya anggap "biasa saja" itu sebenarnya sesuatu yang berharga: hidup berdampingan dengan orang-orang yang punya keyakinan berbeda, tanpa merasa itu jadi masalah.

Ilustrasi Toleransi Antarumat Beragama. Sumber: Dibuat menggunakan ChatGPT (OpenAI), 2026.
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Toleransi Antarumat Beragama. Sumber: Dibuat menggunakan ChatGPT (OpenAI), 2026.

Tetangga yang Mengajarkan Tanpa Menggurui

Ada satu keluarga tetangga yang beragama Katolik, tinggal persis di seberang rumah. Setiap kali Lebaran tiba, mereka selalu yang pertama mengetuk pintu, membawa kue kering buatan sendiri. Sebaliknya, saat Natal, ibu saya biasa mengantar rendang ke rumah mereka. Tidak ada yang menganggap ini sebagai basa-basi sosial semata—ini adalah cara sederhana untuk saling merayakan kebahagiaan orang lain, meski cara beribadahnya berbeda.

Saya ingat suatu kali bertanya pada ibu, "Kenapa kita harus ikut senang kalau mereka Natal? Kan agamanya beda." Ibu saya menjawab singkat, "Karena mereka juga ikut senang waktu kita Lebaran. Itu namanya tetangga."

Jawaban itu sederhana, tapi terus saya ingat sampai sekarang.

Toleransi Beragama: Perbedaan yang Ternyata Tidak Perlu Ditakuti

Semakin besar, saya makin sering bertemu orang dari latar belakang agama yang berbeda-beda. teman kuliah yang Hindu, rekan kerja yang Buddha, sahabat yang Kristen Protestan, hingga tetangga baru yang penghayat kepercayaan lokal. Dari mereka, saya belajar satu hal penting: keyakinan yang berbeda tidak otomatis berarti nilai hidup yang berbeda.

Hampir semua dari mereka mengajarkan hal yang sama pada intinya jujur, menghormati orang tua, tidak menyakiti sesama, dan bersyukur atas apa yang dimiliki. Bedanya mungkin hanya pada cara berdoa, hari ibadah, atau kitab yang dibaca. Tapi semangat untuk menjadi manusia yang baik itu ternyata milik semua orang, apa pun agamanya.

Toleransi Bukan Berarti Menyamakan Semua

Penting untuk digarisbawahi, belajar menghargai perbedaan agama bukan berarti menganggap semua ajaran itu sama, apalagi mencampuradukkan keyakinan. Saya tetap menjalankan ibadah sesuai agama saya sendiri, begitu pula tetangga dan teman-teman saya. Yang berubah hanyalah cara pandang: bahwa perbedaan itu tidak perlu membuat kita saling curiga atau menjauh.

Justru dari perbedaan itulah saya belajar lebih banyak tentang kesabaran, tentang cara mendengarkan sudut pandang lain, dan tentang pentingnya tidak buru-buru menghakimi sesuatu yang belum sepenuhnya kita pahami.

Penutup: Rumah yang Sama, Jalan yang Berbeda

Indonesia dibangun di atas keberagaman, termasuk keberagaman agama. Semboyan "Bhinneka Tunggal Ika" bukan sekadar slogan yang ditempel di dinding sekolah, tapi sesuatu yang benar-benar hidup di tengah masyarakat termasuk di gang kecil tempat saya dulu besar.

Bagi saya, agama adalah jalan masing-masing orang menuju kebaikan dan kedamaian batin. Jalannya boleh berbeda, tapi tujuannya sering kali sama: menjadi manusia yang lebih baik, dan hidup berdampingan dengan damai bersama sesama.

Dan mungkin, itulah pelajaran agama yang paling sederhana namun paling penting yang pernah saya dapatkan, bukan dari buku, melainkan dari tetangga sebelah rumah.