Sujud Terakhir yang Mengubah Cara Saya Memandang Salat Lima Waktu

Mahasiswa semester 7 Hukum Ekonomi Syariah
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari jafar abdurrahim tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Sejak kecil, salat bagi saya lebih terasa seperti kewajiban yang harus segera diselesaikan, bukan momen yang benar-benar dinikmati. Saya sering salat terburu-buru, bahkan kadang menunda hingga hampir habis waktunya, hanya karena merasa "yang penting sudah sah".
Kebiasaan itu terus berlanjut hingga saya merantau untuk bekerja di kota lain. Jauh dari pengawasan orang tua, salat saya semakin sering bolong tanpa alasan yang jelas. Alasan sibuk kerja, lelah, atau sekadar malas menjadi pembenaran yang terus saya ulang setiap hari.

Kabar dari Kampung Halaman
Semua berubah pada suatu sore, ketika saya menerima kabar bahwa nenek saya masuk rumah sakit karena serangan jantung mendadak. Saya bergegas pulang kampung malam itu juga, dengan pikiran kalut sepanjang perjalanan.
Sesampainya di rumah sakit, saya melihat nenek terbaring lemah dengan berbagai selang di tubuhnya. Namun yang paling saya ingat bukan kondisi fisiknya, melainkan bibirnya yang terus bergerak pelan, melafalkan zikir meski dalam keadaan tersadar-sadar.
Pesan Terakhir di Samping Ranjang
Saya duduk di samping ranjangnya, memegang tangannya yang dingin. Dengan suara nyaris berbisik, nenek berkata, "Jangan tinggalkan salat, Nak. Itu yang bakal nemenin kamu paling akhir, bukan pekerjaan atau apa pun yang kamu kejar sekarang."
Malam itu, nenek sempat membaik. Namun tiga hari kemudian, beliau berpulang saat waktu Subuh, tepat setelah keluarga di rumah sakit selesai menunaikan salat berjamaah di ruang tunggu.
Sujud yang Baru Saya Pahami
Kepergian nenek meninggalkan penyesalan besar dalam diri saya, bukan hanya karena kehilangan sosoknya, tetapi karena menyadari betapa banyak nasihatnya yang selama ini saya anggap angin lalu. Malam setelah pemakaman, saya duduk sendiri di kamar, teringat sujud terakhir nenek yang sempat saya saksikan sebelum kondisinya memburuk.
Sejak saat itu, saya mulai memperbaiki salat saya sedikit demi sedikit. Bukan lagi sekadar menggugurkan kewajiban, melainkan mencoba menghadirkan hati di setiap gerakannya, terutama saat sujud, karena itulah momen yang selalu diingatkan nenek sebagai posisi terdekat seorang hamba dengan Sang Pencipta.
Azan yang Tak Lagi Saya Tunda
Kini, setiap kali azan berkumandang, saya selalu berusaha untuk tidak menunda. Bukan karena takut dosa semata, tetapi karena teringat pesan sederhana dari seseorang yang saya sayangi, yang justru baru benar-benar saya pahami maknanya setelah ia tiada.
