Jadah, Cinta, dan Rindu Santri

Khodim Pesantren Laku Luhur Al Mahabbah Demak
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Fahmi Arif El Muniry tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Di pesantren, ada satu istilah kuliner yang maknanya lebih luas daripada bentuk asalnya. Namanya jadah. Ia bukan semata ketan putih yang ditumbuk hingga lengket, melainkan sebutan bagi aneka camilan kiriman orang tua ketika sambangan. Roti, kerupuk, kacang, wafer, pisang goreng, semuanya sah menjadi jadah bagi santri.
Pada hari sambangan, halaman pesantren seperti terminal kecil yang mempertemukan dua dunia. Orang tua datang membawa tas, kardus, rantang, dan rindu yang sulit ditimbang. Sebagian membawa bekal secukupnya, sebagian lain seperti hendak memasok minimarket. Santri menyambut keduanya dengan senyum, salam, dan mata yang diam-diam mengintip bungkusan.
Jadah bukan sekadar pengganjal perut. Ia membawa jejak dapur, tangan ibu, dan selera rumah ke kamar yang dihuni banyak orang. Claude Fischler, Food, Self and Identity (Social Science Information, 1988), mengingatkan bahwa makanan berkait dengan pembentukan identitas. Di pesantren, ingatan itu terasa dekat sekali bagi setiap santri.
Seorang ibu mungkin tidak menyusun pidato tentang rindu. Ia cukup membeli roti kesukaan anak, menggoreng pisang, atau memasukkan kacang ke kantong plastik. Bungkusan itu sederhana, tetapi perjalanan dan niat di belakangnya tidak sederhana. Cinta kadang tidak pandai berbicara; ia memilih naik bus antarkota menuju pesantren tercinta, demi anak.
Sesampainya di kamar, jadah segera menguji teori kepemilikan. Pemilik yang lapang hati membuka bungkusan dan membagikan isinya. Teman-teman mendekat dengan sopan santun khas keadaan lapar. Pertanyaan "Dari rumah, ya?" terdengar seperti basa-basi, padahal sering menjadi pintu masuk menuju distribusi pangan yang tidak tercatat dalam administrasi kamar santri.
Jadah bukan satu-satunya kosakata untuk pengalaman ini. Dalam sejumlah lingkungan pesantren Sunda dikenal istilah adrahi, halawa, japuk, gonimah, kemek, serta berkat atau barokatuh. Di sebagian pesantren Jawa Timur, dikenal pula tabheg atau tabhek. Ada pula sebutan IN, kependekan dari Insyaallah Nikmat, dalam cerita komunitas tertentu di pesantren.
Nama-nama itu tidak selalu menunjuk hal yang persis sama. Ada yang merujuk makanan kiriman, ada yang menekankan bekal, dan ada yang terkait bentuk hidangan atau kebiasaan berbagi. Karena pemakaiannya dapat berbeda antarpesantren, semuanya perlu dicatat bersama daerah, komunitas, dan konteksnya, bukan dipaksakan menjadi istilah seragam untuk Nusantara.
Jadah dan Bahasa Cinta
Ada santri yang memilih menyimpan jadah di lemari. Biskuit ditata, kerupuk diamankan, gembok dipasang. Ia sedang mengelola persediaan, bukan menolak persaudaraan, katanya. Namun ketika negosiasi gagal, dalam beberapa kisah lemari malah didobrak. Engsel menjadi korban, jadah berpindah tangan, dan pemilik pulang mengaji membawa pelajaran keamanan aset pribadi.
Kelucuannya mudah diceritakan, tetapi tindakannya tidak patut dirayakan. Mengambil tanpa izin tetap ghosop, meskipun barang bukti berupa wafer dan kerupuk. Marcel Mauss, The Gift (Routledge, 2002), membaca pemberian sebagai hubungan sosial yang melahirkan ikatan dan kewajiban. Ikatan itu tidak menghapus hak pemilik atas barangnya sendiri.
Sidney Mintz, Sweetness and Power (Penguin, 1985), menelusuri sejarah sosial makanan. Arjun Appadurai, The Social Life of Things (Cambridge University Press, 1986), mengajak kita membaca perjalanan benda. Mary Douglas, Deciphering a Meal dalam Implicit Meanings (Routledge, 1975), menunjukkan bahwa makanan juga mengandung aturan dan makna sosial yang diwariskan antargenerasi.
Di sinilah pesantren perlu menjaga dua pelajaran sekaligus. Santri belajar berbagi, tetapi juga belajar meminta izin. Solidaritas tanpa penghormatan hak dapat berubah menjadi perampasan berjubah kebersamaan. Adab bukan aksesori yang dipakai saat mengaji saja. Ia juga diuji ketika tangan menjangkau makanan yang bukan haknya sendiri, dalam keseharian santri.
Kelak, santri yang dahulu menunggu sambangan mungkin datang sebagai orang tua. Ia membawa kantong berisi camilan, lalu melihat anaknya membagikan sebagian kepada teman-teman. Barangkali ia tersenyum, barangkali teringat lemari yang pernah didobrak. Di antara bungkusan itu, ada sesuatu yang tak mudah diberi nama ketika masa mondok usai.
