Hadapi Hama Tikus, PPK Ormawa FST UNDIP Sosialisasikan Pengendalian Hama Terpadu

Mahasiswa Fakultas Teknik Universitas Diponegoro
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Zalfaa Haren tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Tim Program Penguatan Kapasitas Organisasi Kemahasiswaan (PPK Ormawa) Forum Studi Teknik (FST) Universitas Diponegoro resmi memulai pelaksanaan program SAHABAT TANI (Sistem Cerdas Pengendalian Hama Tikus Berbasis Ultrasonik dan Biopestisida dengan Energi Surya untuk Smart Farming Berkelanjutan Desa Brongkol) melalui kegiatan Sosialisasi Pengendalian Hama Terpadu (PHT) di Pendopo Kantor Desa Brongkol.

Sosialisasi ini menjadi bagian awal dalam pelaksanaan program, dengan fokus pada peningkatan kapasitas petani dalam menghadapi permasalahan hama tikus melalui pemahaman pengendalian hama tikus secara terpadu, efektif, dan berkelanjutan.
Kegiatan dihadiri oleh Pemerintah Desa Brongkol, BPP Kecamatan Jambu, Bapperida Kabupaten Semarang, Dispertanikap Kabupaten Semarang, Kelompok Tani Makmur I, Karang Taruna, serta masyarakat Desa Brongkol. Keterlibatan berbagai pihak tersebut menjadi bentuk dukungan dan kolaborasi dalam pelaksanaan program SAHABAT TANI, khususnya dalam upaya pengendalian hama tikus di Desa Brongkol.
Pada kegiatan ini, tim PPK Ormawa FST Undip menghadirkan narasumber yang berpengalaman di bidang pertanian, yaitu Ibu Norinda Dwi Andiyantari sebagai Koordinator Pengendali Organisme Pengganggu Tumbuhan (POPT) Kabupaten Semarang.
Kegiatan diawali dengan pemaparan mengenai karakteristik hama tikus, pola perkembangbiakan, perilaku, serta dampak serangannya terhadap tanaman padi. Kemudian dilanjutkan dengan pemaparan berbagai macam metode pengendalian hama tikus. Materi tersebut diberikan agar masyarakat memahami strategi pengendalian hama sejak dini melalui pendekatan terpadu, bukan hanya mengandalkan satu metode pengendalian.
Tim PPK Ormawa FST Universitas Diponegoro menjelaskan bahwa edukasi ini menjadi fondasi sebelum penerapan teknologi yang dikembangkan dalam program SAHABAT TANI.
“Melalui sosialisasi ini kami ingin meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai perilaku hama tikus dan pentingnya pengendalian hama terpadu. Harapannya, masyarakat tidak hanya mengenal teknologi yang kami kembangkan, tetapi juga memahami konsep pengendalian yang tepat sehingga teknologi tersebut dapat dimanfaatkan secara optimal dalam mendukung produktivitas pertanian,” jelasnya.
Berdasarkan hasil diskusi dengan masyarakat dan observasi lapangan, serangan hama tikus di Desa Brongkol masih menjadi permasalahan utama yang dihadapi petani. Bahkan, serangan tikus pernah menyebabkan gagal panen karena dalam satu malam tikus mampu merusak sebagian besar tanaman padi.
Selain itu, banyak ditemukan lubang-lubang tikus di sekitar area persawahan yang menjadi tempat berkembang biaknya hama tersebut. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa diperlukan upaya pengendalian yang lebih efektif, terintegrasi, dan berkelanjutan.
Antusiasme masyarakat terlihat selama kegiatan berlangsung. Para peserta aktif berdiskusi dan mengajukan berbagai pertanyaan seputar mekanisme pengendalian hama tikus serta teknologi yang akan diterapkan melalui program SAHABAT TANI. Selain itu, petani juga mengungkapkan kondisi terkini yang ditemukan secara langsung di lahan. Diskusi ini menunjukkan tingginya kepedulian masyarakat terhadap upaya meningkatkan produktivitas pertanian di Desa Brongkol.
Ketua Karang Taruna Desa Brongkol, Suprayitno, menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya kegiatan tersebut.
“Kami mengucapkan terima kasih kepada Tim PPK Ormawa Forum Studi Teknik Universitas Diponegoro atas kegiatan penanggulangan hama terpadu di Desa Brongkol. Masyarakat, khususnya para petani, sangat terbantu dengan adanya program ini. Kami berharap ilmu dan teknologi yang diberikan dapat terus dikembangkan sehingga memberikan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat Desa Brongkol,” ungkapnya.
Melalui program SAHABAT TANI, Tim PPK Ormawa FST Universitas Diponegoro tidak hanya menghadirkan inovasi teknologi berupa sistem pengendalian hama tikus berbasis ultrasonik, biopestisida, dan energi surya, tetapi juga meningkatkan kapasitas masyarakat melalui edukasi sehingga tercipta sistem pertanian yang lebih produktif, adaptif, dan berkelanjutan. Kegiatan sosialisasi ini diharapkan menjadi langkah awal dalam mewujudkan praktik smart farming yang mampu meningkatkan kesejahteraan petani Desa Brongkol.
