Dari Langit Nusantara hingga Kosovo, Paralayang Indonesia Gapai Ranking 2 Dunia

Tenaga Ahli Anggota DPR RI, dan penulis.
·waktu baca 6 menit
Tulisan dari Jafar Bua tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Terbang dengan paralayang selalu menawarkan cerita yang berbeda di setiap tempat.
Di Matantimali, Sigi, pegunungan Sulawesi Tengah terbentang seperti gelombang hijau yang tak putus. Di Salena, Palu, Teluk Palu menjadi hamparan biru yang seolah menyatukan laut, kota, dan perbukitan. Di Gunung Banyak, Kota Batu, Malang, pemandangan pegunungan dan permukiman menjadi latar penerbangan yang memikat.
Di Lombok Tengah, bukit-bukit batu menghadirkan lanskap yang khas. Sementara di Sumba, bentang alam yang luas memberi kesan seolah langit dan bumi bertemu tanpa batas. Kawasan Bogor, Jawa Barat pun memiliki daya tarik tersendiri dengan perbukitan dan lanskap hijaunya.
Namun, bagi atlet paralayang Indonesia, langit tidak berhenti di batas kepulauan sendiri.
Ada kalanya mereka harus membawa parasut dan keterampilan terbang ke negara lain, mengikuti kejuaraan, berhadapan dengan atlet dari berbagai penjuru dunia, sekaligus beradaptasi dengan kondisi alam yang belum tentu sama dengan tempat mereka berlatih.
Di Malaysia, Thailand, hingga Kosovo, penerbangan bukan lagi sekadar pengalaman menikmati pemandangan. Bagi atlet yang turun dalam kompetisi ketepatan mendarat, setiap penerbangan merupakan ujian konsentrasi, perhitungan, dan kemampuan membaca angin.
Lanskap boleh berbeda. Tantangannya tetap sama: mengendalikan parasut dan membawa kaki mendarat sedekat mungkin dengan sasaran.
Malaysia dan Thailand: Menguji Kemampuan di Langit Asia
Malaysia dan Thailand menjadi bagian dari lanskap olahraga paralayang Asia yang mempertemukan atlet dari berbagai negara.
Di lokasi-lokasi kompetisi, para atlet tidak sekadar datang untuk terbang. Mereka harus mengenali medan, memahami perubahan kondisi udara, dan menyesuaikan strategi dengan karakter lokasi penerbangan.
Angin yang terasa bersahabat saat latihan belum tentu memberikan kondisi serupa ketika pertandingan dimulai. Perubahan arah dan kekuatan angin bisa memengaruhi lintasan, kecepatan, serta keputusan atlet ketika mendekati area pendaratan.
Dalam nomor Paragliding Accuracy, persoalan itu menjadi sangat penting. Atlet harus mampu mengendalikan penerbangan dengan presisi, lalu mengarahkan parasut menuju sasaran yang ukurannya relatif kecil dibandingkan luas area pendaratan.
Kesalahan yang tampak sepele dapat berpengaruh pada hasil akhir. Karena itu, jam terbang, ketenangan, dan kemampuan beradaptasi menjadi bagian penting dari persiapan.
Bagi atlet Indonesia, mengikuti kompetisi di kawasan Asia juga membuka kesempatan untuk mengukur kemampuan menghadapi lawan yang memiliki pengalaman dan gaya terbang berbeda. Setiap pertandingan menjadi ruang belajar, bukan hanya soal hasil, tetapi juga tentang bagaimana meningkatkan konsistensi.
Kosovo: Ketika Perjuangan Membawa Merah Putih Lebih Jauh
Dari Asia, perjalanan paralayang kompetitif dapat membawa atlet hingga Eropa, termasuk Kosovo.
Di kawasan Balkan tersebut, pengalaman bertanding menghadirkan suasana berbeda dari lokasi-lokasi terbang di Indonesia. Lingkungan geografis, cuaca, serta kondisi angin yang dijumpai di lokasi pertandingan menuntut atlet kembali membaca keadaan dan menyesuaikan pendekatan mereka.
Bagi seorang penerbang, mengenali tempat bukan perkara sepele. Gunung yang tampak menjulang, lereng yang terlihat ideal, atau udara yang terasa tenang dari darat belum tentu menggambarkan kondisi penerbangan sesungguhnya.
Keputusan harus dibuat berdasarkan kondisi yang benar-benar dihadapi di udara. Dalam kompetisi, kemampuan mengelola tekanan menjadi sama pentingnya dengan teknik mengendalikan parasut.
Bertanding di luar negeri juga membawa tantangan tersendiri bagi atlet dan tim pendukung. Perjalanan jauh, penyesuaian lingkungan, persiapan peralatan, serta kebutuhan menjaga kondisi fisik dan mental menjadi bagian dari proses menuju arena pertandingan.
Ketika atlet Indonesia mampu bersaing di berbagai negara, pengalaman tersebut menjadi modal untuk memperluas wawasan dan memperkuat kemampuan menghadapi persaingan internasional.
Tentu, setiap kejuaraan memiliki cerita dan hasil masing-masing. Keikutsertaan dalam kompetisi luar negeri tidak otomatis menjamin kemenangan. Namun, kesempatan bertanding dan berhadapan langsung dengan atlet dari negara lain merupakan bagian penting dari perjalanan menuju prestasi.
Peringkat Kedua Dunia Bukan Hadiah dari Angin
Dalam pemeringkatan World Pilot Ranking System (WPRS) 2026 untuk nomor Paragliding Accuracy atau ketepatan mendarat, Indonesia menempati posisi kedua dunia di bawah China, berdasarkan daftar negara yang dirilis melalui Commission Internationale de Vol Libre (CIVL), bagian dari Federasi Olahraga Udara Internasional (FAI).
Ketua Komite Paralayang Indonesia periode 2022–2026, Asgaf Umar, menyampaikan bahwa posisi tersebut merupakan hasil akumulasi prestasi atlet dalam rangkaian kejuaraan kategori 1 dan kategori 2 yang masuk dalam periode pemeringkatan.
Menurut Asgaf, pencapaian itu tidak terlepas dari upaya dan kerja keras Komite Paralayang Federasi Aero Sport Indonesia (FASI) dalam membangun prestasi nasional.
Di daftar peringkat individu, empat atlet Indonesia dengan posisi tertinggi adalah Pangeran Dirgantara Pribaya di peringkat kedelapan dunia, Alvin Pratama di posisi kesembilan, Jafro Megawanto di posisi kesepuluh, dan Damar Tetuko Harimurti di posisi kesebelas.
Deretan nama tersebut memperlihatkan kehadiran atlet Indonesia di jajaran atas persaingan dunia. Namun, mempertahankan posisi itu membutuhkan lebih dari kemampuan individu. Pembinaan yang berkelanjutan, kesempatan mengikuti kompetisi, regenerasi atlet, dan dukungan organisasi menjadi bagian dari pekerjaan yang harus terus berjalan.
Daftar pemeringkatan negara dapat dilihat melalui CIVL — WPRS Paragliding Accuracy Nations 2026.
“Ini adalah upaya dan kerja keras Komite Paralayang FASI bersama atlet sehingga peringkat Indonesia bisa seperti sekarang,” kata Asgaf, Jumat (23/10/2026).
Perjalanan atlet ke berbagai arena internasional menjadi bagian penting dari proses tersebut. Bertanding di luar negeri memberikan kesempatan kepada atlet Indonesia untuk menguji kemampuan, menambah pengalaman, dan bersaing dengan pilot dari negara lain.
Bagi Asgaf, potensi paralayang Indonesia juga tidak hanya terletak pada prestasi atlet, tetapi pada kekayaan alam yang dapat dikembangkan menjadi destinasi olahraga dirgantara.
Dalam laporan detikTravel mengenai ekspedisi hike and fly di Gunung Kerinci, Asgaf pernah menyoroti potensi tersebut.
“Sering kali kita mencari destinasi petualangan ke luar negeri, padahal Indonesia memiliki lokasi yang kualitasnya setara bahkan lebih menarik,” ujar Asgaf.
Pernyataan itu relevan dengan upaya mengembangkan paralayang Indonesia dari dua sisi sekaligus: prestasi kompetitif dan pariwisata petualangan.
Kini, ketika Indonesia berada di posisi kedua dunia dalam Paragliding Accuracy, tantangan berikutnya adalah menjaga kesinambungan pembinaan dan membuka jalan bagi atlet Merah Putih untuk mengejar posisi teratas.
Dari Wisata Petualangan Menuju Prestasi Dunia
Paralayang memiliki dua wajah yang saling melengkapi.
Bagi wisatawan, olahraga ini menawarkan pengalaman menikmati dunia dari sudut pandang yang tidak biasa. Terbang dari lereng, melayang mengikuti angin, dan menyaksikan bentang alam dari ketinggian menjadi pengalaman yang sulit dilupakan.
Bagi atlet, pengalaman itu menjadi awal dari disiplin yang jauh lebih serius. Ada teknik yang terus diasah, kondisi alam yang harus dipahami, serta target kompetisi yang menuntut ketelitian.
Indonesia memiliki beragam lokasi yang berpotensi mendukung pertumbuhan olahraga dan wisata paralayang, mulai dari Matantimali dan Salena di Sulawesi Tengah hingga Gunung Banyak di Kota Batu, Malang. Namun, keindahan lokasi saja tidak cukup untuk melahirkan atlet berprestasi. Dibutuhkan sistem pembinaan, standar keselamatan, instruktur yang kompeten, dan kesempatan berkompetisi secara berkelanjutan.
Pengalaman di Malaysia, Thailand, Kosovo, dan berbagai arena internasional lainnya juga mengingatkan bahwa prestasi olahraga tidak tumbuh dalam ruang tertutup. Atlet membutuhkan kesempatan untuk bertemu lawan, menguji kemampuan, dan belajar dari pengalaman di luar lingkungan mereka sendiri.
Pada akhirnya, peringkat kedua dunia bukan garis finis. Ia adalah penanda bahwa kerja panjang atlet dan organisasi telah membawa paralayang Indonesia ke jajaran teratas dunia.
Di langit Nusantara, penerbangan mungkin dimulai dari lereng yang akrab. Namun, ketika kompetisi memanggil, perjalanan bisa berlanjut melintasi negara dan benua.
Dan di mana pun mereka terbang, satu hal tetap sama: sebelum kaki menyentuh tanah, seorang atlet harus terlebih dahulu memahami angin.
