Konten dari Pengguna

Kasus Stunting di Blimbingsari Banyuwangi: Mengapa Bisa Melonjak?

Satya Jagadhita

Satya Jagadhita

Mahasiswa Kedokteran FIKKIA UNAIR

·waktu baca 4 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Satya Jagadhita tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Foto: Unsplash/Kukuh Napaki
zoom-in-whitePerbesar
Foto: Unsplash/Kukuh Napaki

Setiap kali mendengar kata stunting, bayangan kita langsung tertuju pada masalah gizi anak, tinggi badan yang kurang, atau program pemberian makanan tambahan dari pemerintah. Isu ini hangat dibicarakan karena menyangkut masa depan generasi bangsa. Targetnya terdengar jelas, yakni angka stunting harus turun.

Namun, di balik laporan-laporan resmi yang sering muncul di publik, di mana grafiknya tampak rapi dan seolah-olah masalah sudah terkendali, ada cerita lain di tingkat akar rumput yang jarang diungkap. Cerita tentang bagaimana angka-angka itu sebetulnya dihasilkan.

Rekapitulasi data bulan timbang di Kecamatan Blimbingsari, Banyuwangi, catatan puskesmas, angka stunting pada bulan Februari 2025 hanya 20 balita (0,58%), tiba-tiba melonjak jadi 78 balita (2,25%) pada Agustus 2025.

Yang menjadi sorotan, hampir seluruh lonjakan itu terpusat di satu tempat saja, yaitu Desa Kaligung, dari yang sebelumnya tercatat hanya 1 anak, tiba-tiba melonjak drastis menjadi 59 anak. Sementara itu, desa-desa lain justru mencatat angka yang nyaris nol, bahkan di Desa Badean tercatat nol anak stunting.

Secara ilmu kesehatan, pertumbuhan anak yang mengalami stunting itu sifatnya kronis dan bertahap. Tidak mungkin secara biologis kondisi di satu wilayah berubah drastis dalam hitungan bulan tanpa adanya kejadian luar biasa seperti kelaparan atau wabah besar. Lonjakan yang terlalu ekstrem atau angka nol yang terlalu sempurna ini jelas bukan kondisi riil di lapangan. Hal ini disebut sebagai "artefak data", alias angka yang terbentuk karena cara mengukur atau cara mencatatnya yang berubah, bukan karena kondisi anaknya yang tiba-tiba sembuh total atau mendadak sakit parah.

Lalu, apa yang sebenarnya terjadi?

Di balik angka stunting, ada faktor non-gizi yang patut diperhatikan, yaitu tekanan terhadap target. Ketika target daerah dipatok sangat ambisius, kader Posyandu dan perangkat desa berpotensi merasa bahwa melaporkan kasus yang banyak sama seperti menunjukkan kegagalan, sementara laporan nol kasus dianggap capaian yang membanggakan.

Tekanan semacam ini dapat mengganggu kualitas data. Di satu sisi, ada kemungkinan sebagian kasus tidak tercatat (under-reporting). Di sisi lain, peningkatan ketelitian pengukuran, misalnya setelah pelatihan, bisa membuat angka naik mendadak. Perbandingan dengan SSGI atau SKI pun memperlihatkan kesenjangan yang lebar, sebagian karena data rutin hanya mencakup anak yang hadir ditimbang, sehingga anak yang tidak hadir luput dari pencatatan.

Masalah ini menjadi berlapis ketika kita melihat dari sisi manusianya. Di lapangan, kader posyandu terkadang melabeli anak sebagai "stunting" secara frontal tanpa pendekatan yang empatik. Orang tua yang mendengarnya mungkin merasa malu, menganggap stunting sebagai aib keluarga atau takdir keturunan. Akibatnya, benteng pertahanan sosial pun terbangun. Orang tua menjadi enggan membawa anaknya ke posyandu, sementara kader cenderung menghindari konflik dan tidak mencatat kondisi yang sebenarnya.

Jika kita terus-menerus terjebak pada "angka laporan yang bagus di atas kertas", maka intervensi yang diberikan pemerintah pasti akan salah sasaran.

Sudah saatnya orientasi penanganan stunting diubah. Kita tidak boleh lagi mengejar target laporan yang indah dan memuaskan, melainkan harus berani jujur dengan validitas data. Kader posyandu perlu didampingi dan dilatih ulang menggunakan alat ukur yang benar, tanpa perlu diancam sanksi administratif jika menemukan angka yang tinggi.

Di sisi lain, pendekatan ke masyarakat harus lebih humanis. Dengan cara mengajak ibu-ibu belajar lewat forum kelompok, melibatkan pedagang sayur keliling yang dekat dengan keseharian warga untuk memantau ibu hamil, serta kader perlu dibekali pelatihan antropometri dan komunikasi empatik, dengan alat ukur yang tersedia dan seragam, pengecekan ulang angka sebelum dilaporkan agar data lebih dapat dipercaya. Semua ini berpotensi lebih diterima oleh masyarakat daripada penyuluhan satu arah lewat spanduk.

Sebab, menyelamatkan generasi dari ancaman stunting tidak bisa dimulai dari kebohongan statistik. Hal ini harus dimulai dari kejujuran melihat kenyataan di lapangan, merangkul masyarakat tanpa menghakimi, dan memperbaiki sistem pencatatan dari hulu ke hilir. Karena mereka butuh penanganan nyata di dunia, bukan sekadar laporan bagus di atas meja.

Catatan: Artikel ini disusun secara kolaboratif oleh I Putu Satya Jagadhita (196241017), Laili Ramadhani (196241045), dan Achmad Hakim Baswedan (196241047) untuk memenuhi tugas Mata Kuliah IKM-KP Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga.