Konten dari Pengguna

Renungan Gaji Pertama

Jajang Jaenudin

Jajang Jaenudin

Pelayan Publik Pemerintah Kabupaten Karawang

comment
2
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Jajang Jaenudin tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Gambar ilustrasi gaji pertama (sumber foto: Koleksi pribadi).
zoom-in-whitePerbesar
Gambar ilustrasi gaji pertama (sumber foto: Koleksi pribadi).

Pada tahun 2000, tepatnya bulan Ramadhan saya menyibukkan diri mengaji "pasaran" kitab kuning di rumah ustaz. “Pasaran” adalah istilah yang biasa disebut oleh para santri membahas kitab kuning yang harus selesai selama bulan Ramadhan.

Ketika di jalan mau pulang dari “pasaran”, saya bertemu teman ngaji dulu. Sudah lama tidak berjumpa, dia cerita sudah bekerja di perusahaan di daerah Bogor. Entah karena kasihan, atau bagaimana, dia mengajak saya ikut ke Bogor. "Saya enggak bisa masukin, silakan saja nyari sendiri, biasanya habis lebaran banyak lowongan," begitu kata dia.

Pertama Kali Melamar Kerja

Setelah lebaran usai, saya pergi ke Kecamatan Gunung Putri, Kabupaten Bogor. Daerah tersebut ternyata merupakan daerah industri namun berdampingan dengan permukiman. Di sana saya diperbolehkan menginap di kontrakan teman saya.

Dua hari kemudian, ada kabar lowongan kerja di perusahaan permen. Keesokan harinya, berkas lamaran diserahkan ke pos satpam perusahaan. Saya beserta pencari kerja lain menunggu giliran tes. Tes dilaksanakan menggunakan sistem gugur. Yang tidak lolos tes langsung meninggalkan tempat tes. Saya beserta pencari kerja lain yang tersisa, menunggu pengumuman kelulusan di belakang pos satpam.

Menjelang magrib, datang seorang pegawai mengumumkan pencari kerja yang lulus, termasuk saya. Langsung diantar ke kantor untuk menandatangani kontrak kerja selama 3 bulan. Tidak ada calo atau biro jasa. Pelamar tidak dipungut biaya dan yang lulus juga tidak diminta biaya. Gaji pertama pun utuh tidak ada potongan biaya untuk imbalan kelulusan.

Foto salah satu pabrik di Gunung Putri (sumber foto: Koleksi pribadi).

Kisah Lama Teringat Kembali

Pada saat menunggu pengumuman di belakang pos satpam, sempat teringat peristiwa pengumuman pantukhir (Penilaian Panitia Penentu Akhir) perguruan tinggi kedinasan di Jatinangor. Seluruh peserta pantukhir dari seluruh provinsi dikumpulkan di lapangan luas yang disebut parade. Semuanya membawa tas besar seakan mau pulang.

Satu per satu peserta yang tidak lulus dibacakan. Dag-dig-dug perasaan saya saat itu ketika peserta yang tidak lulus dari Jawa Barat akan dibacakan. Yang ditakutkan ternyata terjadi, nama saya dibacakan oleh protokol.

Peserta yang tidak lulus dipanggil ke depan untuk dipulangkan. Dengan membawa tas yang berat saya pun berjalan. Saat itu entah kenapa beratnya tas tidak terasa, "leumpang asa teu napak" (jalan serasa melayang). Mental saya down dan sempat sakit hampir seminggu.

Tahun berikutnya saya mencoba kembali, namun gagal di tes kesehatan. Setelah itu, saya tidak ada niat untuk mencoba kembali.

Menerima Gaji Pertama

Bulan pertama, selain ikut menginap di kontrakan teman, saya sering menumpang makan karena kurangnya perbekalan. Beruntung waktu itu pembayaran gajinya 2 minggu sekali. Besaran gaji waktu itu kisaran Rp 450.000 - Rp 600.000 tergantung lemburan. Saat menerima gaji pertama, bahagianya luar biasa. Saya bisa patungan bayar kontrakan dan tidak menumpang makan lagi.

Agar gaji yang sedikitpun tersisa, saya mulai menyusun budget pengeluaran harian. Dan ternyata dengan budget itu, saya harus memilih menu makan yang harganya murah. Menu andalan saat itu tidak jauh dari tahu, tempe, telur, dan sayuran. Sesekali saja ayam goreng dan daging.

Saat menikmati menu andalan di warteg langganan, saya tiba-tiba muncul pertanyaan dalam hati "dengan gaji segitu, bagaimana jika saya punya istri dan anak? Apakah akan cukup?" Dan tiba-tiba muncul niat kembali daftar ke perguruan tinggi kedinasan yang sama untuk ketiga kalinya, karena syarat usia masih memungkinkan.

Semangat Baru untuk Kesempatan Terakhir

Tiba waktunya pendaftaran dibuka. Di sela libur kerja, dimanfaatkan untuk melengkapi berkas persyaratan. Tentunya saya harus bolak-balik Bogor-Karawang. Karena sudah pengalaman, saya tidak menemukan kesulitan dalam melengkapi berkas persyaratan.

Tidak seperti daftar pertama dan kedua, saya lebih rileks dan cenderung nothing to lose. Saya hanya ingin memanfaatkan kesempatan terakhir. Jika hasilnya tidak lulus juga, saya sudah siap menerimanya. Ketika tahapan tes pun dimulai, terpaksa saya mulai banyak izin tidak masuk kerja, karena harus ke Bandung pada saat tes dan menginap di sana. Masjid sering menjadi tempat bermalam.

Alhamdulillah, saya lolos tahapan seleksi di Provinsi. Tinggal satu langkah lagi yaitu pantukhir. Bayang-bayang kegagalan pantukhir seperti pada seleksi pertama kali, kadang masih menghinggap. Namun, saya sudah siap apapun hasilnya.

Sering tidak masuk kerja karena ikut tes, membuat tidak enak hati. Tetapi juga khawatir tidak lolos pantukhir. Namun akhirnya saya memutuskan untuk mengundurkan diri dari perusahaan, walaupun sempat ditolak manajer, bahkan dijanjikan jadi karyawan tetap.

Kebahagiaan Itu pun Tiba

Jadwal tes pantukhir sudah dikabarkan. Peserta harus kumpul di Gedung Sate. Kami diantar sampai kampus dan menginap di barak beberapa hari untuk mengikuti tes pantukhir. Hari yang mendebar pun tiba, peserta yang tidak lulus akan diumumkan. Satu per satu dipanggil ke depan. Alhamdulillah, sampai akhir pengumuman saya tidak dipanggil. Gembira tak berkira, walaupun turut merasa sedih kepada mereka yang dipanggil namanya.

Di Rute Baru, Banyak Pemandangan Baru

Banyak hikmah yang saya petik dari peristiwa yang saya alami itu. Tiap kali mengingat pengalaman itu, selalu ada hikmah baru. Merasa kecewa ketika jalan yang saya lalui tak membuat sampai tujuan. Bahkan Allah SWT belokkan ke rute lain yang lebih berliku. Ternyata di sana banyak pemandangan baru, yang tidak banyak orang rasakan.

Jika lulus di kesempatan pertama dan kedua, saya tidak bisa merasakan sedihnya petani saat panen. Saya tidak bisa merasakan digaji Rp 50.000 per bulan sebagai tukang foto di daerah Pantura. Saya tidak bisa merasakan capeknya jalan kaki seorang salesman. Saya tidak bisa merasakan perjuangan hidup sebagai buruh pabrik. Saya tidak akan belajar, bagaimana cara bangkit kembali dan menata semangat baru.

Saya lah yang telanjur berburuk sangka kepada-Nya. Padahal Dia membelokkan jalan itu, ke jalan yang penuh hikmah. Agar ketika saya sampai ke tujuan, lebih bersyukur akan nikmat yang telah Dia berikan. “...Dan Allah berkuasa terhadap urusan-Nya, Tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahuinya.” (QS. Yusuf :21).