Konten dari Pengguna

PSAK 118 Bukan Cuma Ganti Format Laporan Laba Rugi

Jaka Mulya

Jaka Mulya

Mahasiswa Magister Akuntansi Universitas Pamulang

·waktu baca 6 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Jaka Mulya tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Image Credit to Berke Citak, https://unsplash.com/photos/a-desk-with-a-calculator-papers-eyeglasses-and-office-supplies-QV5VoI18Ld8
zoom-in-whitePerbesar
Image Credit to Berke Citak, https://unsplash.com/photos/a-desk-with-a-calculator-papers-eyeglasses-and-office-supplies-QV5VoI18Ld8

IFRS 18 bukan hanya sekedar standar yang "akan datang". Sejumlah perusahaan besar di berbagai negara bahkan sudah mulai menerapkannya lebih awal, jauh sebelum tanggal efektifnya pada 1 Januari 2027. Di Indonesia sendiri, standar ini sudah dikonvergensikan menjadi PSAK 118: Penyajian dan Pengungkapan dalam Laporan Keuangan oleh Dewan Standar Akuntansi Keuangan Ikatan Akuntan Indonesia (DSAK IAI). PSAK 118 akan menggantikan PSAK 201 dan berlaku efektif mulai 1 Januari 2027.

Bagi kebanyakan orang, perubahan standar akuntansi mungkin terdengar seperti urusan teknis yang cukup diserahkan kepada bagian keuangan dan auditor. Padahal, ada satu alasan mengapa perubahan ini layak diperhatikan oleh investor, mahasiswa akuntansi, maupun masyarakat yang membaca laporan keuangan.

Perubahan bukan cuma tampilan laporan laba rugi melainkan cara perusahaan menyampaikan cerita tentang kinerja mereka.

Selama ini, laporan laba rugi perusahaan di Indonesia memiliki ruang yang relatif besar dalam menentukan bagaimana pendapatan dan beban ditampilkan. Perusahaan dapat menggunakan berbagai istilah dan ukuran kinerja dalam komunikasi publiknya. Kita mengenal istilah seperti EBITDA, adjusted profit, recurring profit, core profit, dan berbagai ukuran lain yang digunakan manajemen untuk menjelaskan kinerja perusahaan.

Masalahnya, angka yang terlihat paling menonjol belum tentu memiliki definisi yang sama antara satu perusahaan dengan perusahaan lainnya.

Bagi investor, kondisi ini tidak selalu sederhana. Membandingkan kinerja dua perusahaan bisa menjadi seperti membandingkan apel dengan jeruk, hanya karena keduanya sama-sama disebut "buah".

Disinilah PSAK 118 menjadi menarik.

Bukan sedar mengubah tampilan laporan.

PSAK 118 membawa sejumlah perubahan penting dalam penyajian dan pengungkapan laporan keuangan. Salah satu yang paling terlihat adalah struktur laporan laba rugi.

Pendapatan dan beban akan diklasifikasikan ke dalam kategori operasi, investasi, dan pendanaan, disertai subtotal baru seperti laba operasi dan laba sebelumnya pendanaan dan pajak penghasilan. Tujuannya bukan sekedar membuat laporan terlihat berbeda, tetapi memberikan struktur yang lebih konsisten sehingga kinerja perusahaan lebih mudah dibandingkan.

Bayangkan seorang investor sedang membaca laporan dua perusahaan.

Selama ini, investor mungkin harus lebih banyak melihat bagaimana masing-masing perusahaan menyusun dan menjelaskan ukuran kinerjanya. Dengan struktur baru, informasi mengenai kinerja operasi perusahaan diharapkan menjadi lebih mudah diidentifikasi dan dibandingkan.

Dengan kata lain, standar baru ini berusaha mengurangi ruang untuk pembaca laporan keuangan "menebak-nebak" dari mana sebenarnya kinerja perusahaan berasal.

Perubahan yang menurut saya jauh lebih menarik justru bukan format laporan laba rugi, tetapi pada apa yang disebut Ukuran Kinerja Tetapan Manajemen (UKTM) atau Management-Defined Performance Measures (MPM).

Perusahaan tetap dapat menggunakan ukuran kinerja yang menurut manajemen penting untuk menjelaskan kinerjanya. Namun, PSAK 118 memberikan persyaratan pengungkapan yang lebih ketat. Perusahaan harus menjelaskan ukuran tersebut dan merekonsiliasikannya dengan ukuran yang ditentukan oleh standar.

Mengapa ini penting?

Karena selama bertahun-tahun kita terbiasa melihat perusahaan menonjolkan angka yang dianggap paling menggambarkan keberhasilan mereka.

Masalahnya, "angka favorit" satu perusahaan belum tentu dapat dibaca dengan cara yang sama oleh investor ketika digunakan oleh perusahaan lain.

Disinilah menurut saya PSAK 118 tidak hanya bebicara tentang akuntansi.

Ia berbicara tentang komunikasi informasi keuangan.

Standar tersebut mencoba membuat perusahaan lebih transparan ketika menggunakan ukuran kinerja yang ditentukan sendiri oleh manajemen. Investor tidak hanya diberi angka, tetapi juga informasi mengenai bagaimana angka tersebut dibentuk dan bagaimana hubungannya dengan angka yang ditentukan oleh standar.

Lalu, apakah laba perusahaan akan berubah?

Ini mungkin pertanyaan pertama yang muncul ketika mendengar adanya standar baru.

Jawabannya: tidak berarti demikian.

PSAK 118 terutama mengubah penyajian dan pengungkapan, bukan secara langsung mengubah pengakuan atau pengukuran transaksi sehingga otomatis membuat perusahaan menjadi lebih untung atau lebih rugi. PSAK 118 sendiri berfokus pada penyajian dan pengungkapan, termasuk struktur laporan laba rugi, UKTM, serta agregasi dan disagregasi informasi.

Carlsberg produsen minuman asal Denmark (Image Credit Elin Tabitha, https://unsplash.com/photos/clear-drinking-glass-with-beer-GRQXwIuW0VQ)

Contoh penerapan awal juga mulai memperlihatkan hal tersebut. Carlsberg (salah satu perusahaan multinasional dari Denmark), misalnya, menyatakan bahwa penerapan IFRS 18 pada 2026 tidak mengubah laba periode, laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemegang saham, EPS, arus kas, total aset, liabilitas, maupun ekuitas. Dampak utamanya berada pada penyajian dan klasifikasi informasi serta pengungkapannya.

Jadi, perubahan terbesar mungkin bukan pada berapa besar laba yang diperoleh perusahaan, tetapi pada bagaimana laba dan kinerja tersebut dibaca.

Dari "Memilih Cerita" menjadi "Menjelaskan Cerita"

Menurut saya, inilah bagian yang paling menarik dari perubahan tersebut.

Laporan keuangan pada akhirnya bukan hanya kumpulan angka. Ia adalah alat komunikasi perusahaan dengan para penggunanya.

Manajemen tentu memiliki perspektif mengenai apa yang dianggap penting dari kinerja perusahaan. Investor juga memiliki kepentingan untuk mengetahui apakah kinerja tersebut benar-benar berasal dari aktivitas utama perusahaan atau dipengaruhi oleh faktor lain.

PSAK 118 mencoba mempersempit jarak tersebut.

Dengan struktur laporan yang lebih terstandar dan pengungkapan UKTM yang lebih transparan, perusahaan tetap memiliki ruang untuk menjelaskan kinerjanya, tetapi ruang untuk memilih dan menonjolkan cerita menjadi lebih terstruktur.

Menurut saya, ini justru merupakan salah satu perubahan paling penting dari PSAK 118.

Bukan membuat perusahaan berhenti bercerita, tetapi membuat cerita tersebut lebih mudah dipahami, dibandingkan, dan diuji oleh pembacanya.

Tantangannya Sudah Dimulai sebelum 2027.

Karena berlaku efektif pada 1 Januari 2027, mungkin muncul anggapan bahwa perusahaan, auditor dan akuntan masih memiliki banyak waktu untuk mempersiapkan diri.

Menurut saya, justru sebaliknya.

Air-France KLM perusahaan maskapai asal Prancis dan Belanda (Image Credit to David Syphers, https://unsplash.com/photos/airplanes-are-parked-at-an-airport-terminal-tvxusDB5hOA)

Implementasi IFRS 18 di berbagai negara sudah mulai memberikan contoh nyata mengenai bagaimana standar tersebut diterapkan. Air-France-KLM (perusahaan induk maskapai penerbangan multinasional asal Prancis dan Belanda), misalnya, melakukan early adoption IFRS 18 dalam laporan interim 30 Juni 2026 dan menyajikan kembali informasi komparatif 2025 secara retrospektif.

Bagi profesi akuntansi, perubahan seperti ini menunjukan bahwa standar akuntansi tidak pernah benar-benar berhenti berkembang.

Auditor dan akuntan perusahaan perlu memahami bukan hanya apa yang berubah dalam standar, tetapi juga mengapa perubahan tersebut dibuat dan bagaiamana perubahan tersebut mempengaruhi komunikasi perusahaan kepada pengguna laporan keuangan.

Hal yang sama berlaku bagi mahasiswa akuntnsi yang sedang mempersiapkan diri memasuki dunia kerja.

Mempelajari PSAK 118 tidak seharusnya baru dimulai ketika tanggal efektifnya tiba.

Pada akhirnya, yang berubah adalah cara kita membaca kinerja.

Pertanyaannya sekarang bukan lagi apakah PSAK 118 akan berdampak.

Ia akan berdampak pada cara perusahaan menyajikan dan mengungkapkan informasi kinerja keuangannya.

Pertanyaan yang lebih menarik adalah:

Seberapa siap perusahaan, investor dan profesi akuntansi Indonesia menghadapi perubahan cara membaca kinerja tersebut?

Ketika tahun 2027 tiba, mungkin angka laba menjadi salah satu angka yang paling banyak dilihat.

Tetapi investor tidak lagi cukup hanya bertanya:

"Berapa labanya".

Mereka juga perlu bertanya:

"Laba itu berasal dari mana, bagaimana kinerja tersebut disajikan, ukuran apa yang digunakan manajemen untuk menggambarkannya, dan seberapa dapat dibandingkan angka tersebut dengan perusahaan lain?"

Karena pada akhirnya, PSAK 118 bukan hanya mengubah laporan keuangan. Ia berpotensi mengubah cara kita memahami cerita di balik angka-angka tersebut.

Jaka Mulya, Mahasiswa Magister Akuntansi Universitas Pamulang.