Purwakarta dan Kenangan di Dalamnya

Lulusan Sarjana Ilmu Komunikasi dan masih belajar untuk menjadi seorang penulis
Tulisan dari Jaka Satria Putra tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Bagi yang telah menyelesaikan tingkat pendidikan di Universitas pasti telah merasakan suka, dan duka nya dari awal masuk semester pertama dengan adanya ospek sampai semester akhir menyusun skripsi, ada juga KKN (Kuliah Kerja Nyata). Sedikit cerita tentang pengalaman aku mengikuti KKN selama 40 hari di Desa Cikaobandung, yang letaknya di Kecamatan Jatiluhur Kabupaten Purwakarta. Minggu tanggal 5 Agustus 2018, aku telah memasukkan ke dalam tas barang apa saja yang akan dibawa selama mengikuti KKN.
Jam 9 malam aku masuk kamar untuk tidur karena takut terlambat keesokan harinya, tapi entah mengapa perasaanku campur aduk gelisah untuk mengikuti KKN selama 40 hari dengan teman-teman baru, karena dalam satu kelompok itu terdiri sekitar 35 sampai 40 orang dari berbagai fakultas dan jurusan.

Dan akhirnya hari yang di tunggu-tunggu pun datang, Senin 6 Agustus 2018 jam 7 pagi semua peserta KKN berkumpul di lapangan kampus untuk melakukan upacara dan pelepasan. Aku masih belum kenal siapa pun di kelompokku, terkecuali 3 orang teman sekelas ku yaitu Afiq, Sendy, dan Aris. Aku sangat beruntung ada mereka dalam satu kelompok, setelah selesai upacara dan pelepasan kemudian berkumpul bersama kelompok untuk membahas dari mulai perjalanan sampai tiba di lokasi, ada yang berangkat menggunakan sepeda motor bareng (touring) ada juga menggunakan minibus yang telah disediakan oleh pihak kampus.
Sedangkan aku membawa mobil pribadi dan mengajak Afiq, Sendy, dan Aris agar ada teman selama di perjalanan. Berangkat dari kampus Universitas Langlangbuana Bandung melewati pintu masuk tol Buahbatu Bandung kita ngobrol sambil bernyanyi mendengarkan lagu dari speaker mobil, dan yang aku ingat lagu favorit Afiq itu BCL judulnya Kecewa. Tak lama kita mampir ke rest area untuk buang air kecil dan meminum kopi sambil menyalakan satu batang rokok agar tidak mengantuk lalu melanjutkan perjalanan lagi, tak terasa setelah 1 jam lebih kita telah sampai pintu gerbang exit tol Jatiluhur, sekitar 30 menit dari exit tol akhirnya sampai tujuan di Desa Cikaobandung.
Pada hari pertama sampai hari ketiga kita berempat tidur dalam mobil, karena kurang merasa nyaman dalam satu rumah terdiri 40 orang dengan mereka yang belum kita kenal semua. Di sisi lain kita tak nyaman dengan keadaan rumah bisa di bilang kurang layak untuk ditinggali, maklum rumah puluhan tahun kosong kesan mistis nya sangat terasa dan banyak binatang liarnya di halaman rumah, ditambah lagi rumah kontrakan ini paling pojok dan berdampingan dengan Sungai besar Citarum yang berhubungan langsung dengan Waduk Jatiluhur.
Setiap hari aku mengeluh untuk pulang atau paling tidak menyewa penginapan yang lebih layak untuk kita berempat. Tapi perasaanku tidak enak dengan anggota kelompok yang lain, akhirnya kita terpaksa berbaur dengan yang lainnya.
Hari demi hari kita lewati bersama melakukan program kerja atau biasa kami sebut proker dari mulai mengajar di sekolah, sampai membantu setiap kegiatan masyarakat setempat. Dan ternyata semua pikiran ku sekarang berbanding terbalik, aku sangat nyaman bersama mereka seperti keluarga. Sampai pada akhirnya karakter setiap orang yang sebenarnya terbuka, yang awalnya pendiam pemalu atau jaim sudah mulai kelihatan banyak tingkah.
Banyak cerita suka dan duka dilewati bersama, apabila ada seseorang yang sakit semua ikut merawatnya tanpa memandang fisik, ras, dan agama itu yang bikin aku kagum dengan kelompok ini. Pada suatu hari aku mau mandi dan terkejut ada seekor ular di dalam kamar mandi, suasana alam di desa ini masih terbilang asri jadi apa pun flora dan fauna liar masih sering ditemui di luar, untungnya aku suka dan tidak takut dengan hewan reptil jadi aku ambil dan buang ular itu ke tempat yang agak jauh mengingat kamar mandi tersebut juga sering digunakan oleh teman-teman perempuan.
Setelah mandi lalu berpakaian aku ingin beristirahat sambil berbaring di tikar dan ternyata menemukan ular lagi yang masuk ke dalam helm temanku, ketiga kali aku melihat ular dengan jenis yang sama kali ini di pagar kayu rumah, pikiran ku sudah mulai negatif mungkin pertanda atau akan terjadi sesuatu. Malam hari sekitar jam 11 malam aku dengan teman cowok yang lain sedang asik bermain gitar dan sebagian ada yang bermain game di hp masing-masing sedangkan teman perempuan sudah tertidur semua di ruangan yang lain.
Tiba tiba terdengar suara jeritan entah itu tangisan atau tertawa, seketika kita langsung bergegas mengecek keadaan ke ruangan perempuan. Dan ternyata benar apa yang aku khawatirkan terjadi, ada satu orang teman perempuan ku kerasukan oleh makhluk gaib penunggu rumah tersebut dan menular ke beberapa orang lainnya, aku bergegas lari mencari warga setempat menggunakan cahaya lampu dari hp seadanya tapi tidak ada satu orang pun yang ditemui diluar, mengingat waktu itu sudah jam 12 malam.
Aku langsung bergegas ke rumah Pak RT untungnya masih ada dan belum tidur, kemudian kita bersama dengan Pak RT dan Pak ustaz menuju rumah kontrakan lalu melakukan semacam baca doa dan ritual untuk menetralkan suasana, memang aku merasa udara di rumah tersebut sangat panas berbeda dari biasanya. Setelah semua normal kembali Pak ustaz berpesan agar tidak terlalu bising di rumah ini karena memang sudah beberapa tahun kosong, seketika semua jadi hening dan mulai mengambil posisi untuk tidur.
Aku tidur di dapur bersama Sendy, dan Afiq menghadap ke salah satu pintu yang di dalamnya terdapat satu ruangan terkunci rapat dengan rantai dan gembok, konon ruangan tersebut dilarang dibuka oleh siapa pun entah ada barang pusaka atau apa yang lainnya aku tidak tahu. Sedangkan di pinggir ku terhalang tembok ada sebuah sumur tua biasa dipakai untuk cuci piring teman-temanku, mungkin hanya orang tertentu yang berani tidur di situ.
Waktu berjalan sangat cepat hari demi hari pun terlewati seperti biasanya, pagi hari ada bagian piket dan ada bagian pergi ke pasar untuk belanja bahan makanan. Lalu siang hari kita melakukan kegiatan proker, dan sore hari kita melakukan evaluasi tentang apa yang sudah dikerjakan hari ini, malam hari seperti biasa bersenda gurau namun kali ini tidak terlalu bising.
Singkat cerita akhirnya hari ini adalah hari terakhir kita di Desa Cikaobandung, hari ini sudah tidak ada lagi proker hanya untuk berkemas dan berpamitan ke kepala desa dan masyarakat setempat karena esok hari akan pulang kembali ke Bandung.
Entah kenapa aku merasa sedih detik demi detik pun terasa sangat berharga untuk hari ini, sore hari aku melihat dari depan jalan ke arah rumah sangat mengharukan.
Tak lupa aku bergegas ke pinggir sungai Citarum, karena di sana tempat favoritku saat melihat senja yang istimewa.
Keesokan harinya tanggal 8 September 2018 kita semua pulang menuju Kota Bandung dan semua berjalan kembali seperti hari-hari biasanya.
Sekarang aku telah lulus dari kuliah dan sampai sekarang aku tak tahu bagaimana kabar teman-temanku, mungkin ada yang sibuk dengan pekerjaannya, bahkan mungkin ada yang telah berkeluarga. Dimanapun kalian semua aku selalu berdoa yang terbaik, Terima kasih telah menjadi bagian cerita terbaik dalam hidupku.
Untuk Purwakarta, semoga, sampai saat ini masih tetap bertahan dengan senja yang indah dan istimewa. Suatu saat, aku akan kembali bukan untuk mengingat kenangan, tetapi untuk memulai kenangan baru dengan seseorang yang tidak kalah istimewa, yang kelak akan menjadi pendamping di cerita tuaku.
Salam rinduku untuk Purwakarta dari Bumi Pasundan.
