Konten dari Pengguna

Jakarta: Ruang Depan dan Ruang Belakang

Nurul Firmansyah

Nurul Firmansyah

Lawyer and Restorative Economy Enthusiast

·waktu baca 8 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Nurul Firmansyah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

sumber : https://www.dw.com/id/geser-tokyo-jakarta-jadi-kota-terbesar-di-dunia/g-74864948
zoom-in-whitePerbesar
sumber : https://www.dw.com/id/geser-tokyo-jakarta-jadi-kota-terbesar-di-dunia/g-74864948

Jakarta sering dibayangkan sebagai kota yang tidak pernah tidur. Gedung pencakar langit, pusat perbelanjaan, jalan layang, apartemen, perkantoran, dan lampu-lampu kota membentuk wajah metropolitan yang seolah tak pernah kehabisan energi.

Namun, di balik wajah modern itu, Jakarta sesungguhnya tetaplah kumpulan kampung.

Barangkali di situlah paradoks Jakarta: sebuah kota yang ingin menjadi kota global, tetapi tumbuh dari ruang-ruang kampung—tempat manusia tinggal, bertetangga, mencari nafkah, membangun identitas, sekaligus berebut ruang hidup.

Sejarah Jakarta sendiri bermula dari perjumpaan.

Jauh sebelum menjadi metropolitan, kota ini dikenal sebagai Sunda Kelapa. Pelabuhan di muara Ciliwung itu telah menjadi bagian penting dari jaringan perdagangan Asia. Catatan Tomé Pires pada awal abad ke-16 menggambarkan Sunda Kelapa sebagai pelabuhan yang terhubung dengan berbagai pusat perdagangan di kawasan Asia. Kapal datang membawa barang, tetapi bersama kapal-kapal itu datang pula manusia, bahasa, agama, kebudayaan, dan kepentingan politik.

Jakarta sejak awal bukan kota dengan satu identitas. Ia tumbuh dari perjumpaan banyak identitas.

Tetapi sejarah kota juga merupakan sejarah perebutan ruang.

Pada 1527, Sunda Kelapa direbut pasukan Fatahillah dan kemudian dikenal sebagai Jayakarta. Hampir satu abad kemudian, pada 1619, VOC di bawah Jan Pieterszoon Coen menaklukkan Jayakarta dan membangun Batavia. Nama kota berubah, penguasa berganti, tetapi satu hal tetap: ruang kota selalu berkaitan dengan kekuasaan.

Di bawah VOC, Batavia berkembang sebagai pusat perdagangan dan pemerintahan kolonial. Tata kota tidak hanya mengatur jalan, kanal, benteng, dan bangunan. Ia juga mengatur hubungan antarkelompok penduduk. Permukiman dan ruang sosial berkembang secara terpisah menurut kepentingan kekuasaan dan struktur masyarakat kolonial.

Dengan demikian, Jakarta sejak awal adalah kota yang plural, tetapi pluralitas itu tidak selalu berarti kesetaraan.

Kota mempertemukan banyak manusia, tetapi tidak selalu memberikan mereka ruang yang sama.

Itulah salah satu paradoks yang terus membayangi Jakarta.

Ketika pusat kota kolonial kemudian berkembang ke arah selatan, bentuk pemisahan ruang mengalami perubahan. Pada awal abad ke-20, kawasan Menteng dan Gondangdia dikembangkan sebagai kawasan hunian modern dengan konsep garden city. Jalan yang tertata, taman, rumah-rumah besar, dan infrastruktur yang relatif baik menjadikannya kawasan yang diperuntukkan terutama bagi kelompok berkemampuan ekonomi lebih tinggi.

Menteng kemudian bukan hanya menjadi nama sebuah kawasan. Ia menjadi simbol.

Ketika seseorang mengatakan dirinya tinggal di Menteng, nama tempat itu segera menghadirkan bayangan tertentu tentang kelas sosial, gaya hidup, bahkan posisi seseorang dalam masyarakat.

Sebaliknya, ada kampung-kampung yang namanya justru segera diasosiasikan dengan kepadatan, kemiskinan, atau keterpinggiran.

Nama tempat berubah menjadi identitas sosial.

Padahal, secara sederhana, tempat hanyalah tempat.

Kota membuatnya lebih rumit.

Harga tanah, akses transportasi, kualitas lingkungan, fasilitas publik, keamanan, bahkan bentuk bangunan mengubah ruang geografis menjadi ruang sosial. Sebuah alamat tidak lagi hanya menunjukkan di mana seseorang tinggal, tetapi juga dapat menjadi petunjuk tentang bagaimana masyarakat memandang dirinya.

Dari sinilah kita dapat membaca perubahan penting dalam sejarah Jakarta.

Jika dahulu pemisahan ruang sangat dipengaruhi oleh struktur kolonial, hari ini pemisahan itu bekerja dengan cara yang lebih halus: melalui harga tanah, kepemilikan properti, kemampuan membayar sewa, akses terhadap fasilitas, dan kedekatan dengan pusat ekonomi.

Tembok mungkin tidak lagi menjadi instrumen utama.

Harga tanah telah mengambil sebagian pekerjaan itu.

Karena itu, Jakarta dapat dibaca sebagai kumpulan kampung yang bertingkat-tingkat.

Ada kampung yang berubah menjadi kawasan bisnis. Ada kampung yang bertahan di sela gedung-gedung tinggi. Ada kampung yang terdesak pembangunan. Ada yang berubah menjadi kawasan hunian mahal. Ada pula kampung yang tidak pernah benar-benar terlihat, meskipun setiap hari memasok tenaga kerja bagi kota.

Kita hidup berdampingan, tetapi tidak selalu hidup bersama.

Seorang pekerja dapat menghabiskan waktu berjam-jam menuju pusat kota. Ia membersihkan gedung yang tidak pernah ia tinggali, melayani restoran yang mungkin terlalu mahal untuk keluarganya, mengantar barang ke apartemen yang harga satu unitnya jauh melampaui kemampuan ekonominya.

Kota mempertemukan kita melalui pekerjaan, tetapi memisahkan kita melalui kepemilikan.

Di sinilah Jakarta menjadi sebuah panggung.

Jakarta memiliki jutaan aktor.

Ada pejabat, pengusaha, pekerja kantoran, pedagang kaki lima, buruh, sopir, kurir, mahasiswa, seniman, pedagang pasar, pekerja rumah tangga, penjaga keamanan, dan mereka yang setiap hari datang dari pinggiran kota untuk bekerja.

Mereka semua menjalankan peran.

Tetapi tidak semua memperoleh panggung yang sama.

Jakarta memiliki ruang depan dan ruang belakang.

Ruang depannya adalah gedung-gedung tinggi, pusat perbelanjaan, hotel, restoran, jalan protokol, taman kota, dan berbagai simbol kemajuan. Di sana Jakarta menampilkan dirinya sebagai kota modern, terbuka, dan berkelas dunia.

Ruang belakangnya adalah gang-gang sempit, rumah kontrakan, pasar, terminal, stasiun, permukiman padat, dapur restoran, ruang kerja buruh, dan rumah-rumah kecil tempat jutaan manusia memulihkan tenaga sebelum kembali bekerja keesokan harinya.

Tanpa ruang belakang, ruang depan Jakarta tidak akan pernah hidup.

Namun, justru ruang belakang itulah yang paling mudah dilupakan.

Kita menikmati kebersihan gedung tanpa selalu melihat petugas yang membersihkannya. Kita menikmati makanan tanpa memikirkan pekerja dapur. Kita menerima paket tanpa melihat perjalanan kurir. Kita memasuki rumah dengan aman tanpa selalu mengingat petugas keamanan yang berjaga.

Jakarta adalah panggung yang sangat besar. Tetapi tidak semua aktor mendapatkan lampu sorot yang sama.

Masalahnya, panggung yang terlalu besar dapat membuat para aktornya kehilangan satu sama lain.

Lihatlah jalanan Jakarta.

Jutaan orang bergerak setiap hari. Mobil pribadi, sepeda motor, bus, kereta, kendaraan daring, dan pejalan kaki bergerak dalam ruang yang sama. Kita berdesakan, tetapi tidak selalu berjumpa.

Kita berdiri bersebelahan di kereta, tetapi mungkin tidak mengetahui nama orang di samping kita.

Kita tinggal bersebelahan di apartemen, tetapi tidak tahu siapa tetangga di pintu sebelah.

Kita memiliki ratusan atau ribuan teman di media sosial, tetapi mungkin tidak mengenal orang yang tinggal paling dekat dengan kita.

Kepadatan tidak selalu melahirkan kedekatan.

Kota dapat menjadi sangat ramai sekaligus sangat sepi.

Apartemen dapat dihuni ribuan orang, tetapi penghuninya tetap dapat hidup dalam kesendirian. Mal dipenuhi manusia, tetapi hubungan sosial sering berlangsung sebagai transaksi. Jalan raya penuh kendaraan, tetapi setiap orang berada dalam ruang mobilitasnya sendiri.

Kesepian urban bukan semata-mata persoalan tidak adanya manusia. Ia dapat lahir ketika manusia terlalu banyak, tetapi hubungan sosial terlalu sedikit.

Maka persoalan Jakarta bukan hanya bagaimana membangun lebih banyak jalan, rumah, gedung, pusat perdagangan, atau infrastruktur.

Pertanyaan yang lebih mendasar adalah: kota macam apa yang sedang kita bangun?

Apakah kota hanya tempat orang mencari nafkah?

Ataukah kota juga tempat manusia membangun kehidupan bersama?

Pertanyaan itu membawa kita kembali kepada kampung.

Kampung sering dianggap sebagai wajah Jakarta yang tertinggal. Padahal, kampung memiliki sesuatu yang justru sering hilang dari kota modern: kedekatan sosial.

Di kampung, orang masih mungkin mengetahui siapa tetangganya. Ada warung tempat orang berbincang. Ada halaman tempat anak-anak bermain. Ada ruang kecil tempat warga bertemu. Ada solidaritas yang bekerja bukan karena kontrak, melainkan karena hubungan sosial.

Tentu kampung juga memiliki persoalan. Kepadatan, sanitasi, keterbatasan ruang terbuka, banjir, keamanan, serta tekanan pembangunan merupakan persoalan nyata.

Tetapi menghapus kampung atas nama modernisasi bukanlah satu-satunya jalan.

Sebab yang hilang bukan hanya bangunan.

Yang mungkin hilang adalah jaringan sosial.

Karena itu, masa depan Jakarta semestinya tidak hanya berbicara tentang bagaimana mengubah kampung menjadi kawasan modern, tetapi bagaimana membuat modernitas bekerja bersama kampung.

Kota membutuhkan perumahan yang terjangkau, transportasi publik yang menghubungkan pusat dan pinggiran, ruang publik yang dapat diakses semua orang, serta tata ruang yang tidak menjadikan kemampuan ekonomi sebagai satu-satunya penentu siapa yang dapat tinggal dekat dengan pusat kesempatan.

Lebih dari itu, Jakarta membutuhkan ruang perjumpaan.

Ruang di mana orang kaya dan miskin tidak hanya bertemu sebagai penjual dan pembeli.

Ruang di mana kelompok yang berbeda tidak hanya berpapasan, tetapi memiliki kesempatan untuk saling mengenal sebagai warga.

Sebab kota yang sehat bukan kota tanpa perbedaan.

Kota yang sehat adalah kota yang memungkinkan perbedaan hidup berdampingan tanpa menjadikan perbedaan itu alasan untuk saling menyingkirkan.

Jakarta telah berganti nama beberapa kali: Sunda Kelapa, Jayakarta, Batavia, kemudian Jakarta. Setiap nama membawa lapisan sejarah dan kekuasaan yang berbeda.

Namun, ada sesuatu yang tampaknya tidak berubah: Jakarta selalu menjadi panggung.

Di atas panggung itu, kekuasaan datang dan pergi. Pedagang datang dan pergi. Gedung dibangun dan dihancurkan. Kampung berubah menjadi jalan raya. Jalan raya berubah menjadi kawasan bisnis. Manusia datang dari berbagai penjuru Nusantara untuk mencari pekerjaan, pendidikan, kesempatan, dan kehidupan yang lebih baik.

Mereka semua memainkan perannya.

Ada yang menjadi pemeran utama.

Ada yang hanya muncul sebentar.

Ada yang bekerja di balik panggung.

Ada pula yang tidak pernah mendapatkan lampu sorot, tetapi pekerjaannya membuat seluruh pertunjukan tetap berlangsung.

Dan kita sebenarnya adalah semuanya: aktor sekaligus penonton.

Karena itu, Jakarta tidak seharusnya hanya dibaca dari gedung-gedung tingginya. Jakarta juga harus dibaca dari kampung-kampungnya, gang-gang kecilnya, warung-warungnya, pasar, stasiun, rumah kontrakan, dan ruang-ruang tempat warganya masih saling menyapa.

Di sanalah kota memperlihatkan wajahnya yang paling manusiawi.

Sunda Kelapa dahulu menjadi tempat bertemunya kapal dan manusia dari berbagai penjuru dunia. Jakarta hari ini mewarisi fungsi itu dalam bentuk yang jauh lebih kompleks.

Tantangannya bukan lagi sekadar bagaimana membuat manusia datang dan berdagang.

Tantangannya adalah bagaimana membuat jutaan manusia yang sudah tinggal bersama itu benar-benar menjadi warga kota.

Jakarta mungkin akan selalu menjadi kumpulan kampung.

Dan itu bukan kelemahan.

Justru di sanalah kemungkinan masa depannya.

Sebab kampung adalah tempat manusia belajar hidup bersama sebelum sebuah kota belajar menjadi kota.

Pada akhirnya, pertanyaan terpenting bukan siapa yang menjadi pemeran utama di panggung Jakarta.

Melainkan: apakah panggung ini cukup luas untuk kita semua?