Konten dari Pengguna

Lansia Tidak Butuh Kesibukan, Mereka Butuh Peran

Jamalludin

Jamalludin

Statistisi di Badan Pusat Statistik

·waktu baca 4 menit

google
Tambah ke Prefensi Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Jamalludin tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi tiga tipe lansia pascapensiun (sumber : digenerate oleh gemini ai)
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi tiga tipe lansia pascapensiun (sumber : digenerate oleh gemini ai)

Pagi itu, Pak Kaum (nama samaran) sedang menyiapkan materi kajian yang akan disampaikannya pada pengajian lansia. Baginya, pensiun dari sektor formal tidak lantas mengakhiri kontribusi kepada masyarakat. Ia memang telah meninggalkan kantor, tetapi tidak meninggalkan perannya.

Pemandangan berbeda terlihat di rumah Bu Darti (nama samaran), pensiunan dosen salah satu perguruan tinggi negeri di Jawa Tengah bagian selatan. Sebagian besar waktunya dihabiskan untuk merawat tanaman, membaca, dan menikmati ketenangan rumah. Berbeda dengan Pak Kaum yang aktif berinteraksi dengan banyak orang, Bu Darti menemukan makna hidup melalui aktivitas yang lebih privat.

Tidak jauh dari sana, seorang eyang uti tampak sibuk menemani cucunya bermain. Mengurus cucu memberinya rasa bahagia dan mengurangi perasaan kosong setelah pensiun. Dalam keluarganya, ia tetap menjadi sosok yang dibutuhkan.

Ketiga lansia tersebut menjalani masa pensiun dengan cara yang berbeda. Namun mereka memiliki satu kesamaan: tetap memiliki peran yang membuat hidup terasa bermakna.

Selama ini pembicaraan mengenai lansia sering berfokus pada pentingnya menjaga mereka tetap aktif dan produktif. Berbagai program dirancang agar lansia tetap sibuk melalui senam, kegiatan sosial, pelatihan keterampilan, maupun aktivitas komunitas lainnya. Kesibukan memang penting, tetapi hasil survei kami terhadap 230 pensiunan di Kabupaten Sleman menunjukkan bahwa yang lebih penting dari sekadar kesibukan adalah keberadaan peran yang dirasakan bermakna.

Sebagian lansia menemukan peran tersebut melalui aktivitas sosial. Mereka aktif dalam organisasi kemasyarakatan, kegiatan keagamaan, pengurus lingkungan, maupun komunitas lokal. Bagi sebagian dari mereka, keterlibatan tersebut merupakan bentuk pengabdian yang tertunda selama masih bekerja. Ada yang menyebutnya sebagai cara "nyawur utang" kepada masyarakat.

Para peneliti penuaan menjelaskan bahwa manusia cenderung ingin mempertahankan peran-peran yang selama ini memberi makna dalam hidupnya. Karena itu, banyak lansia tetap aktif bukan semata untuk mengisi waktu luang, melainkan karena mereka ingin tetap merasa berguna dan dibutuhkan.

Namun tidak semua lansia memilih jalan yang sama.

Sebagian lainnya justru menemukan makna dalam aktivitas yang lebih tenang dan reflektif. Mereka menghabiskan waktu untuk berkebun, membaca, menulis, menonton, atau memperdalam kehidupan spiritual. Kelompok ini tidak dapat begitu saja dianggap pasif atau menarik diri dari kehidupan sosial.

Dalam kajian gerontologi, kecenderungan tersebut dikenal sebagai gerotransendensi, yaitu pergeseran orientasi hidup dari pencapaian duniawi menuju refleksi diri dan pencarian makna yang lebih mendalam. Bagi mereka, masa tua bukanlah periode untuk terus mengejar pengakuan sosial, melainkan kesempatan untuk menikmati ketenangan yang selama ini sulit diperoleh ketika masih aktif bekerja.

Ada pula kelompok lansia yang menemukan perannya di dalam keluarga. Data kami menunjukkan bahwa kelompok ini merupakan yang terbesar. Mereka aktif mengurus pasangan, membantu anak, menemani cucu, dan menjalankan berbagai pekerjaan domestik sehari-hari.

Peran tersebut sering kali dipandang sederhana, padahal memiliki arti yang besar. Keterlibatan dalam keluarga memberikan perasaan bahwa diri mereka masih dibutuhkan. Perasaan berguna inilah yang menjadi salah satu sumber kesejahteraan psikologis pada usia lanjut.

Temuan tim psikologi Universitas Gadjah Mada mengenai psikologi keluarga berbasis kearifan lokal juga menunjukkan bahwa tradisi momong cucu menjadi salah satu cara lansia mengurangi perasaan sepi dan kehilangan makna hidup. Mengasuh cucu bukan sekadar membantu anak, tetapi juga memberi ruang bagi lansia untuk tetap menjalankan peran sosial yang penting.

Menariknya, masa pensiun juga mengubah pembagian kerja dalam rumah tangga. Banyak laki-laki yang sebelumnya sangat terikat dengan pekerjaan mulai lebih aktif membantu pekerjaan domestik, menemani pasangan, dan merawat cucu. Dengan kata lain, pensiun tidak selalu mengurangi kontribusi seseorang, tetapi sering kali mengalihkan bentuk kontribusinya.

Temuan-temuan tersebut menunjukkan bahwa tidak ada satu cara yang benar untuk menjalani masa tua. Sebagian lansia merasa bermakna ketika aktif di masyarakat. Sebagian menemukan ketenangan dalam aktivitas pribadi. Sebagian lainnya memperoleh kebahagiaan melalui keluarga.

Karena itu, upaya memberdayakan lansia sebaiknya tidak hanya berfokus pada membuat mereka tetap sibuk. Yang lebih penting adalah memastikan mereka tetap memiliki ruang untuk menjalankan peran yang sesuai dengan nilai, kemampuan, dan pilihan hidupnya.

Penuaan yang baik bukan tentang seberapa padat jadwal aktivitas seseorang. Penuaan yang baik adalah ketika lansia tetap memiliki alasan untuk bangun setiap pagi karena merasa dirinya masih berarti bagi orang lain maupun bagi dirinya sendiri.