Kumparan Logo
Konten Media Partner

Banjir Parah Melanda Kerinci dan Sungai Penuh, Ribuan Warga Terpaksa Mengungsi

Jambikita.idverified-green

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Warga Kecamatan Hamparan Rawang, Sungai Penuh terpaksa pindah ke pngungsian/Karang Taruna Dayang Indah
zoom-in-whitePerbesar
Warga Kecamatan Hamparan Rawang, Sungai Penuh terpaksa pindah ke pngungsian/Karang Taruna Dayang Indah

Jambikita.id – Kota Sungai Penuh, dan Kabupaten Kerinci, Provinsi Jambi saat ini sedang menghadapi bencana banjir besar yang membuat ribuan warga terpaksa mengungsi.

Banjir kali ini merupakan yang terbesar dan cakupannya yang paling luas setealah puluhan tahun. Sebelumnya, pada 2003 pernah juga terjadi banjir besar namun cakupannya tidak seluas kali ini.

Salah satu posko yang menampung ratusan pengungsi berada di eks kantor DPRD Sungai Penuh, di Air Bungkal, Simpang Tiga Rawang.

Posko pengungsian banjir Sungai Penuh/Karang Taruna Dayang Indah

Salah seorang relawan banjir, Slamet Putra Wijaya, mengatakan, posko yang mereka dirikan merupakan hasil dari swadaya masyarakat sekitar.

Di posko yang diprakarsai Karang Taruna Dayang Indah itu, menampung kurang lebih 550 jiwa per tanggal 2 Januari 2024, pukul 11.00 WIB.

“Posko pengungsian ini menjadi lokasi untuk evakuasi korban banjir dari Desa Simpang Tiga Rawang, dan desa-desa sekitar,” kata Slamet, Selasa (2/1/2024).

Kondisi rumah warga yang terendam banjir di Sungai Penuh/Karang Taruna Dayang Indah

Selain posko yang mereka dirikan, kata dia, terdapat sejumlah posko-posko lain di Kecamatan Hamparan Rawang.

Posko pengungsian lainnya menggunakan bangunan masjid untuk menampung pengungsi.

Di lokasi posko yang mereka dirikan, kata dia, saat ini terdapat kurang lebih 550 orang pengungsi yang terdiri dari Balita, anak-anak, dewasa, hingga Lansia.

Berdasarkan data perhitungan mereka, terdapat dari ratusan pengungsi itu, sebanyak 54 orang merupakan Balita. “Balita 54 orang, anak-anak 90 orang, dan lansia 61 orang. Serta ada 2 orang ibu hamil,” kata Slamet.

Di Hamparan Rawang, lanjutnya, berdasarkan informasi yang dia peroleh, lokasi terparah yang terdampak banjir adalah 3 desa Tanjung.

Kemudian, adalah Desa Simpang Tiga Rawang, hampir seluruh wilayah Simpang Tiga Rawang terendam banjir.

Sebagian warga terpaksa harus mengungsi dan sebagian lainnya memilih tetap bertahan di lantai dua rumah.

Di posko pengungsian ini, kata Slamet, mereka juga mendirikan dapur umum untuk pengungsi dari dana donasi masyarakat. “Pemerintah Cuma ngasih beras. Selebihnya dengan donasi dari warga sekitar dan warga dari luar Simpang Tiga,” kata dia.

Saat ini kondisi pengungsi masih belum stabil, bahkan sudah ada sejumlah pengungsi yang menderita sakit. Beruntung di lokasi pengungsian sudah ada tenaga Kesehatan dari Dinas Kesehatan Sungai Penuh yang diturunkan.

“Sudah ada yang sakit, tapi sudah ada dokter dari Dinas Kesehatan. Tapi ada beberapa yang harus dirujuk ke Rumah Sakit untuk dirawat secara intensif,” kata dia.

Saat ini, kata Slamet, pengungsi membutuhkan banyak bantuan, mengingat banjir masih terus berlanjut.

“Yang paling dibutuhkan itu Sembako. Kemudian juga pakaian, selimut, tikar, serta popok untuk Balita,” tambahnya.