Beluluk dan Kegembiraan Ramadhan di Desa Jambi Tulo

Jambikita.id - Kolang-kaling menjadi salah satu idola hidangan berbuka puasa. Disajikan dengan berbagai warna membuat kolang-kaling terlihat sangat segar. Kita biasanya bisa dengan mudah mendapatkan kolang-kaling di pasar. Atau mungkin yang sudah menjadi olahan makanan. Namun tidak semudah itu bagi Pak Kengkeng (47). Sebelum memperoleh kolang-kaling, dia harus memanjat pohon enau lebih dahulu. Pak Kengkeng adalah pengrajin buah beluluk atau kolang-kaling Desa Jambi Tulo, Kecamatan Maro Sebo, Kabupaten Muaro Jambi. Tradisi panen beluluk terus dijaga dan ia lakukan setiap Ramadhan. Rabu (22/4) saat matahari panas menyengat Pak Kengkeng sedang berada di atas pohon enau. Memilah buah beluluk yang siap dipanen, yang cocok dijadikan kolang-kaling. Memilah beluluk yang cocok sudah jadi keahlian Pak Kengkeng. Tidak boleh terlalu muda juga jangan terlalu tua, nanti kolang-kaling yang dihasilkan akan keras. Beberapa tandan beluluk dari hasil memanjat Pak Kengkeng dibawa pulang untuk diolah. Ini baru proses awal tradisi panen beluluk warga Jambi Tulo.

Tidak banyak lagi pengrajin beluluk di Jambi Tulo. Cuma tersisa lima orang. Pak Kengkeng salah satunya yang bertahan. Salah seorang warga Jambi Tulo, Adi Ismanto mengatakan, panen beluluk adalah tradisi rutin masyarakat Jambi Tulo setiap Ramadhan. "Pengrajin yang memanen beluluk harus tahu mana buah yang sudah memenuhi syarat untuk diambil," kata Adi beberapa waktu lalu. Adi yang juga aktif sebagai pelestari budaya di deaanya mengatakan, dalam tradisi panen beluluk setiap orang memiliki peran berbeda. Khusus orang yang bagian memanjat dan memanen harus dilakukan oleh orang yang sudah ahli. Beluluk yang sudah dipanen dipreteli dari tandannya. Kemudian direbus dalam kuali yang berukuran besar menggunakan tungki api kurang lebih selama 2 jam. Biasanya proses ini dilakukan oleh ibu-ibu di desa itu. Buah beluluk baru dikupas setelah selesai direbus. Saat sudah menjadi kolang-kaling atau makanan berbentuk lonjong dan berwana putih transparan itu, kemudian direndam. Setelah itu baru siap untuk diolah menjadi makanan. Panen beluluk menjadi tradisi yang selalu dinantikan masyarakat Jambi Tulo setiap Ramadhan. Masyarakat ramai-ramai memanen beluluk setiap Ramadhan. Tradisi ini menjadi hal yang menggembirakan bagi mereka dan tidak terpisahkan dari Ramadhan. Kata Adi, saat ini pohon beluluk yang tersisa sekitar seratusan pohon. Pohon ini menjadi sumber ekonomi tambahan bagi warga setiap Ramadan. "Ketika menyambut bulan puasa kami gembira, beluluk bisa jadi pendapatan ekonomi keluarga, terutama pengrajinnya. Harapannya semakin banyak masyarakat yang kembali menanam pohon enau," ungkap Adi. Pohon enau kata dia perlu dilestarikan, pohon yang tumbuh sejak zaman dahulu ini memberikan banyak manfaat.
***
kumparanDerma membuka campaign crowdfunding untuk bantu pencegahan penyebaran corona virus. Yuk, bantu donasi sekarang!
