Kumparan Logo
Konten Media Partner

Kenduri Swarnabhumi Ungkap Peran dan Keasrian Mangrove di Jambi

Jambikita.idverified-green

·waktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Hutan Mangrove Panngkal Babu. (Foto: M Sobar Alfahri)
zoom-in-whitePerbesar
Hutan Mangrove Panngkal Babu. (Foto: M Sobar Alfahri)

Jambikita - Vivi (16) bersama kawan-kawannya sudah bersiap-siap menampilkan sebuah tarian kreasi dengan mengenakan pakaian berwarna biru. Mereka menunggu kedatangan rombongan penting kala di depan pintu masuk Wisata Mangrove Pangkal Babu, Desa Tungkal 1, Kuala Tungkal, Tanjung Jabung Barat, Jambi, Rabu (9/8) pagi.

Tampak sejumlah bibit pohon bakau di tangan mereka. Bibit pohon itu ternyata menjadi atribut tarian kreasi yang mengangkat tradisi lokal.

“Namanya Maccerak Parek. Tradisi ini diekspresikan sebagai tarian. Di sini kebanyakan orang Bugis,” tutur Vivi.

Tarian ini pertama kali dimainkan saat festival yang diadakan Dinas Pemuda Olahraga Kebudayaan dan Pariwisata Tanjung Jabung Barat. Sedangkan yang kedua kalinya, dimainkan dalam rangka memeriahkan Kenduri Swarnabhumi pada hari itu. Vivi dan kawannya sudah berlatih selama sebulan untuk mempersiapkannya.

Tidak lama kemudian, rombongan yang ditunggu pun datang. Terlihat Direktur Perfilman Musik dan Media Baru Kemendikbud Ahmad Mahendra, Wakil Bupati Tanjung Jabung Barat Hairan, Christine Hakim, tokoh masyarakat setempat, dan sebagainya.

Tarian kreasi Maccerak Parek kemudian dimainkan di depan rombongan penting yang baru tiba. Vivi dan kawannya berlenggak lenggok, memainkan kompangan, hingga menanam bibit mangrove di sebuah polybag secara bergantian yang diiringi tarian.

Usai pergelaran seni tari, Ahmad Mahendra dan rombongan yang bersamanya, memasuki Wisata Mangrove Pangkal Babu. Mereka melewati jembatan dan jalan yang terbuat dari barisan kayu. Tampak barisan pohon khas mangrove di sepanjang jalan yang teduh.

“Di sini ada pohon bakau, api-api, pidada, dan sebagainya. Di luar, pantai, ada pohon api-api, berbatasan dengan laut. Terus semakin ke darat, tumbuh pohon bakau,” ujar tour guide dari Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Mangrove Pangkal Babu, Asis, kepada rombongan Kenduri Swarnabhumi.

Ia pun mengatakan kegiatan penanaman pohon mangrove dimulai pada tahun 2002 yang dilakukan oleh masyarakat dan dibantu dinas terkait. Penanaman terus dilakukan setiap tahunnya di lokasi tersebut.

Kawasan Mangrove Pangkal Babu sendiri memiliki luas berkisar 1.012 hektar yang dimuat dalam Perdes Nomor 3/2021 tentang Perlindungan dan Pemanfaatan Kawasan Mangrove. Hutan ini sangat berperan untuk mengurangi emisi karbon.

“Jadi, kegunaan mangrove sendiri, selain menahan abrasi juga bermanfaat untuk akan merasa segar,” tutur Asis.

Sementara itu, Mahendra menyampaikan penanaman dan pelindungan yang dilakukan kelompok masyarakat terhadap Mangrove Pangkal Babu adalah sesuatu yang sangat bermanfaat di tengah fenomena krisis iklim.

“Kita 10 tahun terakhir mengalami krisis iklim, jadi apa yang dilakukan di Kuala Tungkal ini, the best. Sesuatu yang sangat baik sekali. Kita berupaya mengembalikan alam. Kita sekarang menghadapi El Nino yang akhirnya kita sengsara karena tidak ada hujan. Di dekat kita ada mangrove, tidak hanya dijaga, tetapi juga memiliki potensi ekonomi,” katanya.

Saat ini, kata Mahendra, Kemendikbud menyoroti dua isu besar, yakni mengenai keberagaman dan perubahan iklim. “Itu yang selalu didengungkan. Penting sekali, seperti melakukan penanaman untuk mengatasi krisis iklim. Yuk, jaga alam sekaligus lestarikan budaya,” tuturnya.

Ia pun mengatakan Kenduri Swarnabhumi dan Ekspedisi Sungai Batanghari yang digelar Kemendikbud Ristek merupakan salah satu upaya mendorong masyarakat menjaga alam dan kebudayaan.

“Kita ingin peran itu, masyarakat bisa mengembalikan harapan dan menjaga alam. Festival-festival itu, di samping kebudayaan tetapi juga mengangkat isu lingkungan. Seperti Ekspedisi Batanghari ‘yok bareng-bareng bersama masyarakat.’ Gubernur Jambi juga akan mengeluarkan Pergubnya setelah ada piagam Batanghari tahun lalu sebagai hasil dari Kenduri Swarnabhumi yang disepakati masyarakat adat untuk menjaga sungai,” katanya.

Dalam kesempatan ini, Mahendra turut mengapresiasi tim Ekspedisi Batanghari, Kenduri Swarnabhumi. Menurutnya, tim itu telah mendorong masyarakat untuk melestarikan lingkungan dan kebudayaan.

“Warga di Sungai Batanghari mulai menjaga adat untuk menjaga sungai. Dan memberikan sanksi kepada orang-orang yang melanggar adat. Jadi, ini hal yang baik. Harapannya besar sekali, menjaga alam dan menjaga budaya,” katanya.

Tidak hanya sekedar menikmati dan menyampaikan keasrian Mangrove Pangkal Babu, Mahendra bersama rombonganya turut menanam pohon di lokasi itu. Ia tidak ragu terjun di lahan basah dan mempraktikkan penanaman sesuai dengan petunjuk tata cara dari warga lokal.

Kunjungan Mahandera ke hutan bakau ini merupakan bagian Kenduri Swarnabhumi dan Ekspedisi Batanghari tahun 2023. Kenduri Swarnabhumi digelar oleh Kementerian Pendidikan Kebudayaan Riset dan Teknologi (Kemendikbud Ristek). Tujuannya, meningkatkan kesadaran masyarakat tentang hubungan antara kebudayaan dengan pelestarian lingkungan, khususnya sungai

Sedangkan Ekspedisi Batanghari menjadi salah satu rangkaian dalam Kenduri Swarnabhumi. Kegiatan ini menjadi tindak lanjut Piagam Batanghari yang dicanangkan pada Kenduri Swarnabhumi tahun 2022. Para pegiat budaya dan lingkungan, peneliti (arkeolog, sejarawan, ahli agronomi dan hortikultura, serta ahli perikanan dan budidaya), jurnalis, pelajar, dan mahasiswa, berpartisipasi dalam kegiatan ini.

Ekspedisi Batanghari berlangsung dari tanggal 27 Juli – 9 Agustus 2023, dimulai dari Kawasan Candi Pulau Sawah Kabupaten Dharmasraya, lalu Kabupaten Tebo, Kabupaten Batanghari, beberapa desa di Muaro Jambi, Danau Sipin Kota Jambi, KCBN Muaro Jambi hingga Kabupaten Tanjung Jabung Barat. Kunjungan Mahendra dan tim Ekspedisi Batanghari di Wisata Mangrove Pangkal Babu, menjadi akhir ekspedisi itu tersebut.

(M Sobar Alfahri)