Kumparan Logo
Konten Media Partner

Makan Bersama, Dari Tradisi Punutan Hingga Hidangan Prasmanan

Jambikita.idverified-green

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Hajatan Yasinan atau berdoa bersama dengan membaca Surah Yasin di Jambi disertai dengan makan bersama. Foto: ist
zoom-in-whitePerbesar
Hajatan Yasinan atau berdoa bersama dengan membaca Surah Yasin di Jambi disertai dengan makan bersama. Foto: ist

Jambikita.id - Hidangan makanan ala prasmanan atau Prancis perlahan menggeser tradisi punutan di Jambi. Bagaimanakah sikap orang adat dan masyarakat?

Tradisi punut atau makan bersama dalam hajatan dimulai ratusan tahun silam. Tepatnya, pada tahun 1502 di Bukit Siguntang terkait pengambilan keputusan dalam rapat besar adat, peleburan hukum adat dan hukum syariah. Hasilnya, adat bersendi syarak, syarak bersendi kitabullah.

Setelah peristiwa itu, Sultan Kerajaan Melayu Jambi, Orang Kayo Hitam bertitah umat Islam boleh memperingati perayaan maulid nabi, isra miraj, pergantian tahun dan hari besar Islam lainnya.

Untuk merayakan hari besar Islam, maka secara bersama rakyat membawa nasi ibat (nasi dibungkus daun pisang beserta lauk pauk) ke bale pertemuan.

Sejak peristiwa itu, tradisi makan bersama terus dilakukan. Di daerah Muaro Jambi, Provinsi Jambi dikenal Punutan, Pulau Jawa Liwetan, Sunda Bancaan.

Ketua Lembaga Adat Melayu Muaro jambi, Mukhtar Hendro menuturkan tradisi punutan adalah kegiatan makan bersama dalam satu hidangan atau talam yang lengkap dengan nasi, lauk pauk, lalapan dan cuci tangan.

"Tradisi punutan berawal sejak rapat besar adat di Bukit Siguntang. Tidak hanya penting untuk adat tapi juga budaya," kata Mukhtar saat ditemui Jambikita.id di rumahnya, Kelurahan Jambi Kecil, Kecamatan Marosebo, Kabupaten Muaro Jambi, Sabtu (9/11).

Ia mengatakan punutan erat kaitannya dengan budaya orang-orang Arab.

"Memang tradisi makan berjamaah di Nusantara, awalnya diperkenalkan para pedagang Arab sebagai bentuk pelaksanaan sunnah Nabi,” tambahnya.

Dalam kitab Fathul Baari karya Ibnu Hajar al Asqalani, ulama besar dan ahli hadist kelahiran Mesir, disebutlah sebuah hadits Nabi Muhammad yang berbunyi: “Makanlah bersama-sama dan janganlah sendiri-sendiri karena sesungguhnya makanan satu orang itu cukup untuk dua orang”.

Karena hadits inilah orang-orang Arab membiasakan diri makan bersama-sama dalam shahfah (piring besar untuk makan lima orang) atau qas’ah (piring besar untuk makan sepuluh orang).

Tradisi makan punutan memiliki dasar kuat. Selain menjalankan sunah nabi, punutan menjadi ajang silaturahim. Membuat orang tidak kenal menjadi saling mengenal.

Ia mencontohkan dalam pesta perkawinan, banyak tamu undangan datang. Karena duduk satu punutan, tetapi tidak saling mengenal, maka terjadi percakapan dan saling berkenalan.

Selain itu, tradisi punutan mengekalkan gotong royong. Sebelum pesta perkawinan atau perayaan Islam, pemuda-pemudi desa berkeliling kampung untuk mengumpulkan talam dan mengambil daun pisang.

"Ada kerja sama dan kekeluargaan. Berbalas budi dengan saling pinjam talam atau nampan," terang Mukhtar yang juga mantan penilik kebudayaan Muarojambi.

Mukhtar belakangan geram dengan masuknya hidangan ala prasmanan ke kampung-kampung. Dia mengaku pernah pulang tanpa sempat makan. Sebab tuan rumah menghidangkan makanan ala prasmanan atau Prancis.

"Kalau tau dengan etika dan adat istiadat. Tuan rumah memakai tradisi punutan, tapi kebanyakan Prasmanan. Ini akan mengikis semangat kebersamaan (punut) dan meninggikan individual (prasmanan). Yang bagus memakai keduanya, punutan untuk tamu dekat dan prasmanan untuk tamu jauh," jelas Mukhtar lagi.

Dengan semakin banyaknya masyarakat memakai hidangan prasmanan, kata Mukhtar bisa saja tradisi punutan menghilang dan tergantikan. Punutan dalam adat, namanya budaya. Prinsip dasar budaya dalam adat; datang dak betanyo, pegi idak beberito.

Sejatinya, cara makan bersama-sama dalam satu wadah tidak dikenal dalam tradisi Nusantara.

Menurut sejarawan Fadly Rahman dalam Rijsttafel: Budaya Kuliner di Indonesia Masa Kolonial 1870-1942, seperti dikutip Historia, pada umumnya kaum bumiputra duduk santai di lantai ketika makan dan mengalasi makanan mereka dengan selembar daun pisang atau piring kayu.

Sebelum makan, tangan kanan dicuci dengan air supaya nasi yang dikepal tak lengket di tangan sehingga mudah disuapkan ke mulut.

“Mencuci tangan dan makan dengan menggunakan tangan kanan adalah penting dalam budaya makan di kalangan pribumi,” tulis Fadly.

Kebiasaan makan seperti itu sudah lama dianut bukan saja oleh orang-orang Nusantara tapi nyaris semua penduduk yang tinggal di kawasan Asia Tenggara.

Prasmanan

Etika makan orang Eropa yang masih terjejaki hingga kini adalah prasmanan. Cara penyajian makanan ala Prancis ini mulai tren di Hindia Belanda pada 1896, saat seorang penulis resep masakan bernama Njonja Johanna menulis buku Boekoe Masakan Baroe yang memuat resep pembuatan berbagai kue dengan “tjara Blanda, Tjina, Djawa dan Prasman.

Hidangan prasmanan. Foto: sukamasak.com

Kata “prasman” mengacu pada cara makan orang “fransman”, sebutan orang Belanda kepada orang Prancis, yang sering menyajikan makanan dengan ditaruh di atas meja.

“Orang-orang Prancis sendiri menyebut cara ini dengan nama buffet,” tulis Suryatini N. Ganie dalam Upaboga di Indonesia.

Istilah buffet sendiri diartikan sebagai meja besar yang ditaruh dekat pintu masuk restoran-restoran. Di atas meja, hidangan disusun para pelayan dengan maksud agar para tamu mendatangi meja tersebut dan memilih sendiri makanan yang diminatinya.

Cara “fransman” ini kemudian diikuti orang-orang Belanda. Menurut Fadly Rahman dalam Jejak Rasa Nusantara, cara ini juga diadopsi orang-orang bumiputra dan cukup diminati hingga kini. Karena kaum bumiputra sulit melafalkannya, cara ini pun disebut “makan prasman” lantas menjadi “makan prasmanan”.

Pengadopsian prasmanan oleh kaum bumiputra, terutama kaum ningratnya, “menghancurkan” secara perlahan tradisi makan cara lama.

Sebelumnya tradisi makan dalam suatu perhelatan diberlakukan dengan konsep selamatan: para tamu dibawakan berbagai sajian untuk disantap bersama dalam masing-masing piring atau wadah lain.

Uniknya, di luar Jawa, prasmanan masih dimaknai bukan bagian dari tradisi makan lokal. Hampir seluruh Sumatra menganggap prasmanan adalah budaya makan orang Barat.

Beragam pengaruh bangsa-bangsa lain memperkaya khazanah seni kuliner Nusantara. Apapun makanannya, disajikan di atas daun atau piring, orang bisa makan sendirian atau bersama-sama, pakai tangan atau sendok dan garpu, dengan cara prasmanan atau selamatan. (Suwandi)