Kumparan Logo
Konten Media Partner

Pegiat Kebudayaan di Jambi Gelar Kegiatan Lestarikan Permainan Tradisional

Jambikita.idverified-green

ยทwaktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Seorang mahasiswi terlihat asyik melompat dari kolom ke kolom engklek. (Foto: M Sobar Alfahri/Jambikita)
zoom-in-whitePerbesar
Seorang mahasiswi terlihat asyik melompat dari kolom ke kolom engklek. (Foto: M Sobar Alfahri/Jambikita)

Jambikita.id - Pegiat kebudayaan yang tergabung dalam komunitas Jejak Kebudayaan Jambi, Batanghari Heritage, dan Svarnadwipa, menggelar kegiatan bertajuk Tour Museum dan Pengenalan Alat Permainan Tradisional. Kegiatan ini diadakan di Museum Siginjei, Jambi, Rabu (23/3).

Para mahasiswa, sarjana Arkeologi Universitas Jambi, dan pengelola museum, terlihat dalam kegiatan itu. Menariknya, turut dihadiri Ketua Tim Penggerak PKK Provinsi Jambi, Hesnidar Haris.

Tidak hanya alatnya saja dikenalkan, sejumlah permainan tradisional, yakni kelereng, gasing, engklek, dan sebagainya, dimainkan langsung di halaman Museum Siginjei. Ini dinikmati para mahasiswa dan Hesnidar.

Sidgi Hamdi anggota Batanghari Heritage, bersama kedua temannya, menikmati permainan kelereng. (Foto: M Sobar Alfahri)

Ferdy Alqosari, salah satu pendiri Jejak Kebudayaan Jambi, menyampaikan kegiatan ini bertujuan mengenalkan permainan tradisional.

Ia mengatakan anak-anak era sekarang sangat bergantung dengan handphone canggih dalam kesehariannya. Tidak heran permainan tradisional tergerus zaman.

"Eksistensi permainan tradisional sudah kurang. Sudah banyak anak yang sudah tidak mengenal lagi permainan tradisional, seperti gasing, engklek, dan lainnya. Karena era digital yang bergantung dengan handphone canggih, anak-anak jarang mengenal permainan tradisional," ujarnya.

Melalui media sosial dan webiste, kata Ferdy, pihaknya mempublikasikan warisan budaya di Jambi, termasuk permainan tradisional tadi.

"Kita menggunakan media yang kita punya, yakni dengan instagram, dan webiste. Kita bakal sosialisasikan dengan platform yang kita punya," tuturnya.

Kegiatan tour Museum Siginjei, Jambi. (Foto: M Sobar Alfahri)

Sidgi Hamdi, anggota Batanghari Heritage, menyampaikan permainan tradisional memiliki nilai sosial. Dengan permainan itu kekompakan anak akan terlatih.

"Meningkatkan kekompakan secara langsung. Memang dengan dunia digital juga melatih kekompakan, tapi tidak langsung. Jadi, sensasinya berbeda," tuturnya.

Ia pun menyampaikan salah satu tujuan kegiatan di Museum Siginjei tadi, yakni meningkatkan kunjungan di museum.

"Seperti yang kita ketahui, kunjungan museum kian menurun. Harapan kami, kegiatan ini membantu museum mendatangkan massa generasi muda," ujarnya.

Seorang pemuda melemparkan batu ke kolom engklek. (Foto: M Sobar Alfahri/Jambikita)

Sementara itu, Hesnidar menyampaikan kegiatan ini merupakan upaya melestarikan permainan tradisional. Generasi muda dapat mengenal warisan kebudayaan tersebut.

"Ini adalah satu cara, kita viral-kan kembali. Sehingga dicontoh anak sekarang. Kita sosialisasikan kepada masyarakat bahwa permainan dengan tim ini sangat baik untuk anak-anak, dari pada memberikan gadget," tuturnya.

Bagi Hesnidar permainan tradisional di masa lampau menjadi kegiatan pemersatu. Karakter anak-anak pun dibentuk melalui kearifan lokal ini.

"Zaman dulu, permainan tradisional menjadi pemersatu di perkampungan. Dengan kegiatan ini permainan tradisional dibangkitkan kembali. Tentu saja permainan tradisional membentuk karakter," pungkasnya.

(M Sobar Alfahri)