Konten dari Pengguna

Menolong dalam Situasi Sulit

Jan Mealino Ekklesia

Jan Mealino Ekklesia

Founder Gramma Nusa. Peneliti Sosial-Politik

·waktu baca 2 menit

comment
14
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Jan Mealino Ekklesia tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi Menolong, Sumber : freepik
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Menolong, Sumber : freepik

Sejak kecil, kita diajarkan mengenai tolong-menolong, di mana hal tersebut sudah lumrah kita ketahui. Unit terkecil yang menjadi objek pertolongan pertama kali ialah keluarga, dilanjutkan dengan menolong di lingkungan sekitar dan sekolah. Bentuk-bentuk pertolongan pun beragam, mulai dari membantu orang tua, mengajari teman yang kesulitan mengerjakan tugas, memberi sedekah, bahkan sampai mengambil bola yang kesasar saat bertanding pun juga dapat disebut menolong. Menolong telah membudaya di Indonesia ini.

Saat kita beranjak dewasa, kita mulai dihadapkan dengan dilema tolong-menolong ini. Kita sudah mulai punya prinsip bahwa kepentingan saya haruslah didahului. Hal ini tentu bertolak belakang dengan konsep tolong-menolong yang cenderung altruistik.

"Bagaimana kita bisa menolong orang lain jika kita sendiri kekurangan?"

Keadaan-keadaan sulit misalnya ketika kita tidak ada uang untuk memberikan uang yang cukup, atau kita tidak dapat memberikan waktu dan tenaga karena habis kesempatan. Bahkan, bisa jadi diri kita "terbengkalai" hanya karena orang lain yang kita tolong.

Ada pepatah yang mengatakan bahwa semakin banyak kita menolong orang, maka semakin banyak pula yang kita terima. Sumber penghasilan atau rezeki bukan hanya didapat sewaktu kita bekerja, tetapi juga didapat saat kita mau untuk menolong orang. Sumber ini yang banyak orang hindari dan acuhkan.

Tuhan melihat hati setiap orang yang tulus. Jadi, jangan takut untuk menolong orang lain, sekalipun diri kita sedang dalam situasi sulit. “Teruslah berbuat baik, karena kebaikan itu menular”