Konten dari Pengguna

Langkah Tegap Menuju Mimpi

Janessa Putri

Janessa Putri

Mahasiswa Farmasi Universitas Islam Indonesia

·waktu baca 7 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Janessa Putri tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Gambar Ilustrasi Sumber: https://chatgpt.com
zoom-in-whitePerbesar
Gambar Ilustrasi Sumber: https://chatgpt.com

Namaku Azalia Deandra Fahira, teman-temanku biasa memanggilku Azalia atau dengan sebutan Zaza. Aku duduk di bangku SMA dan bisa dibilang cukup aktif. Aku tidak menyangkalnya, karena aku memang suka sekali bergerak, berlari, mengatur waktu, dan tentu saja mencari hal-hal yang menurutku menantang. Akan tetapi, di sekolah baruku ini aku mengikuti satu ekstrakurikuler yang bergerak dalam bidang paskibra.

Sejak pengenalan ekstra dulu, aku bergabung dengan ekstrakurikuler paskibra. Bisa dibilang aku jatuh cinta pada ketegasan, kedisiplinan, dan kekompakan dalam baris-berbaris. Bagiku, paskibra bukan hanya soal baris tegap dan langkah kaki yang seirama. Lebih dari itu, paskibra mengajarkanku bagaimana pentingnya kerja sama dalam tim, menghargai proses, dan menjadi lebih kuat baik secara fisik maupun mental. Menginjak usiaku saat ini memang bisa dikatakan aku sebagai anak yang cukup tinggi dan itu menjadi salah satu alasan kenapa aku masuk ke ekstra ini. Akan tetapi, aku tahu tinggi badan bukan segalanya. Di balik seragam yang rapi itu, ada hal yang jauh lebih penting yaitu komitmen dan konsistensi.

Awalnya, kegiatanku di ekstra ini terasa biasa dan cukup monoton. Latihan, sekolah, latihan lagi. Namun, semuanya berubah saat ada pengumuman dari pembina dan pelatih bahwa akan diadakan lomba BB (Baris-berbaris). Perlombaan tingkat kabupaten yang prestisius, tak hanya membawa nama sekolah tetapi membuka peluang ke jenjang yang lebih tinggi. Jadwal ekstra diperbanyak lagi yang semula satu minggu dua kali setelah pengumuman turun diubah menjadi tiga bahkan empat kali. Ternyata ini semua salah satu rangkaian seleksi yang diadakan dari sekolah, bukan hanya dilihat dari gerakan dan fisik, tetapi dari konsistensi dan kegigihan dari setiap anggota. Tiba waktunya di hari pengumuman, papan informasi sekolah yang semula kosong berubah menjadi ramai oleh manusia yang mempunyai tingkat penasaran yang tinggi. Ternyata pengumuman tidak diumumkan secara lisan melainkan lewat informasi yang ada di papan. Perhatianku teralihkan oleh teman-teman yang ada di depan papan.

“Eh maw, liat deh ke arah sana. Itu anak-anak lagi pada ngapain ya, ada info baru apa ya, ko ramai banget?” Ucapku pada teman kelasku yang bernama Alma tapi aku sering memanggilnya dengan sebutan ‘maw’.

“Gatau rame banget, gosip apaan ya kira-kira? Aku jadi kepo.” balasnya sambil tangannya menarik tanganku untuk menuju papan informasi tersebut.

Saking banyaknya manusia di depan papan, aku malas menyerobotnya, alhasil hanya Alma yang melihat dan membaca ke depan dengan perjuangannya sampai rela desak-desakan. Tak lama kemudian, Alma kembali ke belakang dengan senyum bahagia kepadaku dan berkata,

“waahhh gacor banget temen aku yang satu ini” ucap dia sambil menyolek daguku dengan nada tengilnya.

Aku yang tidak tahu apa-apa hanya bingung dengan apa yang dimaksud Alma. Akhirnya aku kepo dan berhasil maju membaca informasi yang ada di papan. Betapa terkejutnya aku, ternyata informasi itu pengumuman daftar siswa-siswi yang lolos untuk mengikuti lomba baris berbaris. Ada 20 anak yang terdaftar di papan, aku membacanya pun sambil menggigit bibir dan detak jantung yang tidak dapat dikontrol. Tiba di urutan no 18 ternyata ada namaku “Azalia Deandra Fahira.” Aku terdiam sejenak, lalu senyumku merekah.Kulanjutkan balik ke kelas bersama Alma, tetapi di tengah jalan tepatnya di depan ruang musik aku berpapasan dengan pembina ku.

“Zalia, kamu ikut ya?” tanya Bu Uun, pembina kami.

Aku tersenyum. “Iya, Bu. Saya siap.”

Dalam hati, aku merasa sedikit gemetar. Meski aku termasuk anak yang cukup aktif tapi lomba adalah hal yang berbeda. Ini bukan sekadar latihan biasa. Ini tentang persaingan, tentang dinilai, tentang memberikan yang terbaik di bawah tekanan.

Kami mulai latihan setiap sore hari setelah pulang sekolah dan memulai dispen setelah satu minggu pengumuman diumumkan. Panas matahari sudah menjadi teman akrab kami, keringat bukan lagi sesuatu yang membuat risih. Bahkan, rasa lelah pun seakan tak terasa jika bersama teman-teman yang mempunyai semangat dan tujuan sama. Aku ingat, suatu hari kami latihan hampir maghrib. Langit sudah mulai gelap tapi kami belum ingin pulang. Waktu itu aku dan teman-teman duduk melingkar di tengah lapangan, masih dengan seragam yang basah oleh keringat.

“Kalau kita gabisa kaya kakak kelas dulu pulang membawa piala dan membawa kabar gembira untuk warga sekolah, kalian kecewa ga?” tanya salah satu temanku dengan nada yang lumayan pelan.

Kami semua diam dan berpikir, lalu aku menjawab “Kalo aku pribadi, kecewa pasti. Tapi aku nggak mau menyesal karena tidak berusaha”

Semua terdiam, dan saat itu aku tahu. Apapun hasilnya nanti, aku akan tetap bangga karena pernah mencoba dan menjadi bagian dari proses ini.

Latihan semakin intensif, kami tidak hanya belajar mengenai teknik baris berbaris yang benar, tapi justru disini kami belajar apa arti penting dari kekompakan, kebersamaan, tanggung jawab, etika, bahkan cara bersikap di depan juri. Hari demi hari yang kita lalui terasa padat tapi justru menyenangkan. Kami mulai merasa seperti keluarga. Makan bersama sampai berebut lauk dari bekal yang kita bawa, menyemir sepatu, menyetrika baju, bahkan tidur-tiduran di lapangan hijau sudah menjadi kebiasaan kami.

Kami sering bercanda, “Kalau nanti juara dan pulang bawa piala, kita bikin tumpeng di rumah Nara ya!” Itulah celotehan yang sering kami lontarkan.

Bagi kami rumah Nara adalah markas kedua setelah sekolah, selain yang paling dekat dengan sekolah, rumahnya memiliki parkiran yang luas dan strategis. Hampir setiap selesai latihan kita selalu singgah di rumah Nara.

Hari perlombaan tiba, dan kami belum beruntung, kami kalah. Ada yang menangis, ada yang terdiam. Aku sendiri hanya duduk diam sambil menatap langit sore. Rasanya hari itu aku ingin menangis, tetapi aku tidak mau membuat teman-temanku semakin sedih karena semua menangis. Aku berusaha tegar dan menguatkan teman-teman yang lain.

“Ternyata belum rezeki kita tapi kita sudah memberikan yang terbaik” kataku pelan dan yang lain mengangguk.

Kami belajar satu hal penting pada hari itu. Kegagalan bukan menandakan akhir dari segalanya. Justru dari kegagalan inilah kami bisa mengukur seberapa besar tekad kami untuk bangkit kembali.

Setelah kejadian ini, kami semua tidak menyerah. Kami terus bangkit dan semangat untuk latihan. Bahkan, kita selalu mentargetkan progres yang harus kita lakukan setiap minggunya.

Sekitar kurang lebih dua bulan kemudian, datang kabar kepada kami yang sedang istirahat di sela-sela latihan bahwa akan ada lomba lagi, masih tentang baris berbaris, tapi kali ini skalanya lebih besar tingkat karsidenan. Kami dan sekolah sepakat untuk tidak menyia-nyiakan kesempatan. Tim dibentuk kembali dan seleksi pun dilakukan dari awal. Alhamdulillah, aku terpilih lagi. Bersama dua puluh teman lainnya, kami berlatih lebih keras dari sebelumnya. Cuaca yang tak menentu panas, hujan, kadang angin kencang tidak menghalangi langkah kami. Pembina dan pelatih pun makin ketat melatih, sampai kalau hujan turun kita tetap latihan di dalam ruangan. Kami tak pernah merasa tertekan ataupun sendirian, karena disini kita saling menguatkan satu sama lain.

“Aku bisa, semua orang berhak mendapatkan apa yang mereka inginkan. Asalkan tidak lupa untuk berdoa dan berusaha. Semangat aku pasti bisa!.” Itu mantra yang sering aku ucapkan berulang kali pada diriku sendiri dalam setiap kali tubuh ini mulai lelah, pikiran goyah, dan rasa ingin menyerah.

Hingga akhirnya, hari perlombaan tiba. Dua hari penuh yang menegangkan terulang kembali. Kami melangkah ke arena lomba dengan kepala tegak. Aku bisa merasakan degup jantungku sampai ke telinga. Semangat yang membara dalam dada yang tidak mau kalah dengan rasa gugup ku ini.

Saat lomba telah usai, kami menunggu pengumuman dengan perasaan tak karuan. Makan pun berasa tak selera yang ada hanyalah perasaan gelisah.

Setelah selesai istirahat, tibalah waktu yang dinanti oleh semua orang yaitu ‘pengumuman’. Kami kembali ke arena lomba dengan penuh harap semoga apa yang telah kita usahakan, hasilnya memuaskan.

Pada saat ini kami tidak berharap lebih. Aku hanya ingin satu, apapun hasilnya semoga memang itu yang terbaik untuk kami.

Juri membacakan satu persatu berurutan dari juara harapan 3 sampai juara pertama.

“Juara satu... No undi...” Kami menghela napas

“... delapan yang diwakili oleh Tim dari SMA Abditama”

Kami saling berpelukan. Tangis haru, senyum bahagia, dan rasa bangga tumpah jadi satu. Aku bahkan tidak bisa berkata apa-apa, hanya menatap teman-temanku dengan perasaan senang dengan mata yang berkaca-kaca.

Kami berhasil.

Dari sini, aku belajar satu hal besar: Proses tidak akan mengkhianati hasil. Awalnya mungkin tidak selalu sesuai dengan apa yang kita harapkan tapi setiap usaha pasti ada jalannya. Kadang perlahan, kadang melelahkan, tetapi semua itu membentuk kita jadi lebih kuat. erus berjalan karena berhenti berarti menyerah, dan menyerah bukan pilihan bagi mereka yang percaya pada mimpi dan kerja kerasnya.