Jangan Menyerah di Titik Terberatmu

Mahasiswa Magister Ekonomi Islam Ketua DPW Partai Gelora Sulawesi Tengah
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari Sudarsono tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Hubungan dengan Allah bukan untuk menghilangkan kesulitan itu, tapi menjaga mental kita tetap tegar ketika berada pada titik krusial
Kehidupan manusia memang tidak pernah lepas dari kesulitan. Allah berfirman
لَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ فِي كَبَدٍ
“Sungguh, Kami benar-benar telah menciptakan manusia dalam keadaan susah payah.” (QS. Al-Balad: 4)
Kata kabad berasal dari akar kata ka-ba-da (ك-ب-د). Ketika di baca kabid (كَبِد) berarti hati (liver). Jika di baca kabad (كَبَد) susatu yang berat, menekan, bahkan seperti “penyakit” yang dirasakan di dalam hati. Seolah ingin menggambarkan bahwa kesulitan hidup itu bukan hanya tampak di luar, tetapi juga dirasakan dalam batin manusia.
Setiap manusia selalu berada kondisi yang sulit. Punya beban berat. Itu dilaluinya sejak ia lahir di dunia hingga menhadapi kematian. Kadang Fisik yang melelahkan. Kadang Fikiran yang menumpuk. Kadang Emosi yang meluap.
Allah memang mendesain kehidupan ini dengan dinamika seperti itu. Ujian kesehatan, finansial, dan mental terus berseliweran dalam hidup manusia. Namun sering kali kita menyederhanakan cara pandang terhadap kesulitan. Kita melihat orang lain dan berkata, “hidup mereka lebih mudah daripada saya.” Padahal kenyataannya tidak sesederhana itu. Kita tidak pernah benar-benar tahu beban apa yang mereka tanggung.
Lihatlah Fir’aun. Dia memiliki kekuasaan, harta, dan pasukan yang besar. Sekilas hidupnya tampak sempurna. Namun Al-Qur’an menggambarkan sisi lain kehidupannya, dia hidup dalam ketakutan, maa kanuu yahzanun (Q.S Alqasas: 6). Ketakutan itu bahkan hadir dalam mimpi-mimpinya. Secara lahir ia kuat, tetapi secara batin dia rapuh.
Di sinilah kita memahami bahwa kesulitan manusia tidak selalu sama bentuknya. Ada yang diuji dari fisiknya, ada yang diuji dari pikirannya, ada pula yang diuji dari emosinya.
Orang yang memiliki harta bisa diuji dengan hilangnya ketenangan. Orang yang sehat fisiknya bisa diuji dengan sakit mentalnya. Setiap orang sedang berjuang dengan kesulitannya masing-masing.
Bukan berarti orang beriman tidak mendapat masalah kehidupan, kondisi kesulitan dirasakan oleh semua orang dengan bentuk yang berbeda-beda. Bukan hanya kita, Bahkan orang-orang saleh terdahulu bahkan para nabi juga merasakannya. Bagaimana ibu Nabi Musa harus hidup dalam ketakutan dan kecemasan. Bagaimana Nabi Ya’qub larut dalam kesedihan yang panjang karena kehilangan Yusuf, lalu disusul kehilangan Bunyamin. Bagaimana Maryam menghadapi ujian yang menguras emosi secara mendalam.
Dari sini kita belajar satu hal penting, hubungan manusia dengan Allah bukan untuk menyelesaikan permasalahan hidup, tetapi untuk menjadikan kita kuat dan positive thinking dalam menghadapinya.
Setiap kesulitan akan melahirkan dua hal, ketakutan dan kesedihan. Ketakutan berkaitan dengan masa depan. Apa yang akan terjadi nanti? Sedangkan kesedihan berkaitan dengan masa lalu. Mengapa ini terjadi?
Allah memberikan panduan kepada Adam ketika hendak diturunkan ke bumi dan menghadapi dua hal, faman tabi’a hudaya fala khaufun alaihim walahum yahzanun. Siapa yang mengikuti petunjuk, maka dia tidak akan takut dan bersedih. Dia bisa mengontrol rasa takut dan sedih yang akan menimpa. Artinya, petunjuk Allah tidak selalu menghilangkan masalah, tetapi mengendalikan rasa takut dan sedih yang muncul dari masalah itu.
Apa yang diharap dari hubungan manusia dengan Allah dari setiap kesulitan?
Kita mampu dan kuat menghadapi kesulitan itu. Dalam contoh, ketika kita menghadapi badai, bukan berarti badai itu hilang tiba-tiba. Tapi kita diberikan kekuatan, kekokohan dan ketegaran menghadapi badai.
Inilah yang menjadi solusi dalam menghadapi kesulitan. Karena puncak dari sebuah kesulitan dapat membuat keputusasaan. Puncak keputusasaan adalah mengakhiri kehidupan. Itu masalahnya. Itu kekawatirannya.
Padahal kita tidak tau apa yang akan terjadi setelah kesulitan itu hadir. Yang kita tau kita berada pada puncak kesulitan. Kita tidak melihat bahwa kesulitan akan menurun, bahkan menghilang. Ketika kita berada di puncak, tanpa memiliki hubungan kepada Allah, maka kita akan putus asa.
Kita bisa melihat bagaimana ibu Musa menghadapi kenyataan, bahwa Firaun akan membunuh anaknya. Itu belum puncak. Puncaknya ketika dia melempar anaknya (فَأَلْقِيهِ فِي الْيَمِّ) ke dalam sungai. Puncak ketakutannya ada pada bayangan, bagaimana kalau keranjang terbalik, menghantam batu, atau bayinya tenggelam. Inilah puncak kesulitan. Jikalau ibu Musa putus asa, maka dia tidak akan tau apa yang akan terjadi setelah puncak kesulitan itu.
Puncak kesulitan-keputusasaan, tidak memiliki jeda. Disitulah fase paling kritis (critical point) dalam setiap kesulitan hidup yang dihadapi manusia. Orang-orang yang mengakhiri hidupnya, adalah gagal dalam melewati titik krusial ini yaitu pertemuan antara puncak kesulitan dan keputusasaan.
Disitulah ruang connecting to Allah bekerja. Keyakinan kita kepada Allah akan membuat kita menghadapi critical point tadi dengan ketenangan. Karena kita yakin, bahwa setiap kesulitan ada kesudahaannya. Bahkan ujung dari kesulitan adalah kesedihan, kita tau. Kesedihan adalah manusiawi. Itu yang terjadi kepada Ya’kub. Menjalani kesedihan bertahun-tahun, hingga dikatakan وَابْيَضَّتْ عَيْنَاهُ مِنَ الْحُزْنِ “matanya menjadi putih karena sedih”
Kesadaran bahwa kesulitan adalah bagian dari desain kehidupan (fii kabad) membuat kita lebih siap. Kita tidak kaget ketika ujian datang. Yang menjadi pembeda bukan ada atau tidaknya kesulitan, tetapi bagaimana sikap kita menghadapinya, dengan optimisme atau keputusasaan.
Hingga akhirnya kita berlabuh dalam firman Allah:
اِنَّ الَّذِيْنَ قَالُوْا رَبُّنَا اللّٰهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوْا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلٰۤىِٕكَةُ اَلَّا تَخَافُوْا وَلَا تَحْزَنُوْا ...
“Sesungguhnya orang-orang yang berkata, “Tuhan kami adalah Allah,” kemudian tetap (dalam pendiriannya), akan turun malaikat-malaikat kepada mereka (seraya berkata), “Janganlah kamu takut dan bersedih...” QS. Fussilat: 30
Orang-orang yang menyatakan keimanan mereka. Menyatakan bahwa Allah Tuhan yang menciptakan, memelihara, dan menjaga kelangsungan hidup, memberi rezeki, dan yang berhak disembah, hanyalah Dia, kemudian mereka meneguhkan deklarasi itu. Ketika goyah, mereka kembali lagi untuk tegak. Maka kemudian malaikat datang untuk mendampingi dan menghibur mereka di masa-masa sulit. Malaikat menghalau godaan setan/iblis di fase paling kritis (critical point).
Pada akhirnya, hidup manusia memang akan selalu diwarnai kesulitan, ketakutan, dan kesedihan. Itulah rumus penciptaan manusia, fii kabad. Setiap orang mengalaminya dalam bentuk yang berbeda, fisiknya, pikirannya, maupun emosinya.
Setiap kesulitan akan mencapai puncaknya, itulah fase paling kritis (critical point). Titik puncak itu akan bersanding dengan keputusasaan. Hubungan dengan Allah bukan untuk menghilangkan kesulitan itu, tapi menjaga mental kita tetap tegar ketika berada pada titik krusial. Karena setelah itu kesulitan akan menuju ujungnya, yaitu kesudahan.
