Konten dari Pengguna

GMNI: Dari Persatuan Menuju Perpecahan Yang Menyakitkan

Janni Bahira Akbar

Janni Bahira Akbar

Peneliti Data Digital

·waktu baca 5 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Janni Bahira Akbar tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Tahun 2025 bisa dianggap sebagai hari raya kader-kader GMNI, sebab setelah 6 tahun lamanya menunggu, akhirnya Kongres GMNI kembali dilaksanakan, tapi apakah hal tersebut benar-benar menjadi kemenangan setiap kader GMNI atau malah sebaliknya? Mari kita sebagai kader pejuang pemikir, pemikir pejuang merefleksikan secara bersama-sama bagaimana kondisi tubuh organisasi yang kita cintai pada hari ini.

Kongres GMNI ke-22 yang diselenggarakan di Kota Bandung, telah menghadirkan kenyataan pahit yang sangat jauh dari harapan kita semua sebagai anak ideologis Bung Karno. Organisasi yang dulunya lahir dari semangat persatuan tiga gerakan mahasiswa pada 1954, kini terbelah menjadi tiga poros ego: Arjuna-Dendy, Risyad-Patra, dan Soejahri-Amir.

Keputusan untuk menunda kongres selama enam tahun, yang katanya demi mencapai persatuan, malah berakhir dengan perpecahan yang semakin mendalam. Sehingga, bisa dikatakan bahwa, harapan yang dulu dibangun dengan begitu banyak cita-cita besar, dan kini terancam hancur oleh ketidakmampuan kita semua menjaga persatuan, itu adalah GMNI.

Ini bukan sekadar soal perbedaan pendapat atau cara pandang, ini adalah tentang bagaimana sebuah organisasi besar yang pernah menjadi simbol persatuan dan harapan bangsa, kini terpecah hanya karena ambisi dan kebutaan semangat yang berlarut-larut. Harapan yang selalu kita gandrungkan pada persatuan kini tergerus oleh realitas yang jauh lebih menyakitkan. Di sinilah kita bertanya, apa yang sebenarnya hilang? Apa yang menyebabkan semangat kebersamaan yang pernah menguatkan kita kini berubah menjadi sekat pemisah yang semakin tebal?

“Berjuanglah dalam persatuan, berperanglah dalam kesatuan, karena itu adalah kunci untuk meraih kemenangan!” - Bung Karno

Bung Karno adalah tokoh yang tak bisa dipisahkan dari sejarah GMNI, Bung Karno telah dan selalu mengingatkan kita bahwa persatuan adalah kekuatan yang paling mendasar dalam perjuangan. Tanpa persatuan, semua impian dan cita-cita besar yang kita miliki akan mudah patah. Seringkali kita gaungkan kata pemersatu kita semua, "merdeka, jaya, menang" namun, apa yang kita lihat sekarang? Perpecahan yang terjadi bukan hanya tentang siapa yang memimpin, tetapi tentang hilangnya semangat kolektif yang dulunya menjadi fondasi organisasi ini. Jika kita terus berjuang dalam perpecahan, tentu kita akan semakin kehilangan arah. GMNI akan menjadi sebuah organisasi yang terputus dari akar perjuangannya, hanya karena hilang dalam perebutan kekuasaan yang tidak berarti apa-apa bagi keadaan yang seharusnya GMNI perjuangkan.

Para kader, senior, dan alumni, kita adalah saksi hidup dari perjalanan panjang GMNI pada era nya masing-masing. Meski kita berasal dari masa waktu yang berbeda tapi tentu kita semua sama-sama mengetahui betul betapa sulitnya menciptakan organisasi yang kokoh dan penuh makna. Kita tahu betul bahwa darah, keringat, dan air mata telah tercurah untuk membangun GMNI sebagai simbol persatuan dan perjuangan mahasiswa. Namun, apa yang terjadi sekarang? Apakah kita begitu mudah melupakan kisah itu? Apakah kita terlalu sibuk dengan perbedaan pribadi yang tidak pernah menjadi bagian dari tujuan utama GMNI?

Sebagai generasi yang melanjutkan, kita harus bertanya pada diri kita sendiri, apakah kita sudah menunaikan amanat para pendiri GMNI dengan sebaik-baiknya? Jangan biarkan kebesaran organisasi ini terkubur hanya karena ketidakmampuan kita untuk menjaga persatuan. Kita harus kembali menata langkah, kembali kepada semangat kebersamaan yang pernah menyatukan kita. Tidak ada kemenangan dalam perpecahan, yang ada hanya kekalahan di setiap ujungnya.

“Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai sejarahnya, dan menghargai perjuangannya.” - Bung Karno

Kutipan ini memaksa kita untuk merenung lebih dalam. Namun, apakah kita sudah menghargai perjuangan yang telah membentuk kita? Apakah kita sudah cukup merenung untuk menyadari bahwa perpecahan ini adalah bentuk penghinaan terhadap darah dan keringat yang telah dicurahkan para pendiri kita? GMNI bukanlah organisasi yang berdiri hanya untuk kepentingan sesaat. GMNI lahir dari perjuangan, dari sebuah sejarah yang penuh pengorbanan, dan dari cita-cita besar yang ingin membawa perubahan bagi bangsa ini. Kita semua adalah bagian dari sejarah itu, dan kita memiliki tanggung jawab untuk menjaga sejarah itu tetap hidup sekuat-kuatnya dan selamanya.

GMNI tidak akan pernah menjadi besar jika kita tidak mampu menghargai apa yang telah diperjuangkan oleh mereka yang datang sebelum kita. Kita tidak bisa mengabaikan sejarah kita hanya karena perbedaan yang sementara. Kita tidak bisa membiarkan ego pribadi atau kelompok, merusak apa yang telah dibangun oleh ribuan tangan yang penuh niat baik dan pengorbanan. GMNI adalah kita, kita yang harus menjaga dan meneruskan perjuangan ini.

Mimpi Untuk GMNI

Mimpi untuk GMNI belum berakhir. Meskipun perpecahan ini menyakitkan, kita masih memiliki kesempatan untuk memperbaikinya. Namun, untuk itu, kita harus menumbuhkan semangat persatuan yang sudah lama hilang. Mungkin saat ini kita sedang ditontonkan dengan perpecahan DPP, tetapi itu bukanlah akhir dari segalanya. Kita masih bisa kembali kepada tujuan awal pendirian GMNI, untuk menjadi wadah yang memperjuangkan rakyat dan mencetak pemimpin-pemimpin yang berintegritas.

Kami meminta seluruh kader, senior, dan alumni untuk bersama-sama merefleksikan kembali langkah kita. Jangan biarkan GMNI mati karena kita tidak mampu mengesampingkan perbedaan pribadi dan kelompok. Mari kita bersatu, kembali ke akar perjuangan kita, dan membangun kembali GMNI sebagai simbol persatuan dan kekuatan bangsa Indonesia. Karena hanya dengan persatuan kita bisa mencapai kemenangan, dan hanya dengan menghargai sejarah kita bisa mengukir masa depan yang lebih cerah.

Jika kita terus terpecah, jika kita tidak bisa menahan ego masing-masing, maka kita hanya akan menjadi saksi dari kehancuran sebuah organisasi besar yang dulu menjadi harapan bangsa ini. Tetapi, jika kita bersatu, kita bisa menjadi kekuatan besar yang membawa perubahan nyata untuk masyarakat, untuk bangsa, dan untuk generasi mendatang. Inilah saatnya untuk bangkit. Bersatu kita teguh, berpecah kita hilang arah.

Bendera GMNI dibentangkan. Sumber: Dokumentasi Pribadi.